
"Assalamualaikum Mbak, baru berangkat? Biasanya pagi banget," Indri tiba dihalaman rumah Aini.
"Wa'alaikumussallam, sekarang Sabtu Bu Indri kegiatan ekstrakurikuler hanya 2 jam itupun lebih siang dari biasanya,"
"Mari Mbak, aku masuk dulu. Teman-teman sudah pada datang?"
"Belum Bu, masih pagi banget. Baru ada Izal tadi, maklum lajang jadi bebas datang kapan saja," tersenyum sumringah.
Indri melangkahkan kakinya masuk menuju rumah melalui pintu samping yang langsung mengarah ke ruang kerja karyawan, disana sedang ada Izal yang mulai menyiapkan perlengkapan.
"Assalamualaikum Zal, gasik banget. Kakak kalah ini, anak lajang dilawan," ucap Indri.
"Wa'alaikumussallam Kak, bisa aja kak. Sendirian?" ucap Izal basa basi aslinya sangat tidak ingin menyapa, tapi dia teringat akan pesan bosnya.
"Zal, berangkat gasik duduk dulu kenapa? Sudah sibuk saja, bukannya jam 08.00 mulai jam kerjanya," ucap Indri heran.
"Kak, pesan orang tuaku ketika kerja jangan terlalu perhitungan apalagi cendrung korupsi waktu, Allah yang akan menilai kinerja kita bukan semata-mata penilaian bos. Ketika kinerja kita bagus maka Allah akan menggerakkan hati bos untuk naik gaji contohnya, jangan menunggu ada bos kita kerja gasik, kerja cepat karena penentunya bukan bos, tapi Allah sang Maha Pemurah, pepatah juga mengatakan apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Ketika aku menjalankan pesan orang tua bukan hanya aku yang diuntungkan, namun aku bisa memberi kesempatan bagi orang tuaku mendulang pahala,"
"Pagi-pagi sudah dapat ceramah saja," gerutu Indri lirih namun masih terdengar di telinga Izal.
"Kak, kalau ngomong yang jelas, biar lawan bicaranya paham," ucap Izal tegas seperti Pak Bosnya.
"Nggak Zal, kakak lagi ngomong sendiri."
__ADS_1
"Kalau Kakak masih mau duduk-duduk dulu nggak apa kok, tidak usang sungkan," seloroh Izal.
Indri datang lebih awal bukan tanpa alasan, dia ingin melihat pertunjukan pagi. Tadi malam dia sudah membayangkan yang bakalan terjadi pagi ini.
Rekan kerja lainnya sudah mulai berdatangan, saling sapa dengan semangat. Memulai hari dengan semangat menjadikan suasana hati gembira sepanjang hari.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 namun belum ada tanda-tanda kehebohan terjadi. Indri masih harap-harap cemas, masih mengira-ngira. Sambil mengemas dia sesekali melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Gus, Bagus ... mari kita ke ruangan giliran kita hari ini buat packing," Soleh bicara dengan keras.
"Leh, memang itu tugas kita kan, bukan hanya hari ini. Bikin heboh saja, siap let's go!"
Indri heran mengapa mereka diam saja, bukannya Soleh dan tim sudah ada di ruangan, itu artinya dia sudah melihat. Indri melihat mereka sudah mulai memindahkan box-nya untuk diletakkan ditempat biasa yang nantinya memudahkan bagian delivery memindahkan ke motor masing-masing. Box mulai tersusun rapi, semua tak luput dari pandangan Indri, ruangan memang dibuat tanpa sekat, kecuali ruangan penyimpanan tempe dibuat sistem rak bersusun.
Mak Dang saling tatap dengan Izal, saling memberi kode. Dan pandangan mereka beralih ke Indri dengan wajah terkejut karena tidak sesuai dengan perkiraan. Apa mungkin minyak kurang banyak ya? Pertanyaan muncul dalam hati hati Indri. Padahal yang dipakai adalah minyak jelantah alias minyak bekas, harusnya tempe yang untuk dikirim hari ini busuk. Nanti sore aku pastikan akan ngasih minyak lagi, semakin penasaran kenapa tidak sesuai dengan rencana.
"Nggak apa Mbak, hanya teringat Davi anakku. Tapi belum aku masakin. Kalau sama Neneknya suka yang dimakan mie instan,"
"Bersyukur Kak, sudah dikaruniai anak. Jaga baik-baik, jangan sampai menyesal. Sempatkan masakin dulu lain kali, bukan maksud menggurui tapi itu wujud syukur, saya sudah menanti 2 tahun Kak belum dikasih,"
"Mbak Lastri yang kurang subur mungkin?" Lastri tidak menjawab hanya menunduk. Sudah sering orang menyalahkan keadaan Lastri, sudah menjadi makanan sehari-hari.
Indri menyadari perubahan respon Lastri "Maaf Mbak, bukan maksud," Indri meminta maaf. "Nggak apa Kak, sudah biasa. Sudah mulai kebal, makannya aku nyaman kerja disini karena tak ada yang pernah menyinggung perasaan kami, supprt dan semangat selalu kami dapat disini. Jadi kakak bukan orang pertama yang mengatakan itu. Mungkin dulu aku selalu menangis jika ada yang berkata seperti itu, tapi kalau sekarang tak lagi," ucap Lastri tegas.
__ADS_1
"Maaf Mbak, beneran,"
"Sudahlah Kak, nggak usah dipikir. Yang penting harus diingat jaga ucapan kita kepada siapapun. Kita juga tidak mau jika disakiti, maka jangan sampai ucapan kita secara tidak langsung menyakiti orang lain,"
"Ternyata disini profesinya pada beralih jadi penceramah ya?"
"Apa Kak, ngomong yang jelas sekalian. Jadi tidak membuat aku curiga,"
Sudah banyak box tersusun kok ekspresi mereka baik-baik saja ya? Apakah aku yang gagal, tapi kenapa? Bukankah Pak Al mengatakan jangan sampai tanganku kotor apalagi kena minyak, karena bisa menyebabkan pembuatan gagal. Aku akan cari kesempatan hari untuk menumpahkan minyak di wadah yang biasa digunakan untuk mencuci kedelai. Kali ini harus berhasil, jika tidak maka aku akan mencari cara agar berhasil tapi hati kecilnya selalu teringat nasihat ibunya.
Flashback On
"Sebenarnya dalam hidupmu apa yang dicari Nak?"
"Aku ingin seperti orang-orang Bu, hidup berkecukupan. Tanpa aku harus kerja kehidupannya terpenuhi, aku ingin seperti mereka yang selalu dimanjakan oleh suami," ucapku kala itu.
"Maka kamu juga harus lihat bagaimana sikap istri-istri yang seperti kamu mau, perbaiki diri Nak, memantaskan diri," nasihat Ibu.
"Aku harus bagaimana? Aku selalu memantaskan penampilanku, penampilanku selalu aku perhatikan, setiap hari pakaian rapi dan wajah selalu aku rawat Bu," protes Indri.
"Bukan itu Nak, bukan penampilan tapi sikap, tutur kata dan perbuatan yang harus kamu perbaiki. Kamu bisa mencontoh Ibu Bos kamu, Bu Aini sosok yang sangat ramah, penyayang pantas jika dia mendapatkan pasangan seperti Pak Al Ghazali. Pasangan/jodoh adalah cerminan kita. Kamu pengin pasanganmu Sholeh maka kamu harus Sholeh juga," ucap Ibunya dengan penuh harap.
"Kenapa aku mesti mencontoh Aini, kenapa semua orang selalu membanggakan dia, aku selalu dikucilkan jika dibandingkan dengan Aini, aku semakin membenci Aini," Indri ketus.
__ADS_1
"Istighfar Nak, jangan suka mencela orang lain. Karena Allah tidak menyukainya dan mereka yang berbuat demikian akan mendapatkan dosa yang begitu besar. Apalagi keluarga Bu Aini sudah menolong kita dengan menerima kamu jadi karyawan, jangan meminta lebih. Belum tentu ketika kamu jadi istrinya Pak Al dulu saat belum sukses kamu bakalan tahan. Pak Al dulunya pernah nggak bisa ngapa ngapain, Aini yang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jangan pernah mengharap milik orang lain Nak, tapi syukuri yang sudah kamu miliki," nasihat tulus seorang ibu yang tidak ingin anaknya jatuh dalam lembah dosa berkepanjangan.
Flashback off