Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Harus Lembur


__ADS_3

Packing untuk pengiriman sudah siap semua, mereka melakukan tugas dengan sangat baik tanpa ada satupun yang membuka obrolan kejadian air, mereka yang bertugas delivery sudah siap dengan box masing-masing.


"Leh, jumlahnya sudah sesuai semua?"


"Sudah ok Zal, sudah di cek sesuai daftar pesanan masing-masing kedai," jawab Soleh.


"Ok, aku bawa berapa box sekarang?"


"Sudah ada catatan kecilnya itu jumlah masing-masing customer, pastikan tumpukan box kalian tidak ketukar," titah Soleh.


"Siap," mereka saling membantu membawa box dimasukan keranjang yang sudah terpasang di motor masing-masing.


"Tadi aku habis ngantar dan njemput anak ke sekolah, tumben banget anakku jadi manja," jelas Irma meski tak ada yang bertanya.


"Umur berapa Kak?" ucap Lastri.


"10 tahun, laki-laki. Tidak biasanya seperti itu, nggak enak sebenarnya sama Pak Al meninggalkan pekerjaan padahal kerja baru satu minggu sudah main ijin segala," seolah menunjukkan wajah sedih.


"Nggak apa kok Kak, apalagi urusan keluarga jelas beliau tidak mempermasalahkan. Beliau selalu mengatakan kepada kami harus mengutamakan keluarga. Makanya beliau sangat menjaga perasaan istri dan anaknya, Pak Al jarang marah tapi jangan salah bukan berarti tidak pernah marah, jika ada yang mencari gara-gara dengan kehidupan keluarganya ngeri. Meski Pak Al dan Bu Aini pendatang tapi relasinya orang-orang hebat disini, jarang loh orang seperti itu," cerita Lastri begitu menggebu.


Tentu saja cerita Lastri membuat Indri ketakutan, namun berusaha menetralkan ketakutan tersebut.


"Memang sehebat apa Pak Al ini?"


"Kak Indri nantinya akan paham siapa beliau."


Indri kesal dengan Lastri yang bercerita hanya setengah.


"Ini sudah penuh Mbak Lastri, ayo kita pindah keruangan," ajak Indri.


Siapapun yang melihat Indri yang sekarang akan terkecoh. Sikap dan tutur katanya sangat baik, siapa sangka dibalik itu semua tersusun rencana busuk. Sampai ruangan tanpa sepengetahuan Lastri dia menyunggingkan senyum kemenangan, membayangkan rekasi esok hari semua tempe dalam kondisi busuk, tidak bisa dijual.


Indri mengamati isi ruangan dengan seksama, dibelakang mereka sudah banyak yang mengantri untuk meletakkan hasil kerja mereka.


"Ayo Kak, jangan melamun gantian sama yang lain," ajak Lastri.


"Eh iya," tersenyum kikuk.

__ADS_1


Keduanya kembali mengemas sampai waktu sholat asar tiba.


"Hai Mbak Aini, apa kabarnya?"


"Baik Bu Indri, MasyaAllah cantik banget penampilan hari ini?" dengan senyum tulus.


"Mbak Aini lebih cantik, ada salam dari neneknya Thoriq Mbak, pengin main kesini belum sempat katanya. Beli sayur bareng tadi pagi di depan,"


"Terimakasih Bu Indri, tadi pagi aku nggak belanja jadi nggak ketemu,"


"Akhirnya aku yang belanja Bu, enak belanja sayur disini ya Bu, banyak pilihan yang jelas penjualnya ramah pantas saja rame, pelayanan bagus,"


"Iya betul Tri, bisa diambil pelajaran sama kita dalam bersikap apalagi dengan konsumen jelas mereka senang diperlakukan baik menjadikan mereka langganan," Lastri menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Bu, Lastri sholat dulu ya permisi,"


"Kok jadi lupa tujuan awal tadi, ayo bareng aku juga belum sholat Mbak," Indri menimpali.


"Eh iya maaf ya, jadinya malah ngobrol," Aini merasa tidak enak hati.


Prok prok prok


Sebagai tanda Pak Al akan memberikan instruksi kepada karyawan dengan tangan yang ditepuk.


"Perhatian buat rekan-rekan semua, kemungkinan hari ini kalian akan pulang terlambat, pastikan kalian mengabari keluarga supaya tidak membuat cemas. Kalian jelas paham dengan konsekuensinya jika kerja melebihi jam kerja tentu akan ada kompensasi dari kami," jelas Al tanpa basa basi.


Disambut dengan senyum lebar dari para karyawan, mereka sangat paham dengan bahasa yang disampaikan Bosnya. Al mendekati istrinya yang sedang ngobrol dengan Mak Dang.


"Sayang, Emak sama Bapak mau datang hari Minggu," berbicara mesra kepada istrinya tanpa canggung di depan Mak Dang. Mak Dang seperti pengganti orang tua bagi mereka.


"Beneran Mas, 2 hari lagi berarti? Alhamdulillaah, adek nggak usah dikasih tau dulu Mas, nanti heboh dia tanya-tanya terus, Budhe sudah dikabari Mas?"


"Belum sayang, rencana mau telpon nanti malam,"


"Mak Dang nggak ada yang disembunyikan dariku kan? Tumben pekerjaan jam segini masih banyak?"


"Nggak ada Sayang, iya kan Mak," sebelum Mak Dang menjawab sudah terdengar Al berbicara.

__ADS_1


"Mas, Ai tanya sama Mak Dang kok malah dijawab sama Mas Al," Aini merajuk, merasa ada yang janggal. Sebelum suara Aini meninggi Al membawa istrinya keluar. Mak Dang hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Bosnya.


"Telpon budhe sekarang saja yuk, kita masuk," sambil menggandeng istrinya yang masih dengan mode penasaran.


"Hp ada dikamar tadi ketinggalan," Al menggandeng istrinya ke kamar.


"Nggak ada yang tanya Mas," ucap Aini ketus.


"Mas mau menjelaskan sesuatu Ai, tapi nggak disana. duduklah Mas akan ceritakan semuanya, tapi janji sikap kamu tidak akan berubah setelah mas cerita. Tapi sebelumnya Mas mau cerita bahagia dulu,"


"Memang cerita yang mau diceritakan pertama menyedihkan?"


"Bisa iya bisa tidak, tergantung kita melihat dari sudut pandang mana,"


"Pernyataannya ambigu Mas,"


"Bapak akan membawa sepupuku Lina buat ikut kita disini, sepupu satu susuan sama Mas,"


"Iya Mas, nggak usah dipertegas. Aku tau Lina nggak bisa Mas nikahi meski sepupu, jadi aku nggak perlu cemburu. Itu poinnya kan, lagian jarak umurnya sangat amat jauh,"


"Haha ... ya bisa saja kan kamu salah sangka, mengingat nantinya dia bakal tinggal bareng sama kita sampai dia menikah nanti dan jangan remehkan tentang umur suamimu ini Sayang, tenaga masih full tapi tenang saja nggak ada sedikitpun keinginan Mas buat menduakan kamu,"


"Halah gombal,"


"Lina cantik dan baik, dan kita punya banyak anak lajang dibelakang, aku senang Lina bisa bareng kita Mas."


"Haha ... bisa saja kamu Ai, anak ketemu gede,"


"Terus selanjutnya, kenapa mereka jadinya lembur nanti,"


Al Ghazali menceritakan semua mengapa pekerjaan hari ini ngaret.


"Alhamdulillah Allah tunjukkan siapa dia, banyak hikmahnya. Ai semakin yakin dengan kuasa Allah, semoga Allah beri hidayah ya Mas, rencana selanjutnya bagaimana Mas,"


"Mas akan biarkan dia bekerja disini sampai bosan dengan sendirinya, pastinya dia akan berulah lagi untuk memastikan aksinya kenapa tidak berhasil. Semoga nantinya dia akan sadar, perbuatannya kelewat batas. Mas tidak akan memecatnya, ketika kita memecatnya justru kesempatan bagus buat dia, jadi biarkan dia mengundurkan diri dengan sendirinya nanti,"


"Kenapa mesti seperti itu? Apakah ada alasan lain?" Aini menyelidik.

__ADS_1


__ADS_2