
Pukul 09.00 keluarga kecil Al Ghazali sudah sampai di bandara untuk menjemput orang tuanya. Cuaca cukup dingin, kota P diguyur hujan sejak tadi pagi. Sudah berkali-kali Al melihat jam ditangan kanannya.
"Mas, harusnya jam berapa pesawat yang ditumpangi Bapak landing?" tanya Aini sudah mulai cemas karena sudah 30 menit mereka menunggu belum ada tanda-tanda kedatangan orang tuanya.
"Harusnya jam 09.00 tadi Ai, Mas mengubungi Bapak juga belum aktif. Terakhir aktif 2 jam yang lalu pas di Bandara Soekarno Hatta," meski Al nampak tenang namun dia juga ada perasaan khawatir.
"Ya Allah, semoga baik-baik saja," doa Ai.
"Aamiin," ucap mereka serempak.
"Ayah, Bunda baca istighfar yang banyak. Kata Bu Guru jika kita lagi takut harus banyak istighfar," ucap Alia polos.
"Iya Sayang, InsyaAllah Kakek sama Nenek baik-baik saja," Aini merasa bersalah sudah menujukan kecemasan dihadapan anaknya.
"Itu dipapan informasi Mas melihat ada keterangan keterlambatan dikarenakan Holding Area, semoga lancar semuanya,"
"Syukurlah, aku cukup khawatir mengingat cuaca tidak terlalu bagus,"
"Alhamdulillah lihat itu, keterangannya pesawat yang ditumpangi Bapak sudah landing, terimakasih ya Allah," ucap Al.
"Kalian tunggu disini saja, kasihan adek harus ikut mondar-mandir, biar aku yang menyambut beliau,"
"Baik Mas, kita tunggu disini,"
Alia tidak bisa diam, jalan kesana kemari. Pandangan Aini tak lepas dari anaknya, mengingat tempat umum yang cukup rame.
"Mbak Aini?"
"Maaf, siapa ya?"
"Kenalkan saya Firman suami Indri,"
"Kok bisa tau nama saya,"
"Siapa si yang nggak tau dengan Mbak Aini sosok cantik, anggun, dan penuh kelembutan,"
"Maaf Bang, sebelumnya kita tidak kenal jadi nggak mungkin Anda mengenal siapa saya," ucap Aini tegas namun dengan wajah ramah. Aini berjalan menuju keberadaan anaknya dan digandengnya. Orang yang mengenalkan diri sebagai suami Indri berjalan mendekati Aini lagi.
"Mbak, saya mau ngomong. Apakah benar suamimu selalu menggoda istriku? Dia meminta berpisah karena mau diperistri oleh bos barunya," sebenarnya Aini kaget dengan pernyataan Firman namun dia mencoba tenang, dia tau siapa Indri.
"Terus apalagi yang dia katakan?" ucap Aini memancing.
"Indri tak bisa menolak suamimu, dia terus meminta saya menyetujui keinginan dia berpisah dariku, atau aku harus berubah. Asli Mbak, saya sudah mencoba berubah, tapi keinginannya selalu diluar kemampuanku,"
"Maaf Bang, ini ranah rumah tangga Anda. Jadi jangan curhat sama saya, orang yang baru pertama kali Anda temui, itu suami saya datang, permisi," Firma mengepalkan tangannya merasa diabaikan oleh Aini. Firman mendekati Al Ghazali, dia tidak peduli sedang berada di keramaian.
__ADS_1
"Halo Bos, apa kabarnya? Boleh saya bicara sebentar?" ucap Firman. Al menatap heran, "Maaf, dengan siapa?" tanya Al.
"Saya suami Indri," Al mengangguk-angguk dan melihat kearah istrinya namun ternyata mereka sudah heboh dengan drama pertemuannya setelah hampir satu tahun tidak bertemu.
"Apa maksud Bos merayu istriku?" Al menepuk pundak orang yang baru ditemuinya.
"Kenalkan, saya Al Ghazali. Orang biasa panggil dengan sebutan Al. Mungkin lebih enak manggilnya," sambil tersenyum.
"Saya Firman, Bos salam kenal,"
"Bang Firman yakin kalau saya menggoda Bu Indri?"
"Maaf Bos, saya hanya kecewa Istriku meminta pisah karena mau bersama Bos,"
"Mungkin istrimu butuh sekolah lagi, sudahlah kalau Bang Firman masih penasaran dengan kelakuan Bu Indri nanti atau kapan bisa datang ke rumahku. Rumahku terbuka untuk menyambut kedatangan Bang Firman, sudah ya saya mau pulang dulu capek," menepuk bahu Firman lagi.
Heran dengan kelakuan suami istri itu, namun dari pandangan pertemuan pertamanya Al tau kalau Firman orang yang baik, hanya saja kelakuan seperti yang dia dengar karena keadaan. Melihat tingkah laku Indri jadi semakin yakin kalau Firman berbuat demikian karena ada alasan.
Alia sudah berada digendongan Kakeknya, canda tawa sudah menyelimuti mereka. Baik Al maupun Aini tidak membuka sedikitpun obrolan mengenai orang yang baru ditemui tadi.
"Mak gimana naik pesawatnya, asyik kan?" goda Al.
"Asyik apanya, orang dikira mau turun ternyata malah naik lagi dan muter-muter entah berapa kali, sampai nggak karuan Emak," Emak heboh cerita.
"Pak, kami itu cemas banget sudah mau nangis rasanya,"
"Maaf, Bapak lupa nggak ngabari kalian, tadi delay 20 menit,"
"Pantesan lama sampai, meski cemas tapi nggak apa, yang terpenting Bapak sama Emak sudah sampai. Kalian tunggu dulu disini, biar aku ambil mobil dulu,"
"Bapak ikut ya, pengin lihat suasana di parkiran," kelakar Bapak sambil tertawa.
"Bapak suka kepo ya Ai," ucap Emak jail.
"Jangan mulai Mak, belum saatnya. Nanti kalau sudah dirumah," jawab Bapak.
"Aku sudah capek Yah, Kek, cepetan ambil mobilnya," rengek Aini yang sudah turun dari gendongan Kakeknya.
"Cucu kakek mana capek, dari tadi gendong juga,"
"Sini gantian gendong Tante cantik dulu,"
"Ye ... ada yang ngaku cantik nih," goda Aini.
"Apa si Mbak, sirik aja. Memang cantik kan sayang," Alia pertama ketemu sama Tantenya langsung nempel.
__ADS_1
"Tuh kan, anak kecil saja tahu kalau aku cantik,"
"Ye ... narsis," cibir Aini.
"Alhamdulillah sudah ada yang mengendong adek, Nenek nggak sanggup masih senam jantung karena dibawa muter-muter dulu diatas," Emak terlihat sedikit pucat. Aini mengelus pundak Emaknya, mengolesi dengan minyak kayu putih.
"Minum lagi Mak, aku bawa teh hangat ini,"
"Mantuku memang sangat pengertian, terimakasih sayang," ucap Emak sangat tulus. Emak meneguk teh manis yang masih hangat dari termos kecil.
"Semoga mertuaku macam Budhe,"
"Aamiin, sudah pengin nikah kamu, Mbak punya banyak calon tenang saja. Baik-baik semua tenang saja,"
"Aku kesini mau cari pengalaman, bukan cari jodoh Mbak,"
"Sambil menyelam minum Air lah Lin,"
"Kembung Mbak, menyelam minum air segala,"
"Ngomong sama adikku yang satu ini repot, cocok ini kalau ngomong sama Izal,"
Lina sangat penasaran dengan omongan Aini, siapa itu Izal. Lina memastikan Izal itu orang terdekat mereka.
"Sudah ributnya, ayo lekas masuk dibelakang mereka ngantri juga," titah Al.
"Mbak, aku didepan ya. Takut mabok lagi, capek banget Mbak,"
"Nggak boleh, sampingku khusus buat istri kesayangan,"
"Masih saja posesif ya mas, padahal pengantin lama, baiklah aku ditengah, pokonya nggak mau dibelakang sendiri, kita duduk ditengah ya sayang" mengelus kepala Alia.
"Bapak, pakai bawa si bawel ini kesini."
"Kenapa si kalian selalu saja ribut ketika ketemu, sudah cepetan masuk, nggak enak sama mobil yang dibelakang,"
"Bapak yang didepan saja, aku sama Emak dibelakang sendiri,"
"Ai, kok gitu si?"
"Al, keterlaluan kamu. Ini Bapakmu sendiri loh, istrimu masih satu mobil, heran," Bapak tak peduli dengan sikap Al dia duduk disamping anaknya.
✨✨✨✨✨✨
Holding Area adalah tempat pesawat menunggu di udara, dengan cara berputar-putar biasanya menunggu antrean untuk landing.
__ADS_1