Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Sari


__ADS_3

Begitu memasuki ruangan, pandangan Aini terpaku pada sosok wanita yang sedang terlelap, dan sudah bersih, pakaian sudah diganti dengan baju pasien.


"Lin, aku tidak percaya. Ternyata benar dia Sari. Apa yang terjadi ya, sehingga dia menjadi seperti ini?"


"Ya Allah mba, aku merinding. Jika sudah seperti ini nggak tau bahagia atau sedih kan? Ambisinya begitu besar membuat dia menghalalkan segala cara. Kasihan ya Allah,"


"Mas, bagaimana ini? Apa kita ngabari keluarganya di Kampung?"


"Nanti akan Mas bicarakan sama Bapak. Telpon bapak nanti,"


Al tidak mau memutuskan sendiri mengingat sebelum berangkat dia mendapatkan teguran atas kesalahannya mengecewakan Aini.


"Kita tinggalkan kontak saja, jika ada apa-apa pihak rumah sakit akan menghubungi kita. Tidak mungkin juga kita menunggu,"


"Setuju, Zal. Sudah jelas sekarang, ayok kita pulang. Kita sudah sangat lelah,"


Mereka meninggalkan rumah sakit dengan perasaan masing-masing.


Izal dan Lina pulang kerumah mereka setelah mengantar kakaknya. Al dan Aini memilih istirahat sejenak dirumah, untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran.


Kejadian belakangan ini membuat Aini cepat lelah, rentetan kejadian yang dialami sangat menguras pikiran.


"Mas, bangun. Sudah asar, tidur 10 menit sudah cukup," Aini menggoyangkan bahu suaminya.


"Baru saja menutup mata, Ai. Lelah banget hari ini,"


"Kalau aku lelah hati, Mas. Aku capek dengan rasa cemburu ini. Aku inginnya seperti biasanya nggak sensitif. Akhir-akhir ini sangat sensitif perasaanku," Aini mengeluh.


"Ai, hari ini kamu sudah haid belum?"


"Harusnya hari ini, Mas. Ini belum haid,"


"Apa mungkin kamu hamil, Sayang," ucap Al sangat bersemangat.


"Aamiin, mudah-mudahan. Jangan dulu terlalu senang, Mas. Takutnya mengecewakan,"


"Sayang, apapun hasilnya nanti bagiku tidak masalah. Jangan dipikirkan ya, biar kita ikuti takdir, jika Allah sudah mau menitipkan anak ke kita lagi Alhamdulillah, jika belum maka baik-baik saja," Al duduk di ranjang dan mengelus bahu istrinya.


"Mas, kalau kita hanya punya anak satu bagaimana?"


"Tidak apa, Ai. Anak itu rejeki, tugas kita ikhtiar berdoa dan berusaha. Sudah, ayo kita sholat. Mas mau ke masjid,"

__ADS_1


Al bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri hendak ke masjid. Alia masih tidur dengan nyenyak, mengingat hari ini aktivitas melelahkan, bermain bersama Om Izal.


[Lin, aku masih kepikiran tentang Sari. Pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi dia depresi. Dan tidak mungkin karena kejadian disini, namun itu sudah menumpuk bertahun-tahun] pesan dikirim ke ponsel Lina. Langsung centang biru.


[Mba, jangan terlalu dipikirkan. Biarkan dokter yang menangani, kita yang terpenting membiayai]


[Iya juga, kalaupun aku mikir nggak ketemu juga. Percuma buang-buang energi]


[Nah itu tau]


Mereka bertukar pesan cukup lama.


Al pulang dari masjid di todong sama istrinya.


"Sayang, makan yuk. Aku lapar pengin kamu yang masak, Mas,"


"Tumben, jam segini lapar. Pengin makan apa, Sayang?" tanya Al.


"Coba lihat isi kulkas dulu, kita sesuaikan persediaan," ucap Aini.


"Kamu bangunkan Alia dulu, kasihan kelamaan tidurnya, belum sholat dan mandi. Mas ke dapur dulu menyiapkan makan buat istriku,"


"Iya, Sayang. Mas tau, ini mau menyiapkan buat kamu," ucap Al semangat.


Al menuju dapur sedangkan Aini menuju kamar anaknya. Al memilih bahan makanan, dia memilih ayam dan sayur kangkung. Beruntung sayurnya sudah disiapkan tinggal masak.


"Ayah, masak apa? Alia mau bantu," tanya Alia.


"Sholat dulu, nanti baru bantu ayah ya, belum mandi juga ya?"


"Mandi nanti saja, Yah. Pengin bantu ayah dulu, aku sholat dulu. Tunggu jangan dulu selesai, Ayah," rengek Alia.


"Tentu, Sayang. Ai, kamu nggak bantuin? Liatin terus dari tadi,"


"Mas, aku merasa sangat beruntung. Suamiku tidak egois, mau masak buat istri dan anaknya. Tenang saja, tidak akan dimanfaatkan. Kali ini saja, aku lagi pengin masakan kamu, Mas,"


"Sayang, mas suka. Itu artinya kalian sangat menghargai keberadaan suamimu. Mas senang melakukannya," ucap Al sambil memotong ayam.


"Mas, sudah telpon Bapak belum?"


"Astaghfirullah, lupa. Nanti malam saja sehabis isya. Kita belum dihubungi pihak rumah sakit kan?"

__ADS_1


"Belum, Mas,"


"Aku mau mengabaikan Sari, tapi kok masih kepikiran ya, Mas. Biasanya orang yang melakukan tidak kejahatan bisa jadi karena ada masa lalu yang menyebabkan. Jangan-jangan Sari selama ini mendapat perlakuan kurang baik dari orang sekitanya,"


"Tidak paham, Ai. Paman Sarno inginnya Sari menikah sama Zaki. Tapi kamu tau sendiri, Zaki itu seperti apa. Kalaupun menikahi Sari entah jadi yang ke berapa. Mungkin sebagai wanita hati kecilnya mengatakan tidak mau merusak kebahagiaan wanita lain, yaitu istri Zaki. Bisa jadi kan? Namun karena tekanan dari orang tuanya,"


"Bisa ya, Mas. Memiliki ambisi berlebih terhadap dunia," ucap Ai heran.


"Jangan heran, Ai. Jika yang selalu dipikirkan dunia maka tidak akan ada habisnya. Jadi selalu kurang dan kurang,"


"Tapi kita butuh kan? Dengan yang namanya dunia?"


"Betul, namun harta itu titipan, bermewah-mewahan telah melalaikanmu Anak Adam berkata : “hartaku! Hartaku! Padahal kamu tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang telah kamu makan lalu sirna. Atau apa yang telah kamu pakai lalu lapuk, atau apa yang telah kamu shadaqahkan lalu kekal.” (HR. Muslim),"


"Jadi merinding aku, Mas. Tujuan utama yaitu menuju kampung yang abadi ( akhirat). Kita di Dunia hanya sebatas singgah sebentar. Ibarat sebuah stasiun tempat kita menunggu kereta untuk di jemput( kematian). Jadi sia-sia jika kita menghalalkan segala cara ya, Mas,"


"Iya, Sayang. Kisah Sari bisa kita jadikan contoh. Bahwa ketika kita yang dikejar hanya kesenangan dunia maka tidak akan bahagia, tolong kamu ambil piring ya, Sayang,"


"Aku, Ayah. Ini sudah selesai sholat,"


"MasyaAllah, pinter anak Ayah," Alia mengambil piring yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Ini, Ayah. Harum, ... adek jadi lapar,"


"Kenapa kalian jam segini sudah lapar?"


"Tadi makannya sedikit, sebel sama Tante yang ketemu kita. Ngelihatnya ke arah Om Izal terus, adek nggak suka,"


"He ... anak Ayah. Sejak kapan posesif begitu sama Om kamu, padahal dia mau punya anak sendiri loh. Dede bayi, mungil," ucap Al.


"Kalau dedek bayinya anak Om Izal nggak apa lah. Nanti Alia bisa ikut jagain. Ini yang ngelihat Tante-tante. Rasanya pengin nyubit, kan Om Izal punyanya Tante Lina sama Alia,"


"Sayang, kita nggak boleh membenci seseorang begitu saja. Bisa jadi Tante itu ada alasan kenapa melihat Om kamu terus. Belajar melihat sesuatu yang baik-baik saja," ucap Aini menasihati.


"Orang baik, kata Bu Guru tidak melihat yang bukan muhrim,"


"Alia tau, muhrim itu apa?" tanya Aini. Anaknya menggeleng.


"Ayah, gosong nanti ayamnya. Cepetan di matikan kompornya!"


"Maaf, Pak Al. Ada yang ingin bertemu Bapak," ucap Pak Arif.

__ADS_1


__ADS_2