
"Apa tidak ada alternatif lain selain operasi Dok?" tanya Hariz setelah sekian menit terpaku.
Dokter berjanggut lebat dan panjang itu menatap gamang ke arah sepasang suami istri yang kini sedang duduk berhadapan ya dengannya secara bergantian. Sorot mata sang dokter menyiratkan seolah ikut mengkhawatirkan dengan keadaan buah hati Hariz dan Dhena saat ini.
"Gak ada, Pak, kalau tidak dilakukan operasi, penderita hisprung harus terus menerus mengkonsumsi obat pencahar seumur hidup, karena ada sebagian usus besar yang sarafnya tidak berfungsi, mengakibatkan tidak ada rangsangan untuk buang air besar, menyebabkan penumpukan feses di dalam, maka harus dilakukan operasi. Dengan cara pemotongan sebagian usus besar yang sarafnya tidak berfungsi dan menarik usus lainnya yang masih berfungsi ke arah anus," papar dokter spesialis bedah anak itu dengan sangat panjang lebar.
Nyeri dan perih menyelimuti hati dan perasaan Dhena mendengar penjelasan dokter barusan. Kedua bola matanya mulai mengembun, ia seperti tidak sanggup lagi menguasai rasa sesak dalam dadanya.
Cobaan dan ujian seolah tanpa jeda menghampiri hidupnya semenjak dari awal pernikahan hingga kini ia sudah memiliki dua buah hati. Tapi, semua itu tak mengurangi rasa syukurnya kepada Sang Maha Penggenggam Takdir karena Dhena yakin di luaran sana masih banyak orang-orang dengan ujian dan cobaan yang jauh lebih berat dari dirinya. Wanita berusia tiga puluh tahun itu pun sangat yakin jika Yang Maha Kuasa memberikan ujian kepada setiap hambanya pasti akan sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Begitupun dengan dirinya. Diberi cobaan seperti ini Dhena meyakinkan dirinya sendiri jika ia akan mampu melaluinya dengan penuh rasa sabar dan ikhlas disertai tawakal, berserah diri kepada Robbnya dengan disertai ikhtiar maksimal yang sesuai dengan kemampuannya.
Hariz menggenggam jemari sang istri seolah ingin menyalurkan kekuatan dan meyakinkan wanitanya itu jika sang buah hati mereka akan baik-baik saja.
"Saya akan coba pertimbangkan dan musyawarah terlebih dulu nanti dengan istri saya di rumah, Dok," jawab Hariz kemudian. Berusaha memantapkan hati yang sebenarnya sedang dilanda risau sama seperti Dhena.
"Nggih, monggo, tapi lebih cepat lebih baik, karena kalau usia anaknya sudah setahun maka harus dilakukan pembedahan di bagian perut. Jika masih kurang dari satu tahun bisa melalui bagian anus," pungkas dokter berkaca mata itu mencoba memperingatkan.
"Nggih, Pak Dokter. Terima kasih banyak atas saran dan arahannya. Hariz berkata sambil menangkupkan kedua belah telapak tangannya persis di depan dada.
Dengan perasaan gamang pasangan suami istri dengan kedua buah hatinya itu meninggalkan halaman rumah sakit. Membawa hati yang gundah gulana setelah mengetahui jika kini putra kedua mereka sedang tidak baik-baik saja dan butuh penanganan sesegera mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk dan sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
***
"Ayah, aku senang kalau tiap hari bisa pergi ke rumah sakit seperti tadi," ucap Fathan ketika mereka baru saja tiba di rumah tempat tinggal mereka.
"Lha, kenapa emang?" Hariz mengernyitkan dahi. Kedua alis tebalnya saling bertaut.
"Karena kalau sedang di rumah sakit aku bisa menikmati berbagai macam permainan. Ada perosotan, ayunan, jungkitan dan rumah-rumahan gitu," ungkapnya polos. Karena memang saat dirinya diajak ke bagian poli anak tadi di sana disediakan berbagai macam alat permainan untuk usia batita dan balita yang terbuat dari pelastik berukuran tebal dan misa menampung beban berat badan anak-anak.
Mungkin karena bocah berusia lima tahun itu sangat jarang diajak ke tempat hiburan atau sekadar pelesir ke tempat wisata terdekat oleh kedua orang tuanya karena memang keadaannya yang belum mendukung, hingga anak itu begitu antusias dan merasa sangat bahagia walau hanya dirinya diajak ke rumah sakit yang menyediakan banyak tempat permainan.
"Kita coba cari alternatif lain dulu. Jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk operasi," saran Hariz tatkala mereka berembuk mencari jalan keluar. Sambil menikmati secangkir kopi hitam dan pisang goreng di ruang tengah tempat berkumpul saat mengisi waktu dengan semua anggota keluarga. Sedangkan Reza dan kakaknya sedang tertidur pulas di kamar.
Dalam kegundahan dan kebimbangan. Dhena mencari ketenangan dengan berpasrah diri kepada-Nya. Sembari bermunajat pada Sang Maha Pengatur Segala-Nya.
Dalam setiap sujud panjangnya ia berdo'a. Memohon dan berharap ada keajaiban dan kesembuhan untuk Reza tanpa harus menjalani operasi. Dan kebaikan lainnya untuk keluarga kecilnya.
Karena di samping hati yang tidak tega, juga keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan itu. Jangankan untuk biaya operasi yang pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit, sudah bisa menutup kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah sangat bersyukur, walaupun harus gali lobang tutup lobang ke sana kemari demi untuk memenuhi keperluan pokok.
***
"Mas, Alhamdulillah sekarang Reza sudah bisa pup spontan tiap hari, setelah aku rutin kasih bubur tepung sagu yang dapat ngasih teman Mas itu," tutur Dhena pada sang suami saat mereka sedang duduk di teras depan. Hariz memang sempat diberi saran dan sekaligus dikasih berupa tepung sagu itu oleh salah satu rekan kerja wanitanya ketika ia menceritakan soal keadaan putra keduanya itu kepada sesama teman sejawatnya di tempat kerja berharap mendapat solusi dan jalan keluar untuk kesembuhan sang buah hatinya.
__ADS_1
"Beneran?" tanya suaminya setengah tak percaya.
"Untuk memastikannya, kita harus bawa Reza ke rumah sakit untuk diperiksa ulang dan konsultasi lagi sama dokter," saran Hariz.
"Iya, Mas."
'Ya Allah, begitu banyak nikmat dan pertolongan-Mu yang telah Kau berikan kepada kami, malu dan rugi rasanya diri ini kalau selama ini masih selalu lalai terhadap perintah-perintah-Mu, masih suka merasa kurang beruntung dari kehidupan orang lain.
Astaghfirullahaladziim, hamba mohon ampun Ya Robb!' batin Dhena dalam hati.
Sesungguhnya Pertolongan Allah itu sangatlah dekat, kepada setiap hambanya tanpa terkecuali.
Allah telah memberikan kesembuhan dan pertolongan-Nya sesuai dengan keadaan, melewati bubur sagu yang diberikan oleh seseorang, tidak mesti melewati operasi yang pasti memerlukan biaya banyak.
"Mas, kita harus banyak bersyukur karena Allah yang sudah banyak memberikan kemudahan dan nikmat lainnya selama ini kepada kita," ungkapnya kepada sang suami saat mereka menjelang tidur.
"Iya. Cara mensyukurinya tidak hanya diucapkan di mulut dan hati, tapi harus di barengi perubahan sikap yang mencerminkan rasa syukur kita kepada-Nya."
"Caranya, Mas?"
"Salah satu contoh sebagai rasa syukur, Insya Allah Mas akan terus belajar menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecil kita. Istri Mas juga harus bisa belajar menutup aurat yang lebih sempurna ke depannya."
__ADS_1