
Setelah terdiam beberapa saat Pak Danu melanjutkan kalimatnya.
"Izal menyampaikan keinginannya untuk menikahi seorang gadis. Kami sangat paham siapa Izal, sosok yang sangat sulit untuk jatuh cinta, apalagi setelah penghianatan mantannya satu tahun yang lalu, namun ini justru diluar dugaan, dia mengatakan mau menikah, kami dengar gadis itu adalah sepupu Mas Al. Kami bermaksud kenalan dengannya, nggak mungkin datang langsung melamar dan ngajak nikah, nanti Mas Al kaget," ucap Pak Danu sembari tertawa.
"Jadi benar begitu, Zal?" ucap Al menyelidik padahal aslinya sudah tau.
"Pak Al,"
"Malu Izal, Mas," Aini tertawa. Alia mendongak melihat Izal.
"Apa, Sayang. Mau meledek juga kaya Ayah Bunda mu?"
"Jangan marah, Bang,"
"Jadi gini, Pak Danu. Benar memang sepupuku baru datang dari kampung sebulan yang lalu, hampir dua bulan tepatnya. Tapi saat ini sedang tidak dirumah, bawaannya lagi uring-uringan, jadi dia tak antar kerumah Budhenya, mohon maaf artinya Pak Danu dan Bu Yuli belum bisa kenalan," ucap Al.
"Belum beruntung kita ya, Bu. Meskipun begitu tolong sampaikan niat baik kami sama sepupu dan orang tuanya. Siapa namanya Lina betul?"
"Betul, Pak Danu,"
"Tolong sampaikan niat baik Izal, Bapak dengar dia sudah sholat malam meminta petunjuk jawaban yang diperoleh dia semakin yakin dengan niatnya memperistri Lina. Namun dia bingung bagaimana cara bertindak. Mohon bantuannya dari Mas Al dan Mbak Aini untuk menyatukan mereka, meyakinkan Lina," kalimat permohonan Pak Danu pada keluarga Al.
"Iya, Mas Al. Karena keputusan nantinya jelas bukan Mas Al yang memutuskan dalam hal ini, maka kami minta bantuan kepada kalian untuk menyampaikan kepada orang tua Lina. Nanti kita akan ke kampung halaman Lina untuk menikahkan mereka,"
"InsyaAllah kami bantu Pak Danu, Bu Yuli. Sebenarnya Lina juga akhir-akhir ini uring-uringan juga mungkin ada kaitannya dengan ini. Lina masih trauma dengan kejadian yang belum genap setengah tahun, tapi kalau jodoh InsyaAllah semua akan menjadi mudah prosesnya,"
"Perlu Pak Danu ketahui, Lina itu anaknya semaunya sendiri, jadi jangan sampai menyesal menjadikan dia menantu, nggak ada ja'im sedikitpun," ucap Aini.
"Justru bagus seperti itu, lagian mana ada manusia yang sempurna, Mbak. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan anakku Izal,"
"Mari, diminum, Pak, Bu. Jangan di anggurin terus," ucap Aini.
"Dek, masih nempel saja? Kenapa sih anak Bunda?"
"Bang Izal tuh habis marah sama Adek, lama nggak mau ngomong, nggak pernah main. Jadi hari ini nggak boleh pergi, nggak boleh kemana-mana!" celoteh bocah itu.
__ADS_1
"Jadi lagi menghukum ceritanya?" tanya Al.
"Boleh, tapi ada syaratnya. Mulai sekarang adek panggilnya ganti dengan Om," ucap Izal jail.
"No, nggak mau. Temanku punya Kakak, aku juga harusnya punya. Kalau panggil Om, berarti bukan Kakak," dengan muka sewot.
"Dek, tapi kalau nanti Bang Izal menikah sama Tante Lina kamu jadinya panggil Bang Izal itu Om," ucap Aini.
"Apa itu menikah, Nda?"
"Nah, loh. Jawab Ai!" ucap Al tertawa melihat istrinya bingung mau jawab apa.
"Karena Bang Izal sudah dewasa, Tante Lina juga sudah dewasa jadi mereka menikah, seperti ayah sama bunda, kakek sama nenek," jawab Bu Yuli. Nggak nyambung sebenarnya tapi tak salah jawabannya.
"Jadi, Alia nggak boleh menikah karena masih kecil begitu, Nek?"
"Betul,"
"Jadi Alia nggak bisa menikah sama Bang Izal. Terus Bang Izal menikah sama Tante Lina. Terus Alia panggil Bang Izal jadinya Om?"
"Betul itu, Dek," ucap Izal lega.
"Ok, deh," Izal mengalah.
"Mas Al, Lina saat ini tinggal dirumah Budhe mana?"
"Oalah baru ingat Pak Danu, tak jauh dari rumah Pak Danu palingan 10 menit perjalanan,"
"Lah, iya. Aku juga nggak kepikiran kalau Pakdhe Darto rumahnya tak jauh dari rumah Izal, InsyaAllah nanti sore kami mau menjemputnya sekalian membicarakan hal ini, Pak Danu," ucap Aini.
"Bapak, sama Emak pulang tuh, Ai. Panggilkan sekalian, pasti senang bisa ketemu dengan orang tua Izal,"
"Permisi sebentar, Pak, Bu. Itu Emak sama Bapak baru pulang,"
"Silahkan, Mbak," jawab mereka. Aini bergegas kebelakang memanggil mertuanya. Aini menceritakan kepada Bapak dan Emak poin kedatangan orang tua Izal, dan meminta menemui mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pak, Bu. Sudah lama? Saya Bapaknya Al, ini Emaknya," ucap Bapak menyalami Pak Danu, dan Emak menyalami Ibu Yuli yang sudah berdiri menyambut Bapak dan Emak.
"Wa'alaikumussallam, Pak, Bu," jawab mereka. Mereka duduk kembali. Suasana semakin rame dengan hadirnya Bapak dan Emak.
Bapaknya Al selaku pengganti wali saat ini setuju dengan niat baik keluarga Al.
"Pak Danu, untuk orang tua Lina biar saya yang urus. Dia adik kandungku jadi aman InsyaAllah. Diijinkan kesini juga karena bersama saya. Jadi sebenarnya Lina itu bidan namun karena bodoh atau apa mungkin dia meninggalkan karirnya gara-gara patah hati. Kalau menurutku bodoh dibutakan oleh cinta. Namun saya yakin dibalik itu ada hikmah tersendiri, seperti sekarang jadinya bisa bertemu keluarga Izal yang baik insyaallah,"
"Aamiin, tidak ada yang bisa kami banggakan, Pak. hanya saya berharap anakku Izal nantinya tidak mengecewakan Lina dan keluarga,"
"Aamiin," ucap serempak.
"Izal, bukannya kamu harus balik kerja?" tanya Bu Yuli.
"Nggak boleh, Nek. Hari ini Bang Izal harus temani Alia main, dan nanti harus ikut jemput Tante!" ucap Alia galak tapi lucu.
"Yang senang Bang Izal jadinya dong, Sayang," timpal Bu Yuli.
"Kakek juga dirumah, Dek. Sama Kakek saja ya, masa bang Izal jadi baby sister," ucap Bapak.
"Tugas tambahan dari Bos kecil ya, Dek," ucap Pak Danu.
Mereka berbincang sampai menjelang asar. Hari ini Izal bebas tugas delivery, tugas dialihkan sama yang lain. Sehabis asar mereka berangkat menjemput Lina di rumah Budhe Surti.
"Bapak sama Emak mau ikut mobil Pak Danu saja. Sambil ngobrol jadinya,"
"Suatu kehormatan itu, sangat setuju," jawab Bu Yuli.
"Izal juga ikut Bapak saja ya," sengaja keras biar Alia dengar.
"Nggak boleh!" Alia berlari menggandeng Izal. Al melempar kunci sama Izal. Izal yang membawa mobil Bosnya.
"Maksud hati mau santai sama kamu makan jajan dibelakang ya, Dek. Eh ayahmu malah usil main suruh saja," Izal menggerutu.
"Aku dengar loh, Zal," ucap Al. Al duduk di kursi tengah bersama istrinya. Alia duduk didepan dengan tertib.
__ADS_1
"Pak, kalau orang tuaku ikut kerumah Budhe gimana reaksi Lina, apa tidak memperkeruh suasana," ucap Izal gusar.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...