
*Flashback On*
Tadi dia ada di dekatku, kemana ya? Aku mencari keberadaan suamiku, nggak biasanya dia menghilang. Aku melihat Mas Al sedang ngobrol dengan rekannya Mas Zaki, tak jauh dari tempat Izal dan Lina duduk bersanding di pelaminan. Aku mau menegur segera aku urungkan, aku hanya mendengarkan obrolan mereka yang terlihat sangat asyik, sampai tak menyadari kehadiranku yang berada didekatnya.
"Al, aku dengar usaha kamu semakin melesat. Tak menyangka kamu bisa mengulang masa emas, justru sekarang lebih sukses dari sebelumnya,"
"Atas ijin Allah, Zak. Sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, namun Allah yang menentukan hasilnya,"
"Masih tak berubah, selalu rendah hati. Kapan balik perantauan lagi?"
"8-10 harian lagi?"
"Al, kamu gak memperhatikan, sejak tadi kamu lagi jadi pusat perhatian para wanita," ucap Zaki. Hal ini sudah membuatku panas.
"Zak, mereka lagi memerhatikan kamu. Kamu rajanya playboy, terkenal ketampanannya, bukannya semua orang sudah tau sepak terjang kamu?"
"Al, mereka bukan melihatku. Jelas-jelas mata mereka mengarah kepada kamu, duit kamu banyak jadi kamu bebas tuh menikahi mereka. Banyak loh wanita yang butuh dinafkahi, apa kamu nggak kasihan, melihat mereka haus belaian dan haus duit?" ucapan Zaki membuat Aini jijik. Bergidik ngeri untung bukan dia yang menjadi istrinya.
"Zaki ... Zaki ... Kenapa kamu nggak berubah? Kelakuanmu masih sama ya, kasihan ... sudah berapa banyak wanita yang kamu kecewakan? Bagaimana dengan istrimu?" tanya Mas Al.
"Al, mereka hanya butuh cuan, istriku yang penting dikasih banyak duit, istrimu juga pastinya begitu. Wanita pada dasarnya itu sama, kasih banyak duit buat belanja nanti juga bakalan diam. Aku tau kamu juga pastinya mau sepertiku. Tenang duit kamu nggak akan habis jika kamu gunakan buat menikah lagi, bersenang-senang sedikit juga bisa, tanpa kamu harus menikah," ucap Zaki sambil tertawa. Aku masih menanti jawaban dadi Mas Al, kiranya apa ya jawabannya?
__ADS_1
"Lihat itu yang baju ungu, sangat menggoda Al. Yakin kamu nggak tertarik hanya bersenang-senang? Lihat saja gayanya dia nggak perlu di nikahi sudah cukup, yang penting dikasih duit," ucap Zaki lagi. Aini sudah merasa sangat muak dengan perkataan Zaki. Kelakuan bejat kok ngajak teman! Kayaknya mesti di bawa ke tempat bengkel biar bener lagi tuh otak. Aku sangat deg degan dengan jawaban suamiku.
"Boleh juga ide kamu, Zak," ucap Mas Al tanpa tawa sedikitpun, kaget mendengar pernyataan Mas Al, nada ucapannya begitu serius, astaghfirullah. Hatiku seakan ditusuk, ya Allah sakit banget. Jadi begitu ya, laki-laki. Saat tak punya apa-apa di dampingi begitu sukses, mencari kesenangan dengan wanita lain. Tak banyak berfikir aku langsung lari ke belakang, pulang ke rumah membiarkan Alia bersama emak. Langsung aku rebahkan diri dikamar yang sudah setahun kami tinggal dan baru 4 hari kami tempati kembali. Isak tangis nggak bisa aku tahan, apakah begini suamiku yang selama ini aku kenal? Berubah dalam sekejap ketika bertemu dengan teman lamanya? Oh ... sungguh malang nasibku. Dulu memang aku tak banyak mengenal siapa calon suamiku. Apakah aku salah mengambil keputusan menikah dalam waktu cepat.
Tega sekali kamu mas, sehingga seperti itu kamu jadikan bahan tertawaan. Aku tak menyangka jawaban yang keluar dari mulut Mas Al. Setelah puas menangis aku lekas membersihkan diri dan akan bertekad ikuti permainan Mas Al. Aku hanya mengirimkan pesan ke Lina jika Alia mencari aku sedang pulang dulu sebentar, untuk mandi dan ganti baju.
*Flashback off*
"Sayang, jadi kamu mendengar pembicaraan Mas sama Zaki?" tanya Al dengan wajah memerah karena sangat kaget. Rasanya hari itu istrinya baik-baik saja ketika bertemu, tak menujukan kemarahan sedikitpun. Bahkan terlihat lebih segar meski aku sempat bertanya kenapa matanya merah, dia menjawab kalau habis ada debu masuk mata pas pulang naik motor. Saat selesai resepsi aku mencari keberadaan Aini namun tak aku jumpai. Lina bilang kalau Aini lagi pulang dulu untuk mandi dan Lina menyuruhku menunggu disini saja, jangan menyusul karena sebentar lagi Aini mau balik kesini. Akupun tak bertanya lebih lanjut.
"Kamu jahat, Mas! Inilah yang aku takutkan, aku sudah mengorbankan karirku untuk menyenangkan kamu. Tapi justru kamu mau menikah lagi, aku tau kamu banyak duit sekarang!" ucap Aini ketus.
"Sudah cukup, Mas. Aku sudah mendengarnya, kamu bukan mas Al yang aku kenal, kamu berubah setelah bergelimang harta," Aini memberontak ketika Al berusaha memeluknya. Aini bertekad mengikuti permainan suaminya tapi pertahanan menahan emosinya tak tahan juga akhirnya.
"Sayang, aku tau kamu bakal marah ketika mendengar ucapan ku, tapi jika kamu mendengar seluruh percakapanku sama Zaki maka aku yakin, kamu nggak akan marah. Yang kamu dengar hanya sebagian, Aini," ucap Al melunak. Al masih mengingat kalimat yang diucapkan di awal memang menandakan kalau dia berminat menjadi orang seperti Zaki.
"Mas, aku mendengar pembicaraan kalian cukup lama. Begitu seriusnya sampai-sampai aku berada di dekatmu kamu tidak menyadarinya!" suara Aini sangat pilu.
"Mas, mau menikahi siapa rencananya? Nur anaknya Paman Kardi, apa Sari anaknya Paman Sarno? Oh masih ada lagi, habis pulang kampung panen nama perempuan buat penggantiku,"
"Sayang, sudahlah jika kamu capek istirahatlah,"
__ADS_1
"Aku nggak capek, jika kamu mau menjadikan aku pemuas naf"sumu!"
"Aini, Mas bilang kamu harus dengerin penjelasan dulu. Jangan terus kamu potong ucapanku!" bentak Mas Al. Aini terdiam, dia berlari ke kasur tidur menelungkup sambil terisak. Semakin menambah keyakinan Aini kalau yang diucapkan benar. Sebelumnya Mas Al tak pernah membentak, kecewa sangat kecewa dengan perubahan Mas Al.
Al berjalan mendekat ke Aini, dia duduk dimana istrinya menangis. Al mengelus punggungnya, tak ada kata yang Al ucapkan. Al membiarkan istrinya puas menangis. Al mengurungkan niatnya keluar, akhirnya dia menemani istrinya di kamar hingga keduanya tertidur.
Al yang terbangun terlebih dahulu membiarkan istrinya tidur beberapa saat lagi. Kesalahpahaman itu sangat menyebalkan, mungkin akan mendatangi Zaki untuk menjelaskan kebenarannya. Alia hari ini banyak bermain dengan karyawan ayahnya. Jadi nggak mencari-cari bundanya.
Selesai dari masjid Al kembali ke kamarnya untuk melihat keberadaan istrinya dan membangunkan untuk sholat asar. Dia tak menjumpai siapapun di kamar, Al mencari di dapur, kamar Alia, keliling ke ruang kerja karyawan bahkan semua ruangan sudah ia telusuri. Pencariannya tak membuahkan hasil, Al bertanya kepada setiap karyawan yang dijumpainya.
"Lastri, apa kamu melihat bundanya Alia?"
"Loh, semenjak pulang aku belum berjumpa. Baru jumpa dengan oleh-olehnya saja, Pak,"
"Alia, kamu sama Mbak Lastri ya. Ayah mau pergi sebentar sama Bunda," Al sengaja membohongi Alia takut anaknya panik.
"Pak, mungkin kecapekan dan tertidur di kamar?"
"Tri, kalau aku belum pulang tolong kamu jaga Alia dulu ya. Jangan dulu pulang, Terimakasih," Al sudah panik.
Kemana harus mulai mencarinya, dia berusaha menelfon namun nomor sedang berada diluar jaringan. Kenapa jadi kalau begini? hanya gara-gara ucapan. Apalagi jika sampai benar-benar melakukan perbuatan itu. Kemana kamu pergi Aini? Ini bukan di kampung halaman kamu?
__ADS_1