
AFRIZAL DANURRAHMAN
Biasa dipanggil dengan sebutan Izal, anak dari pasangan Pak Danurrahman dan Bu Yuli. Pemilik perkebunan sawit yang sangat sukses, tidak akan habis 7 keturunan. Pak Danu awalnya hanya merantau di pulau ini mengadu nasib menjadi transmigrasi. Seiring perjalanan waktu aset di daerah asalnya Jawa Barat di jual kemudian dibelikan lahan sawit di sini, dan berkembang sampai sekarang. Izal lahir di kampung, ketika usia 3 tahun Izal kecil dibawa orang tuanya pindah disini. Sudah 21 tahun keluarga Pak Danu tinggal di pulau ini.
Awal Izal bekerja di tempat Al adalah hanya sebuah pelarian ingin menjauh dari luka yang ditorehkan oleh kekasihnya yang menginginkan menikah dengan Izal karena harta yang dimiliki orang tuanya. Tak disangka Izal sangat nyaman dengan keberadaan di tempatnya bekerja padahal kekayaan dia jauh diatas Al Ghazali.
Izal banyak belajar tentang kehidupan dengan Al Ghazali dan Aini, apalagi dia menjadi saksi pertumbuhan usaha itu dari awal merintis sampai saat ini yang sudah berkembang pesat, bahkan keberadaan dia sudah diketahui Pak Danu.
Pak Danu menyelidiki keberadaan anaknya saat itu, memastikan anaknya baik-baik saja. Izal diperintahkan untuk mengelola perkebunan milik orang tuanya masih menolak dengan dalih mau belajar terjun di lapangan terlebih dahulu, namun tidak menyangka justru Izal memilih menjadi karyawan sebuah usaha kecil. Pak Danu sangat paham, Izal sedang mengobati kekecewaannya karena kekasihnya tidak sepenuhnya mencintai dia, hanya mencintai harta orang tuanya. Izal tanpa sengaja mengetahui kebusukan kekasihnya yang berselingkuh dengan sahabat baik Izal. Izal butuh ketenangan, merenungi hikmah dibalik perselingkuhan kekasihnya.
Karena meragukan kemampuan Bos anaknya maka Pak Danu menyambangi rumah Al Ghazali, untuk menyampaikan perihal Izal. Namun diluar dugaan Al Ghazali dan Bu Aini merupakan sosok mengagumkan, akhlak dan budi pekerti sangat bagus, serta pengetahuan sangat luas, Pak Danu sangat yakin kalau Izal mendapat bimbingan orang yang sangat tepat. Pak Danu melupakan kalau usaha Al baru dirintis, yang dilihat adalah bagaimana kepribadian mereka yang akan menjadi sosok pembimbing anaknya. Terbukti Izal sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal, bahkan selain bekerja ditempat Bosnya, Izal juga masih bisa membantu mengelola perkebunan bapaknya. Membuat orang tuanya semakin mendukung Izal.
Setelah penghianatan kekasihnya Izal bertekad tidak akan menjalin hubungan spesial dengan wanita sebelum ijab qobul. Bukan karena trauma melainkan didikan dari Pak Al mengenai bagaimana kita menjaga pergaulan, Izal sangat beruntung kebusukan mantan kekasihnya sudah terbongkar lebih dulu sebelum pernikahan terjadi.
Flashback *****On*****
"Zal, itulah kenapa Islam melarang pacaran, karena banyak mudharatnya, seperti yang kamu alami saat ini, jadi hilang kendali. Masa, gara-gara cinta hidupmu jadi berantakan," cibir Al sengaja untuk menyadarkan Izal.
"Tapi Pak Al, kalau kita nggak pacaran nantinya gadis idaman kita akan di ambil orang lain?"
"Zal, itu artinya kamu tidak percaya dengan takdir Allah, bukankah Allah sudah jelas-jelas menulis siapa jodoh kita, jauh sebelum kita kita dilahirkan,"
"Pak Al, berarti jatuh cinta haram juga?" tanya Izal penasaran.
"Jatuh cinta itu tidak haram, apa yang kita lakukan terhadap cinta itulah yang akan membuat cinta itu menjadi haram atau halal,"
"Artinya jatuh cinta tidak mengapa, misal kita mengagumi lawan jenis?" tanya Izal lagi.
__ADS_1
"Jatuh cinta itu tak mengapa, namun bagaimana cara kita merealisasikan rasa itu yang perlu dipertanyakan dan dipikirkan. Jangan sampai hanya karena dalih cinta kita menghalalkan hal yang sudah jelas-jelas di larang Allah. Jika kita jatuh cinta dan belum siap untuk menikah, maka tahanlah rasa itu. Jatuh cita itu sebuah rasa yang hadir atas kehendak Allah, bukan kita yang memilih akan jatuh cinta dengan siapa, perasaan itu hadir begitu saja,"
"Baik Pak, jika aku jatuh cinta nantinya aku langsung menikah,"
"Jangan menikah hanya karena jatuh cinta, Zal. Namun menikahlah karena kamu yakin surga Allah lebih dekat bersamanya,"
"Loh jadi gitu Pak, bukankah lebih cepat lebih baik, jadi tidak timbul perbuatan dosa jika langsung menikah?" tanya Izal heran.
"Zal, menikah itu salah satu ibadah terpanjang. Jadi jangan sampai kamu tidak siap dengan lika liku perjalanan dalam pernikahan nantinya. Menikah itu, harus siap ketika kau menemukan suatu kelebihan pasanganmu, dan seribu kekurangannya, bersyukur dengan yang ada padanya, dan memeluk erat semua kekurangannya, seraya memperbaiki tanpa menuntut lebih," Al menjelaskan.
"Jangan yang kamu bayangkan hanya kesenangan semata," ledek Al mencairkan suasana. Izal sangat serius menyimak pemaparan Bos barunya.
"Menikah itu, berarti kau sudah harus siap tak melirik apapun lagi, karena di luar sana, saat itu atau nanti, pelan tapi pasti, akan banyak orang orang tak tahu diri, yang menginginkan kau meninggalkannya, dengan segala bentuk godaan atas kelebihan yang tak kau temukan di pasanganmu, ini godaan berat Zal,"
"Zal, kekasihmu dulu pernah nggak kentut didepanmu?"
"Nggak perlu dipertegas Zal, nggak pernah kan? selalu jaga image agar terlihat sempurna makanya kamu klepek-klepek. Berbeda dengan istrimu nanti, kentut dihadapan kamu," sambil tertawa lebar.
"Pak, tapi rumah tangga Pak Al dan Bu Aini terlihat harmonis,"
"Harmonisnya sebuah rumah tangga itu pilihan kita, jika yang aku bicarakan tadi kamu dan pasangan sudah siap maka lekas menikah, wujudkan menjadi keluarga harmonis. Dan yang terpenting pondasi utama Iman dan Taqwa. Jadi penting bagi kita untuk selalu belajar ilmu agama,"
"Saya sudah selesai Pak, sudah dapat gelar sarjana,"
"Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, mulai dari lahir hingga ke liang lahat," jelas Al lagi. Merasa Izal masih mau menerima nasihatnya.
Sebagian ulama salaf berkata,
__ADS_1
اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد
”Tuntutlah ilmu dari buaian (ketika masih kecil, pen.) hingga liang lahat (sampai meninggal dunia, pen..)”.
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih,
إلى متى وأنت مع المحبرة
”Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?”
Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal,
مع المحبرة إلى المقبرة
“Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.
Maksudnya, janganlah terputus untuk meraih ilmu agama. Raihlah ilmu agama sampai ajal menjemput.
"Pak Al, InsyaAllah Izal sudah paham. Terus bimbing Izal ya Pak, ternyata rencana Allah begitu mulia membuat aku terdampar disini. Saat itu aku betul-betul dalam kondisi sakit hati, butuh pegangan untuk menopang jiwa dan raga ini,"
"Jangan berlebihan, aku sangat berterima kasih kamu mau bekerja disini, sementara aku tau kamu anak dari pemilik perkebunan terbesar di kota ini, apa kamu tak malu Zal?"
"Kerjaan ku halal, Pak. Tenang saja suatu saat aku akan tetap membantu Bapakku mengelola perkebunan, tapi tidak sekarang. Aku masih butuh bimbingan Pak Al dan Bu Aini. Tidak keberatan kan, Pak?"
"Tidak sama sekali, Zal."
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1