
Hariz mulai menyimak setiap kata dan kalimat yang disampaikan oleh sang ustaz yang saat ini sedang membahas tentang poligami.
Menurut sang ustaz, poligami boleh-boleh saja dilaksanakan oleh para suami yang tentu saja harus sesuai dengan ketentuan dan syara-syarat yang sudah diatur sedemikian rupa dalam syari'at Islam dengan harapan agar tidak ada salah satu pihak yang dirugikan apalagi jika sampai merasa terdzolimi oleh si suami yang mempunyai niat untuk berpoligami itu.
"Untuk para suami yang berniat hendak berpoligami atau sekarang yang sedang menjalaninya. Coba tanyakan kembali ke dalam hati masing-masing. Sudahkah niat yang ada dalam hati Anda itu sudah lurus? Hanya untuk membantu meringankan janda-janda tua? Atau sebaliknya niat memiliki lebih dari satu istri hanya karena ***** dunia belaka?"
Pertanyaan dari ustaz barusan sangat menohok perasaan Hariz. Ia seakan merasa ditampar dengan pertanyaan tadi. Karena laki-laki itu merasa jika yang selama ini ia jalankan sangatlah jauh dengan ketentuan yang sesuai dengan aturan agama. Karena pernikahannya yang kedua justru selalu menciptakan perhara demi perhara dalam dunia rumah tangganya.
"Jangan sampai kita berpoligami malah menciptakan luka batin untuk istri pertama, karena itu sama saja kita berbuat dzolim kepada istri sendiri," sambung pak ustaz kemudian. Yang membuat Hariz semakin terpojok.
Hampir kurang lebih satu jam pengajian yang Hariz ikuti berakhir. Semua jama'ah mulai bubar dan bersiap-siap akan kembali ke rumah masing-masing. Begitu pun dengan Hariz. Ia melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Tiba di rumah Hariz langsung menghampiri Dhena yang baru saja selesai mengajari anak pertamanya membaca iqro dan berkata, "Besok Mas mau minta Nelly untuk datang ke sini, jika kamu mengizinkan," ucapnya meminta pertimbangan kepada sang istri
"Mau ngapain? Mau pamer kemesraan dengan istri keduamu itu, Mas?"
"Sesekali aku ingin kau bercermin dan melihat seseorang yang pantas mendampingimu. Apakah aku, orang yang bersedia hidup bersamamu, ataukah dia, orang yang kau anggap menarik meski sebenarnya pengganggu," sambung Dhena kemudian meluahkan isi hatinya.
"Bukan begitu maksud Mas, tapi .... "
"Tapi apa, Mas?"
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti besok jika Nelly sudah berada di sini."
Dhena kemudian terdiam. Ia lebih memilih berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.
Di meja makan sudah tersedia tumis jantung pisang yang diambil dari kebun di samping rumah tempat Dhena tinggal. Dengan ikan wader goreng yang diberi Mbak Ningsih hasil tangkapan mancing suaminya.
"Aku mau makan disuapin Ayah aja," pinta Fathan mulai merajuk.
"Ayah baru sampai rumah masih capek. Biar Mama yang suapin kamu, ya," ujar Dhena berusaha memberikan pengertian kepada anak sulungnya.
Kemudian Dhena menyendokkan setengah centong nasi putih yang masih mengepulkan asap ya ke piring kosong milik Fathan, lalu meletakkan satu buah ceplok telur kesukaan anak laki-lakinya.
"Yaudah, aku mau makan sendiri aja, ya, Ma. Kan, sekarang aku sudah besar. Sudah punya adik bayi," tuturnya antusias yang langsung diiakan oleh Dhena.
[Besok kamu boleh datang ke sini seorang diri.]
Sepersekian detik kemudian muncul balasan dari Nelly.
[Ada apa? Bukannya Mas lebih memilih menghargai perasaan Mbak Dhena dibanding bertemu denganku?]
[Besok Mas ada perlu sama kamu] Hariz membalas.
__ADS_1
Aktivitas Dhena yang sedang mencuci piring bekas makan malam tadi terjeda ketika didengarnya Reza, bayi laki-lakinya itu mulai menangis kejer dari arah kamar. Ia mencuci telapak tangannya yang masih dipenuhi busa sabun lalu membilasnya hingga bersih dan mengelapnya. Dhena bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar.
Namun, langkahnya urung ketika dilihatnya Reza kini sudah diambil dan sudah berada dalam gendongan sang ayah.
Dhena memutar badan untuk kembali ke arah dapur melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
***
Jam yang melingkar di pergelangan tangan Nelly menunjukkan angka tiga sore. Ia mulai bersiap-siap hendak pergi ke rumah Hariz setelah ia beristirahat sejenak sejak dari pulang dari tempatnya bekerja tadi. Sedangkan Vito kebetulan sedang mengikuti kegiatan TPQ yang diadakan oleh seorang ustazah yang tinggal di komplek perumahan tempat Nelly tinggal.
Kini Nelly sudah duduk di ruang tamu berhadapan dengan Hariz. Di samping laki-laki itu ada Dhena juga menemaninya.
Hariz berusaha menguatkan hatinya agar dia bisa mengambil keputusan tegas kepada Nelly demi keutuhan rumah tangganya bersama Dhena yang sudah memberikannya dua putra laki-laki dalam keluarga kecilnya.
"Ma'af, Nel. Saya hingga kini belum bisa untuk menjadi sosok suami dengan dua istri yang mampu berlaku adil dan memberikan kebahagiaan kepada kedua istri. Untuk itu mulai dari sekarang, dari pada kita seperti ini terus saya putuskan untuk mencerai dan mentalak kamu. Supaya tidak menjadi beban dan dosa kepada diri saya sendiri." Susah payah Hariz akhirnya berhasil mengeluarkan niat dalam hatinya di depan Nelly dan Dhena sekaligus.
"Jadi, Mas meminta aku untuk datang ke sini hanya untuk membuat hatiku ini hancur? Di mana hati nurani kamu, Mas? Semua kebaikan yang kuberikan kepada kamu ternyata tak pernah kamu hargai walau sekadar hanya membalas perasaanku saja," ungkap Nelly tersengal.
Antara rasa perih dan amarah di dalam rongga dadanya melebur menjadi satu membuat perempuan cantik itu tampak seperti tak mampu menguasai dirinya lagi. Wajah mulusnya memerah menahan emosi yang meluap karena merasa sudah dipermalukan dan merasa terhina diceraikan langsung di hadapan istri pertama laki-laki yang selama ini ia cintai.
Sedangkan Dhena hanya menyimak semua yang disampaikan oleh sang suami yang di luar dugaannya itu. Terjawab sudah rasa penasaran yang sedari malam tadi sempat mengganggu pikirannya karena Hariz sempat meminta persetujuannya untuk mengundang Nelly ke rumah mereka tanpa Hariz memberi tahukan tujuan yang sebenarnya kepada Dhena.
__ADS_1
Hati kecil Dhena sebagai sesama wanita juga bisa menyelami dan merasakan dengan keadaan hati Nelly saat ini, yang tentu saja akan merasa hancur lebur karena merasa dicampakkan oleh laki-laki yang selama ini ia harapkan bisa memberikan kebahagiaan dalam hidupnya walaupun hanya sekadar dijadikan sebagai istri kedua oleh Hariz.
Dhena kemudian berdiri menghampiri Nelly berusaha merengkuh tubuh Nelly hendak memberikan pelukan sekadar untuk memberikan kekuatan. Tapi seketika tangan Nelly menepis pelukan Dhena sembari berkata histeris, "Gak usah sok peduli sama aku Mbak, bukannya Mbak merasa bahagia jika Mas Hariz menceraikan dan meninggalkanku seperti ini? Ini, kan, yang sebenarnya Mbak Dhena harapkan selama ini? Bisa memiliki Mas Hariz seutuhnya tanpa rasa khawatir lagi dengan keberadaanku?" cecar Nelly kalap. Sikap kemayu dan gemulainya sebagai sosok wanita feminim lenyap begitu saja ketika dihadapkan dengan keadaan yang tak sesuai dengan inginnya.