
Hariz mulai membersihkan dan mengelap darah yang terus menetes dibagian dahi sang ibu menggunakan air hangat dan kain yang tadi dibawakan oleh istrinya. Setelah itu Hariz membubuhkan betadine ke bagian yang luka lalu menempelkan kain kasa dan dibalut dengan perekat. Berharap mampu menghentikan aliran darah yang sedari tadi terus keluar.
"Kepala Ibu pusing dan sakit sekali ini, Hariz," keluh Bu Aida dengan satu tangan memijit bagian belakang kepalanya.
"Kita periksa ke rumah sakit aja, yuk, Bu," ajak Hariz tak tega melihat kondisi ibunya yang mulai terlihat memucat.
"Gak perlu. Ibu mau tidur aja. Biar hilang pusingnya," jawab Bu Aida sembari menarik selimut hingga lehernya. Hariz kemudian keluar dari kamar Bu Aida. Pria itu mulai bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerja.
***
Sudah 7 hari dari insiden yang membuat Bu Aida terpeleset. Kini keadaan wanita setengah baya itu terlihat sudah semakin membaik. Pagi itu Bu Aida sudah disibukkan dengan bersolek. Merias diri bak anak ABG yang baru puber. Ia akan pergi ke sebuah restoran tempat nongkrong dengan teman-teman arisannya.
Ia membuka pintu kamar. Dilihatnya Dhena sedang duduk di meja makan seorang diri. Karena disibukkan dengan pekerjaan rumah dan mengurus kedua anak laki-lakinya Dhena baru sempat mengisi perut di jam 9 pagi ini. Padahal, ia sudah merasakan perih di bagian lambungnya sejak dari tadi.
Bu Aida mendekat ke arah menantu perempuannya itu. Sedangkan Dhena yang baru saja menghabiskan setengah dari isi piringnya terkejut begitu melihat kehadiran ibu mertuanya itu.
"Nyarap, Bu," ucap Dhena menawari sang ibu mertua sambil berusaha tersenyum ramah ke arah Bu Aida.
"Waduh ... Waduh, enak sekali hidup kamu ini Dhena. Bisa makan dari hasil kerja keras tenaga anak saya. Sedangkan kamu istrinya tak becus menghasilkan uang sepeser pun. Kamu ngerasa, gak, sih, selama ini hanya numpang hidup doang di sini."
Pernyataan dari Bu Aida barusan hampir saja membuat Dhena keselek dengan makanan yang masih berada di kerongkongannya.
__ADS_1
"Maksudnya, Bu?"
"Iya, kamu hanya numpang hidup dengan anak laki-laki saya selama ini, tho? Tanpa harus memikirkan bagaimana sulitnya mencari rupiah di luaran sana?"
"Tapi, kan, Bu. Saya punya anak yang masih kecil-kecil. Fathan dan Reza masih butuh pengawasan saya. Kalau terjadi apa-apa siapa yang mau bertanggungjawab jika bukan saya, sebagai ibunya," sangkal Dhena. Tepatnya berusaha memberikan pengertian kepada sang ibu mertua.
"Heleeh ... Anak terus yang dijadikan alasan. Kamu harus tahu, ya, Dhena. Orang tua zaman saya itu banyak yang mengurus anak dengan jumlah yang lebih banyak dari anak-anak kamu itu. Ada yang berjumlah sepuluh ada yang satu lusin atau dua belas anak. Tapi, mereka mampu mengurus anaknya hingga dewasa sambil disambi cari uang sebagai kuli tandur ke sawah orang, kek, atau menjahit baju dan lainnya yang dapat mendatangkan hasil." Panjang lebar Bu Aida menceramahi menantunya, yang seketika membuat selera makan Dhena langsung menguap begitu saja.
"Kalau kamu memang benar-benar berniat ingin membantu pemasukan suami. Kamu bisa, kan, daftar sebagai TKW ke luar negeri. Ke Arab Saudi atau ke Hongkong, Taiwan. Banyak pilihan Dhena, untuk merubah nasib agar hidup kalian tidak miskin terus seperti ini," sambung Bu Aida dengan nada berapi-api.
Mendengar semua perkataan sang ibu mertua Dhena hanya mampu menarik napas panjang dan mengelus dadanya. Berharap rasa sabar itu masih tersisa di dalam dadanya.
"Bu, dulu saya memutuskan untuk menikah dengan Mas Hariz itu semata-mata untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang normal. Yang saling melengkapi kekurangan masing-masing. Karena setiap sesuatu yang dilakukan dalam pernikahan itu Insya Allah berpahala," jelas Dhena.
Ia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel dan mencari nama kontak salah satu temannya. Kemudian memijit tombol panggil.
Terdengar suara telepon yang tersambung ke nomor tujuan. Tidak sampai satu menit sudah ada suara jawaban dari ujung telepon sana.
"Sudah siap belum?" tanya Bu Aida memastikan.
"Sudah, nih, lagi on teh way ke arah tempat Bu Aida."
__ADS_1
"Jangan lama-lama, ya, saya sudah jengah banget, nih, tinggal bareng menantu yang sok idealis kek istrinya si Hariz itu," umpat Bu Aida sambil melongokkan separuh kepalanya ke dalam rumah melalui pintu yang masih terbuka lebar.
Setelah hampir lima belas menit datanglah sebuah mobil dan terparkir sempurna di halaman depan rumah Dhena. Lalu dari arah pintu kendaraan roda empat itu muncul 3 orang ibu-ibu yang sudah berusia sekitar lima puluh tahunan dengan dandanan yang seperti anak ABG tujuh belas tahunan. Rata-rata mereka mengenakan kaos pendek di atas sikut dengan celana jins Levis ketat serta sepatu ala-ala anak muda.
Bu Sinta pemilik mobil itu memang sudah biasa bergaya seperti ibu-ibu sosialita dengan memanfaatkan hasil transferan dari anak sulung perempuannya yang saat ini sedang banting tulang memeras keringat di negeri orang meninggalkan anak dan suaminya yang kini tinggal bersama Bu Sinta.
Namun, sangat disayangkan, hasil jerih payah sang anak bukannya dipakai untuk keperluan biaya sekolah cucunya, tapi, malah dipakai bergaya dengan membeli sebuah mobil mewah demi gengsi dan menaikan setatus sosial di mata teman-teman arisannya.
Karena melihat temannya itu. Bu Aida pun semakin menggebu untuk bisa menikmati hidup dengan kemewahan dan kesenangan dunia yang sesaat ini. Ia terus menekan dan meminta Dhena untuk menjadi TKW seperti anaknya Bu Sinta yang setiap bulan bisa menjamin kebutuhan keluarganya di rumah. Yang Setiap bulan bisa menerima transferan dengan nominal tinggi tanpa harus bekerja keras cukup mengandalkan kiriman dari anak perempuannya yang sedang mencari rupiah di negeri sebrang.
Ketiga ibu-ibu yang sama-sama mempunyai hoby nongkrong dan shoping itu kemudian berjalan ke arah Bu Aida yang sudah berdiri menyambut kedatangan ketiga temannya. Mereka mulai mengobrol ngaler ngidul sambil sesekali terdengar tertawa cekikikan di sela-sela obrolannya. Setelah itu mereka kembali menaiki kendaraan roda empat itu lalu pergi meninggalkan rumah yang ditempati Dhena.
***
Dhena terkejut ketika mendapati badan Reza, anak keduanya demam tinggi. Sedangkan Hariz sudah berangkat ke tempat kerja sejak jam setengah tujuh pagi tadi.
Dhena berinisiatif untuk membawa buah hatinya ke puskesmas terdekat. Melihat mamanya sedang berganti pakaian. Fathan pun bertanya, "Mama, mau kemana, kok ganti baju?" tanyanya penasaran.
"Mama mau ngajak Dedek Reza ke puskesmas dulu, ya, Fathan di rumah dulu saja sama Nenek," saran Dhena kepada anak sulungnya.
"Emang Dedek Reza kenapa?"
__ADS_1
"Panas tinggi."