
"Alia sudah bangun, Lin?" tanya Al ketika melihat adik sepupunya duduk sambil terus memandangi handphone.
"Sudah, Mas. Alia sudah mandi juga, anak itu kalau sudah ngomongin sekolah mana bisa nanti-nanti. Di sekolah banyak teman katanya, di rumah temannya banyak tapi sudah tua-tua," jawab Lina sambil tertawa. Al sangat paham, tawa Aini masih sangat terpaksa.
"Jangan sekalipun kamu coba cari tau tentang Izal dari orang lain, kamu boleh percaya info tentang Izal hanya dari Mas dan Mba, Ok!"
"Siapa yang lagi cari info dari orang lain, aku hanya lagi bosan makanya pegang Hp. Mbak Aini melarang bantuan dari Lina, Mas,"
"Lin, tetap bersikap cantik dan elegan ketika nantinya Izal menjelaskan sesuatu ke kamu. Mas tau siapa kamu dan Aini berbeda dengan wanita pada umumnya, tapi ada sedikit kekhawatiran Mas mengingat luka lama kamu belum sepenuhnya sembuh,"
"Mas, tau kalimat cantik dan elegan darimana? Lucu, seorang Mas Al bicara cantik dan elegan," Lina tertawa terpingkal-pingkal.
"Alhamdulillah, adikku sudah normal kembali. Buktinya sudah bisa tertawa lebar,"
"Mas, dalam menghadapi persoalan kadang seseorang butuh menyelami apa si yang sebenarnya terjadi, aku sudah memberikan kepercayaan kepada Izal. Nah tinggal bagaimana Izal menggunakan kepercayaan itu, jika dia berkhianat maka itu menjadi tanggungjawab dia. Bukankah setiap yang di tanam itu yang akan di tuai, aku sudah merenung tadi malam. Jika menginginkan pasangan baik maka tugasku hanya memantaskan diri, yang baik banyak bukan harus Izal bukan? Tenang saja, adikmu ini wanita yang hebat," ucap Lina bangga.
"Iya deh, adikku ini memang wanita hebat, ke dapur yuk! Mba kamu sudah masak kan?"
"Panggil Alia sekalian, Mas. Kalau mau naruh sajadah, dia masih di kamarnya,"
"Kamu saja, Lin. Kalau ada kamu, aku cuma pemain cadangan," ucap Al sambil nyelonong.
"Baiklah,"
----
"Bunda, Ayah,"
"Sayang, duduk dulu kalau mau minum," tegur Aini.
"Ini mau duduk, Bunda,"
"Lin, nanti habis sarapan aku mau ketemu Pak Danu, kami akan ke RS Sehat,"
"Iya, Mas. Nggak perlu pamit sama aku kali. Tuh Mba Aini yang perlu di pamiti,"
"Kalau sama Istri sudah pamit sejak tadi, dia prioritas dalam hidup kakakmu ini,"
"Hem ... iya deh, aku yang jadi ke sekian,"
__ADS_1
"Iya lah, tunggu nanti ada seseorang yang memprioritaskan kamu, Sayang," ujar Aini.
"Memang mau apa kesana, Mas? Bukannya yang sakit Virna? Tapi kenapa Mas Al mesti ikut?"
"Mungkin biar Mas Al mendengar penjelasan langsu dari Virna kali, Lin,"
"Sudah berkali-kali Mas bilang, kalian jangan menduga-duga. Hemat tenaga, pikiran dan perasaan,"
"Ayah, aku juga mau ketemu Kakek Danu,"
"Kalau pas kamu liburan InsyaAllah ayah ajak kamu ketemu sama Kakek Danu,"
"Beneran loh, Yah,"
"Kalau Emak pulangnya gimana?"
"Emak masih betah dirumah Budhe, nanti kalau sudah pengin pulang akan di antar sama Mas Ferdi,"
"Ya ... kalau kalian lagi pergi aku bingung mau ngapain," rengek Lina.
"Banyak yang bisa kami kerjakan, Lin. Menghitung kedelai misalnya," ucap Aini sambil terbahak.
"Lin, Pak Danu dan Bu Yuli ingin kamu ikut ke Rumah Sakit. Ini barusan ngabari, bentar Bu Yuli pengin ngomong. Mau telpon katanya,"
"Mas, aku nggak siap bicara sama Bu Yuli," rengek Lina.
"Iya, Bu. Bagaimana?" ucap Al.
"Boleh bicara sama calon mantuku, Mas Al," semua yg di ruangan mendengar sengaja di loud speaker sama Al.
"Lin, ngobrol ya sama Bu Yuli," bujuk Aini lirih.
"Iya Bu, ini di depan saya adikku," ucap Al kepada Bu Yuli.
"Assalamualaikum, Sayang. Apa kabarnya?"
"Wa'alaikumussallam, kabar baik, Bu Yuli,"
"Sayang, Ibu mohon sama kamu boleh. Datanglah bersama Mas Al ke RS Sehat, Ibu mohon dengan sangat. Izal butuh kamu saat ini, situasinya sangat rumit. Ibu mohon ya, Sayang," ucap Bu Yuli memelas.
__ADS_1
Lina memandangi Aini dan Al bergantian untuk meminta pendapat.
"Sayang, Ibu nggak bisa menjelaskan di telpon. Dan pesan Ibu nanti ketika sampai, kamu hanya boleh percaya sama Bapak, Ibu, Izal sama Mas Al. Dengarkan baik-baik ya, Sayang. Jangan menyimpulkan sendiri apa yang kamu lihat nanti, Ibu yakin kamu mampu berada di situasi ini," ucap Bu Yuli.
"Sayang, Ibu tunggu ya. Jangan ditutup dulu ya, Bapak mau ngomong sama Mas kamu,"
Aini merasa sangat tidak nyaman jika membiarkan Lina hanya bersama suaminya, melihat penjelasan Bu Yuli situasinya tidak baik-baik saja.
"Mba akan menemani kamu, aku mengantar Alia sekolah dulu. Mba mau ijin hari ini, yang njemput nanti Soleh," Aini berbisik sama Lina, takut pembicaraan terdengar anaknya. Nanti akan heboh tentunya. Alia sudah rapi lengkap dengan tasnya. Lina tersenyum senang, dia sangat lega. Nggak bisa dibayangkan berada dalam situasi yang asing, dan tidak boleh menyimpulkan apa yang di lihat. Ah ... kenapa jadi serumit ini.
Al berbicara dengan Pak Danu tanpa di loud speaker karena ada beberapa kalimat yang tak pantas di dengar anak kecil.
Selesai berbicara dengan Pak Danu, Al memandang iba kepada adiknya. Tapi benar apa yang dikatakan Pak Danu, Lina harus ikut untuk melihat kebenaran kenapa Izal sampai tidak pulang, dan mesti menunggu di RS.
"Mba akan berangkat dulu, Lin. Jangan ijinkan Mas Al berangkat sebelum Mba Pulang,"
"Memangnya kamu mau mbolos, Sayang?"
"Ssssttttt ... " meletakan kode telunjuk tangan di depan mulut. Menandakan sebuah rahasia.
"Alia sudah di depan, Ai. Nggak perlu seperti itu,"
"Tetap saja, Mas. Kalau tiba-tiba balik lagi kesini bisa-bisa repot di buatnya. Kita mau datang ke Rumah Sakit, bukan mau jalan-jalan. Aku berangkat!"
"Ayah, Tante. Adek berangkat ya!" teriak Alia dari arah pintu depan.
"Iya," jawab Al dan Lina.
Tak butuh waktu lama Aini sudah kembali, bergegas mengganti baju kantor dengan gamis dan dipadukan jilbab senada. Kali ini Aini memilih warna lavender, sementara Lina juga memakai gamis senada dengan jilbab berwarna tosca. Benar-benar menunjukkan wanita-wanita Solehah dengan jilbab lebarnya. Jilbab bukan tentang siap atau tidak siap, namun jilbab adalah sebuah perintah.
Selesai berkemas mereka berangkat menuju RS Sehat. Setelah sampai di parkiran Al menelpon Pak Danu. Belum sampai memencet tombol Pak Danu sudah muncul menyambut kedatangan keluarga Al.
Terlihat sekali jika Pak Danu kurang tidur semalaman, hanya di doping dengan multivitamin buat kebugaran tubuh.
"Mas, akhirnya sampai juga. Lina, maafkan bapak ya sudah memaksamu harus ikut. Jadinya Mba Aini juga akhirnya bolos," ucap Pak Danu merasa tidak enak.
"Lina, seperti pesan Ibumu. Jangan menyimpulkan sesuatu yang kamu lihat, kamu hanya boleh percaya pada Bapak, Ibu, Mas Al, Mba Aini dan Izal selama kamu disini," ucap Pak Danu tegas.
Semakin banyak pertanyaan di benak Lina, situasi macam apa ini? Sebentar, fokus kata ibumu. Bu Yuli ibuku, ... ibu mertua tepatnya. Tapi calon kemarin, sekarang tidak tau apa, Lina tersenyum kecut.
__ADS_1
...🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤...