Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Candaan yang membuat hancur


__ADS_3

Hendak mengejar keburu pintu kamar ditutup dari luar oleh Aini. Diusapnya kening yang benjol, Aini menutup pintu dengan sangat kuat. Al berjalan gontai mengambil kotak P3K mengobatinya sendiri.


Ini gila, bagaimana caraku mengembalikan kepercayaan istriku. Zaki ... kamu sengaja memancingku kan? Haha ... tapi bagaimana bisa aku menyalahkan orang lain yang jelas-jelas aku sendiri sadar saat mengucapkannya. Mataku jelas-jelas ikut mengamati arah pandang Zaki.


Aku harus minta tolong sama siapa? Masa iya harus mengikuti alur yang dibuat Aini.


*****


Sementara di kamar tamu Aini merasa sangat puas dengan acting sendiri. Dia terbahak, memang gila seperti yang di katakan Mas Al. Apa aku tahan ya acting seperti ini lagi besok. Ternyata butuh skill yang bagus untuk menyempurnakan peran, ada perasaan tak tega.


[Lin, kasihan Mas Al. Dia sangat frustasi melihat perubahanku] pesan aku kirim ke Lina.


[Biar saja, Mba. Siapa suruh main-main, tak habis pikir kenapa ikut-ikutan Mas Zaki]


[Aku sekarang tidur di ruang tamu, sesuai rencana kita]


[Bagus, sampai sekarang Mas Al belum telpon lagi. Dia percaya kalau aku nggak tau menahu]


[Kamu nggak ada niat kerumahku, untuk melihat pertunjukanku? Rasanya aku tak kuat menahan tawa, tapi aku puas. Sakit banget, Lin. Mendengar langsung pengakuan Mas Al hendak menikah kembali] langsung centang biru tandanya Lina masih didepan hpnya.


[Aku tau, Mba. Dan aku ikut sedih dengan apa yang sudah Mas Al ucapkan. Aku tau bagaimana posisi Mba Aini saat mendampingi dia sedang terpuruk.]


[Khilaf kata Mas Al] jawabku.

__ADS_1


[Khilaf kok dengan sadar, aku sendiri ikut mendengar obrolan mereka. Mungkin Mas Al juga nggak tau kalau suara mereka terdengar sampai di telingaku]


[Terimakasih ya, Lin. Sudah jadi teman curhatku. Silahkan lanjutkan aktivitas nya😄]


[Jam segini aktivitas apa, Mba?]


[Hem ... apalagi kalau bukan sama Izal🤣, udah Mba mau tidur, persiapan besok pagi mau acting kembali. Sayangnya sakit hatinya bukan acting tapi nyata🤧]


[Sabar mbakku sayang] pesan terakhir dari Lina tak aku jawab lagi jika aku balas maka sampai pagi tak akan selesai.


Aku tersenyum kecut, pada kenyataannya aku mengalami yang hal yang seperti ini. Dulu Mas Al tak pernah menanggapi perempuan jadi merasa sangat tenang, ternyata manusia tak ada yang tau. Apalagi soal iman, bisa jadi pagi dalam keadaan beriman dan kafir di sore harinya. Sore dalam keadaan beriman kafir dipagi harinya. Maka jangan sekalipun kita sombong dengan keimanan kita. Jangan pernah merasa diri kita sudah paling baik dan mencibir orang lain yang sedang berbuat dosa.


Tengah malam Al menuju kamar tamu, dia mendekati istrinya. Ditatapnya wajah istrinya yang sudah terlelap, dia tak berani mengusik istrinya yang sudah tidur dengan HP masih ditangannya.


Dielus rambutnya yang panjang, tak ada pergerakan sama sekali menandakan sangat nyenyak.


[Boleh aku telpon, Mas?] pesan masuk dari no tak di kenal. Dia tak menjawab, masih terlihat sedang mengetik.


[Masih ingat kan dengan janji kamu, Mas?] dia terlonjak melihat pesan masuk. Dia mengingat janji pada seseorang memangnya kepada siapa? Al masih tidak bergeming, tak mau melanjutkan kekonyolannya. Dia hanya main-main bersama Zaki. Tapi kok ini wanita menanggapi dengan serius. Ah ... iya, wanita itu melihat segala sesuatu dengan perasaannya.


[Mas, aku mau melanjutkan obrolan kita. Aku mau jika di jadikan yang kedua seperti yang diucapkan Mas Zaki. Aku dapat nomor Mas Al dari Mas Zaki]


[Kata Mas Zaki aku disuruh menyusul saja kesitu, nanti aku bisa tinggal di dekat rumah Mas Al, supaya Mba Aini tidak curiga] masih mengetik, baiklah biar aku simak sampai akhir.

__ADS_1


[Mas, aku rela dijadikan yang kedua asal aku dihidupi dengan layak. Aku tau Mas Al adalah teman Mas Zaki jadi aku paham dengan yang Mas Al maksud] aku semakin geram dengan bahasa anak ini. Tanpa berniat membalas aku langsung pencet tombol telpon. Rasanya tak mantap menjawab hanya di WhatsApp, takut dia menyalahartikan bahasa yang terkandung dalam pesan.


"Apa kamu bilang? Apakah kamu tak punya harga diri sedikitpun?"


"Harga diri? Harga diriku sudah nggak ada, sejak suamiku mencampakkan aku. Aku harus menghidupi anak sendirian,"


"Aku tak peduli, aku nggak pernah janji apapun!"


"Mas, memang kamu nggak janji. Tapi Zaki sudah menawarkan diriku buat mas Al. Dan Mas Al tidak menolak,"


"Saya menghargai kamu sebagai seorang wanita, tak mungkin menolak kamu di hadapan umum. Namun bukan berarti saya setuju dengan ide konyol Zaki dan bapakmu, apa kamu pernah berfikir jika kamu berada diposisi istriku saat ini?"


"Mas, uangmu cukup banyak. Jadi aku yakin Aini tidak di rugikan masih tetap dapat jatah lebih banyak dariku,"


"Astaghfirullah, saya heran kok ada antara Bapak dan anak sama-sama nggak waras. Kamu secara tidak langsung telah merusak rumah tanggaku,"


"Bagus dong kalau begitu, jadi aku nggak perlu jadi yang kedua,"


"He ... siapa yang mau menjadikanmu yang kedua, siapa juga yang mau menjadikanmu yang pertama? Dengar baik-baik saya tak pernah janji apapun kepada kamu. Jadi jangan mengharap apapun dariku, saya tak akan memberikan apapun kepadamu. Kamu bukan siapa-siapa?"


"Aku bukan merusak, aku hanya ingin masuk menjadi bagian,"


"Tidak akan, saya pastikan ini pertama kamu telpon dan terakhir kamu telpon. Dan inipun kamu yang telpon saya tak ada niat sedikitpun untuk menghubungi kamu. Dan perlu kamu ingat kamu bukan siapa-siapa. Bisa saja tadi nomormu saya blokir, tapi saya tipe orang yang nggak suka lari dari masalah. Saya mengangkat telpon ini jangan disalah artikan,"

__ADS_1


"Mas, aku mohon bantulah aku untuk memberikan yang terbaik bagi anakku,"


"Kamu memohon padaku? Harusnya kamu mohon ampun sama Allah. Mintalah ampun, dan jangan pernah mau mengusik kehidupan rumah tangga orang lain, bukankah kamu sudah pernah merasakan di campakan? Harusnya hidupmu buat cerminan, jangan berniat membuat orang lain mengalami hal yang sama denganmu. Sekali lagi saya tekankan, saya tidak pernah menjanjikan sesuatu sama kamu. Saya punya kehidupan sendiri yang sudah sangat bahagia dengan istri dan anakku. Saya diam dan tidak menolak waktu itu hanya bentuk kemanusiaan menyelamatkan harga dirimu dan menjadikan itu hanya sebuah candaan supaya tak ada yang terluka. Namun saya salah, tidak seharusnya saya bergaul dengan kamu ataupun Zaki. Saya salah candaan itu menyebabkan aku ... Aini!"


__ADS_2