
***
Terkadang setiap pencapaian yang sudah bisa diraih dan didapat oleh seorang manusia masih saja membuat dirinya merasa kurang puas dengan apa yang semua ada dalam hidupnya. Yang menimbulkan tak ada rasa syukur kepada Sang Maha Pemberi Nikmat yang terpatri dalam hati sanubarinya. Yang ada rasa kurang dan kurang puas terus hingga harus melakukan sesuatu yang mungkin di luar batas norma yang ada.
Begitu pun yang dilakukan oleh Bu Aida. Wanita setengah baya itu masih memutar otak untuk mencari cara agar bisa menyingkirkan Dhena dari sisi Hariz dan berharap hanya Nelly lah satu-satu wanita yang bisa menduduki bagian penting di hati Hariz.
"Sur ... Surti, sini deh, duduk dulu di samping saya!" titah Bu Aida kepada Surti, asisten rumah tangganya yang baru beberapa bulan tinggal serumah dengan Bu Aida untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sekaligus menemani wanita setengah baya itu.
Surti yang masih sibuk membersihkan dan mengelap kaca jendela dengan enggan menghampiri majikannya yang sudah mirip nyonya besar itu. Padahal, dalam hatinya ia berharap untuk segera menyelesaikan kewajibannya yaitu bersih-bersih dan rapi-rapi serta tugas yang lainnya.
"Nggih, Bu, ada apa?" tanyanya mulai mendekat ke arah Bu Aida. Duduk bersimpuh di lantai persis di hadapan Bu Aida. Tangan kanannya masih memegang kemoceng serta kain lap yang disampirkan di pundak sebelah kirinya.
"Sini duduknya di kursi saja. Gak usah seperti itu, kayak sama siapa saja kamu," titahnya kemudian. Tangan Bu Aida menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Bi Surti yang merasa segan dengan Bu Aida kemudian bangkit kembali dan duduk di tempat yang tadi ditunjukkan oleh majikannya.
"Iya, Bu. Makasih," ucapnya tersenyum rikuh.
__ADS_1
"Dengarkan, ya, baik-baik. Saya mau bertanya sama kamu," tutur Bu Aida.
"Siap, Nenek lampir! eh, salah. Bu Aida maksud saya," jawab Bu Surti spontan menepuk mulutnya yang memang suka latah. Karena di dalam hatinya wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu memang sering menyebut majikannya dengan sebutan Mak Lampir atau Gerandong karena sifat dan sikap Bu Aida yang menurutnya seperti ada mirip-miripnya dengan dua tokoh di sinteron Misteri Gunung Merapi yang dulu pernah booming pada zamannya.
Bola mata Bu Aida seketika mendelik seperti hendak loncat dari tempatnya ketika mendengar sebutan yang barusan ditujukkan kepadanya oleh Bi Surti.
Melihat raut muka sang majikan seperti itu membuat bi Surti cengar-cengir menyembunyikan rasa takut dalam hatinya. Khawatir Bu Aida auto berubah seperti singa lapar.
'Tenang saja Surti ... Tenang, kamu gak usah takut kalau sedang menghadapi nenek tua ini,' bisik hati bi Surti membatin.
"Tadi kamu bilang apa? Ngatain saya nenek apa tadi?" hardik Bu Aida sembari menggebrak meja dengan tumit kakinya yang memang posisi kaki wanita tua itu sedang berselonjor di meja ruang tamu.
"Owh, kirain saya kamu tadi ngatain saya." Muka Bu Aida kembali normal lagi. Tidak seperti tadi yang terlihat begitu menyeramkan kek makhluk halus yang tak sengaja menampakkan diri.
'Untung Nenek Lampir ini budek.' Bi Surti masih ngomong sendiri dalam hati kecilnya.
'Eh, tapi, kalau memang dia budek. Kenapa tadi matanya melotot kek orang kesurupan, ya? Bukannya itu berarti dia bisa dengar ucapanku. Ah, bodi amat, lah, yang penting aku sudah selamat dari amukan singa betina ini.' Bi Surti masih anteng ngomong sendiri dengan hatinya.
__ADS_1
"Di kampung halaman kamu apa masih ada orang pintar, Sur?" tanya Bu Aida dengan raut muka serius kek orang lagi nanyain alamat.
"Orang pintar? Banyak lah, Bu. Wong di kampung saya itu walaupun termasuk desa pedalaman yang sangat jauh dari keramaian kota dan belum ada penerangan listrik, dengan jalanan yang masih hotmik alami alias masih tanah merah yang kalau sedang datang musim hujan kek kubangan binatang bertanduk alias kerbau. Tapi, di sana banyak sekali orang-orang pintar ngebohongi rakyat jelata." Bi Surti menjawab pertanyaan Bu Aida mirip judul lagu sepanjang jalan kenangan saking panjangnya yang membuat kedua alis Bu Aida hampir bertaut karena merasa pusing dengan jawaban bi Surti.
"Maksud kamu, tuh, apa Surti?"
"Maksud saya tuh, di kampung saya memang banyak orang pintar yang sedang bersemedi, eh, sedang bersembunyi dari buruan polisi karena takut ditangkap. Ada yang kasusnya makan duit rakyat ada juga yang pembunuh handal. Kbanyakan dari mereka bersembunyi di kampung saya. Mungkin agar jejaknya tak bisa diusut karena memang tempatnya berada di dalam hutan. Mereka orang-orang pintar, kan? Pintar mengelabui petugas kepolisian dan masih bisa menghirup udara segar nan alami di kampung saya?" Surti nyerocos yang kedua kalinya tanpa jeda. Membuat kepala Bu Aida berputar-putar bak dihinggapi ribuan lebah.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu beneran masih tinggal di kampung seperti yang kamu bilang tadi? Sebenarnya kamu masih tinggal di wilayah Indonesia apa di luar planet lain, sih? Kok, aneh sekali saya dengarnya. Macam kampung yang belum merdeka dari zaman nipong saja," sambung Bu Aida menatap heran ke arah bi Surti.
"Beneran, lah, Bu. Masa saya mengadi-ngadi," jawab bi Surti dengan cepat.
"Memang ibu mau merubah siapa, sih, Bu. Kok, mau merubah orang, gitu. Ini kan, dunia nyata kita, Bu, bukan dunia fiksi seperti di pilem Ultraman atau powerranger yang ada di tipi. Yang sering ditonton sama anak majikan saya waktu saya jadi baby sitter di Bandung dulu."
"Bukan merubah orang seperti itu Oneng. Maksud saya orang pintar yang bisa membuat seseorang berubah yang tadinya benci jadi cinta, yang tadinya cinta jadi benci. Begitu," papar Bu Aida.
Karena Bu Aida saat kumpul bersama teman nongkrongnya sempat diberi ide gila seperti itu agar bisa cepat menyingkirkan Dhena dari kehidupan Hariz oleh salah satu temannya. Bu Aida berambisi sekali untuk membuat Nelly agar menjadi istri satu-satunya Hariz dengan harapan menantu tajirnya itu tidak akan lepas ke lelaki lain jika sudah menjadi milik Hariz seutuhnya.
__ADS_1
Bu Aida disarankan untuk mencari orang pintar ysng biasanya masih bisa ditemukan di kampung-kampung atau pedesaan yang masih kental dengan ilmu aneh itu.
"Tapi, Bu, yang saya tahu gak boleh, lho, Bu. Kita mendatangi orang seperti itu. Karena itu artinya kita musrik, Bu, kalau sampai percaya sama omongan yang disangka orang pintar padahal mereka sebenarnya orang bodoh yang mengaku-ngaku pintar," papar bi Surti mirip ustazah yang sedang menceramahi jama'ah tabligh akbar. Membuat Bu Aida seketika molohok mata simeuteun ke arah asisten rumah tangganya itu.