
Aini melihat suaminya diam justru membuat dia semakin menahan tawanya. Bisa-bisanya ditempat seperti ini ada pengunjung seperti itu. Alias orang tidak waras.
Aini mendekati suaminya dan mencolek bahunya untuk melihat ke arah samping.
"Astaghfirullah!"
"Serius banget sampai-sampai ada wanita cantik disamping tidak menyadari," ucap Aini dengan cekikikan. Al sontak langsung bangkit dan mengambil tas punggungnya yang berisi perlengkapan presentasi tadi. Wanita itu memandangi Al dengan takjub sebentar kemudian tertawa sendiri dan berlari meninggalkan Aini dan Al.
"Bahagia ya, Ai. Melihat suamimu menderita,"
"Sayang, aku tidak melihat suamiku menderita tadi tuh. Malah asyik dengan ponselnya. Memangnya kamu sadar tadi, pffff ... " Aini tidak tahan menahan tawanya, terpingkal-pingkal tanpa bersuara.
"Sayang, istighfar ... " ucap Al sambil terus menggandeng istrinya berjalan menuju Timezone.
"Mau minum dulu? Makanya tertawa nggak boleh berlebihan, batuk kan?" ucap Al sambil menyodorkan minum yang di ambil dari tas ranselnya. Minuman tadi sudah dibawa wanita kurang waras.
"Terimakasih, Mas,"
"Ai, Mas lagi berfikir bagaimana kalau kita bereksperimen membuat dawet instan,"
"Boleh juga, yang penting manajemen buat tempe dan sule sudah oke. Pegang orang kepercayaan untuk mengelola keduanya, lantas Mas pegang usaha barunya,"
"Sebaiknya kita datangkan orang kampung kita untuk dawetnya atau bagaimana, Ai?"
"Terlalu beresiko, Mas. Mending kita rekrut orang yang tinggal disini saja. Yang namanya bekerja tentu ada yang tidak betah misal baru 2 Minggu sudah pengin pulang, kalau orang dari kampung kita ongkos butuh banyak,"
"Kelebihan jika dari kampung sudah tau cita rasa khas, Ai,"
"Mas, aku rasa disini juga banyak orang asli dari kota kota lahir. Kita buat saja pengumuman nantinya,"
Obrolan dua sejoli itu tak pernah putus, Aini sudah melupakan marahnya dengan suaminya. Dia mengingat nasihat dari Lina.
Aini melihat anaknya yang sangat ceria bermain bersama Omnya. Lina tampak duduk sendiri sembari melihat suami dan keponakannya.
"He ... Lin, aku lapar banget. Yuk ajak Alia mengakhiri permainannya,"
"Baru saja main yang itu, Mba. Aku juga sudah lapar, tunggu 5 menit lagi, Mba duduk dulu,"
"Mas, duduk juga sini,"
"Bagaimana urusannya, Mas? Berhasil?" tanya Lina penasaran.
__ADS_1
"Coba tebak, kira-kira kakakmu ini meyakinkan tidak menjadi selles susu kedelai?"
"Jelas meyakinkan lah, jelas-jelas kamu bosnya, Mas,"
"Justru orangnya bilang tadi suatu kehormatan aku bisa terjun langsung kesini, jika yang kesini bagian pemasaran belum tentu di terima. Mengingat ini adalah industri rumahan, belum meyakinkan secara nama, berbeda dengan minuman yang sudah biasa beredar di iklan tv tentunya. Mereka sudah berskala besar dan ternama,"
"Ada keinginan membuat pabrik seperti mereka yang sudah terkenal seantero negeri?"
"Tentu saja, tapi semua butuh proses. Dengan seperti ini saja sudah sangat bersyukur, bisa bertahan di tanah rantau tanpa harus kekurangan. Allah sudah mencukupi semua kebutuhan keluarga,"
"Mas, dengan merancang sebuah pabrik nantinya akan semakin bermanfaat bagi masyarakat, Mas. Cita-cita yang sangat mulia bukan?"
"Ayah, lapar,"
"Ayok kita makan, mainnya lama ya, Dek,"
"Uuh ... seru main sama Om Izal,"
"Capek Om, Dek. Alia kalau main lincah banget, dulu padahal Om paling jago,"
"Om, sekarang yang penting jago nyenengin istri," ucap Aini ikut panggil Om seperti anaknya.
"Curhat!" ucap Lina sewot.
"Tuh marah kan? Gitu saja marah, neng," ucap Izal sambil mencubit hidung istrinya.
"Sakit, Bang!"
"Sayang, sini diobatin," ucap Izal jail.
"Ogah!"
Izal terus usil sama istrinya sepanjang perjalanan menuju kafe. Begitu juga dengan Al dan Aini, yang paling heboh itu Alia saking bahagianya terus berlarian mondar mandir didepan keempat orang dewasa. Pandangan Lia bertabrakan dengan seorang wanita hamil di depannya, wanita itu tersenyum. Penampilan sangat berubah dari pertemuannya tiga bulan yang lalu. Perutnya sudah nampak membuncit, dan rambutnya sudah di balut dengan jilbab pasmina begitu cantik. Aura kecantikan wanita hamilnya sangat terlihat, disampingnya seorang pemuda sepantaran suaminya. Berjalan bergandengan dengan senyum merekah.
"Lina, Izal,"
"Virna, MasyaAllah cantik sekali," perasaan yang dulunya tidak suka menguap begitu saja melihat perubahan pada diri mantan pacar suaminya. Keduanya bersalaman dengan hangat, Aini, Alia juga disalami oleh Virna.
"Ya Allah, bahagianya bisa bertemu kalian," ucap Virna tulus.
"Sudah berapa bulan baby? Benar kata orang, wanita hamil itu semakin cantik," ucap Lina dengan pujian tulusnya.
__ADS_1
"Bisa aja, kamu. Kalian mau kemana?"
"Kami mau makan, mendekati jam makan siang. Perut sudah meronta-ronta,"
Izal hanya mengamati keempat wanita itu dari jauh, dia ikut bahagia melihat Lina tak ada dendam kepada Virna.
"Zal, kalian sudah menikah?"
"Alhamdulillah sudah, belum lama, Bro,"
"Aku minta maaf, atas kejadian dimasa lalu, Zal,"
"Aku sudah memaafkan kalian sejak dulu, lagian tidak baik menyimpan dendam. Justru akan menggerogoti diri sendiri. Kita mau makan, sekalian ikut yuk,"
"Bolehlah, palingan Virna juga sudah lapar. Wanita hamil kerjanya makan terus, bentar-bentar lapar,"
"Aku senang melihat perubahannya, kamu sangat pas menjadi pawangnya," ucap Al sambil terbahak.
"Sudah ketemu kuncinya, Zal. Jadi sekarang jinak,"
Ketiga pasangan tersebut duduk di 2 meja terpisah, laki-laki dan perempuan terpisah agar lebih nyaman.
"Lin, maafkan aku ya. Aku malu sebenarnya ketemu sama kalian,"
"Lupakan, Virna. Manusia tidak ada yang sempurna. Saya lebih memiliki banyak kekurangan, hanya saja Allah turun tangan menyembunyikan aibku," ucap Lina sambil terkekeh.
"Kamu memang benar-benar cocok menjadi pasangan Izal. Hati kamu sangat tulus, Lin," pujian tulus lolos dari bibir Virna. Virna sangat kagum dengan sosok Lina, dulu awalnya sangat membenci Lina. Namun dengan telaten suaminya memberi pengertian kenapa Izal membencinya, menyadarkan kesalahan mereka. Izal dan keluarganya sudah cukup berbaik hati melihat penghianatan mereka. Akhirnya Virna perlahan pola pikirnya berubah. Ditambah dia sedang mengandung tentu tidak mau nantinya anaknya tumbuh menjadi anak yang tidak baik karena terlahir dari seorang ibu yang jahat. Dia perlahan memperbaiki diri dan belajar menghargai diri sendiri dan cara pandang.
"Jangan berlebihan kalau memuji, nanti aku besar kepala, Vir. Kandungan kamu sudah usia berapa bulan?"
"Sudah 5 bulan, Lin," ucap Virna sambil mengelus perutnya.
Aini terdiam tidak ikut pembicaraan mereka, dia mengurus anaknya yang lagi rusuh. Karena dia terpisah dengan Om dan Ayahnya.
"Mudah-mudahan lancar lahirannya, ibu dan bayinya sehat," doa tulus Lina. Awalnya dia mau bilang kabar-kabar jika sudah lahiran namun diurungkan. Mengingat dia adalah mantan, jadi tak akan menjalin hubungan terlalu dekat.
"Aamiin,"
Masih ada sedikit yang mengganjal bagi Lina, Virna pandangannya masih sering mengarah ke Izal. Lina sangat risih meskipun Virna sudah banyak berubah tapi tetap saja tidak suka.
"Hem ... Virna, aku mau bertanya satu hal. Maaf jika ini menyinggung nantinya, aku hanya ingin memastikan," ucap Lina ragu.
__ADS_1