
Bola mata Fathan berbinar ketika ia melihat ada sebungkus keripik kentang yang tinggal separuh wadah plastik bening di meja dapur. Tangan mungilnya kemudian meraih makanan ringan itu lalu setengah berlari menghampiri sang adik.
"Dek, Kakak punya makanan nih, kita makan ini dulu, yuk!" ajaknya antusias.
Fathan dengan susah payah membuka bungkusan yang sudah diikat dengan karet gelang berwarna merah itu. Setelah berhasil dibuka tangannya mengambil beberapa keripik kentang itu dan diberikan kepada adiknya.
Reza menerimanya dengan semringah dan langsung mengunyahnya. Tapi, baru beberapa detik ia menikmati makanannya, raut muka anak laki-laki itu seketika berubah menjadi kembali menunjukkan kekesalan hatinya.
"Aku gak mau makan ini. Gak enak!" histerisnya sembari melempar keripik yang masih berada di jemarinya. Bukan tanpa alasan Reza menolak makanan dari sang kakak. Itu karena saat ia menggigit keripik yang tadi diberikan Fathan ternyata sudah alot dan memang sudah tak layak untuk dikonsumsi lagi.
"Tapi, gak ada makanan yang lain, Dek. Adanya cuman ini doang," bujuk Fathan mencoba menenangkan adiknya yang mulai merengek kembali.
"Aku lapar, Kak, maunya makan nasi," pinta Reza keukeuh.
Fathan membuka rice cooker, hatinya merasa girang karena di dalamnya masih ada sisa nasi yang sudah mulai mengering. Ia pun tak pikir panjang lagi langsung menyendok nasi itu ke dalam piring beling. Bola matanya mengerling mencari sesuatu yang sekiranya bisa untuk menjadi teman nasi agar bisa dimakan. Di dekat kompor anak laki-laki itu melihat botol kecap. Fathan langsung meraihnya dan menuangkan ke atas nasi yang dibawanya.
Reza baru berhenti merengek ketika Fathan membawakan sepiring nasi dengan taburan kecap di atasnya. Kakak beradik itu pun kemudian makan sepiring berdua dengan sangat lahap karena dalam kondisi perutnya yang sedari tadi berusaha menahan rasa lapar.
***
"Gue pernah denger nih, ya, tapi, terserah Lo mau meraktekin apa enggak," bisik Sarah di telinga Sandra.
"Apa, sih?" selidik Sandra penuh tanya.
__ADS_1
"Kalau kata orang-orang, jika kita merasa kecewa dengan sikap lelaki, maka obat penawarnya, ya, cari pria lain untuk mengobati hati kita agar tetap waras," tutur Sarah mulai memberikan saran melenceng kepada Sandra.
"Emang aku bisa?" Sandra bertanya ragu. Karena selama ini ia merasa nasib percintaannya tak semulus teman-teman yang lainnya. Sehingga ia selalu merasa kesulitan untuk mendapatkan pendamping. Oleh karena itu Sandra sangat merasa bersyukur bisa menikah dengan sosok Hariz yang memiliki tampang rupawan melalui perantara sang ibu. Penampilan Sandra yang cantik dan modis ternyata tak bisa menjamin dirinya untuk bisa meraih simpati dan perasaan cinta dari lawan jenis. Sehingga ia sering kali merasa putus asa dan menyesali diri sendiri saat waktu dirinya masih berstatus single.
"Tenang, saja San, Lo gak usah khawatir untuk urusan ini biar gue yang ngatur," tutur Sarah meyakinkan.
Mereka berdua pun kembali menikmati makanan yang berada di hadapan masing-masing. Setelah puas ngobrol banyak Sandra segera berpamitan untuk pulang terlebih dulu.
Sandra memasuki rumah dengan tergesa. Sengaja ia kembali ke rumah lebih cepat agar tak didahului oleh Hariz. Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat isi rumah seperti kapal pecah. Di lantai ruang tengah nampak butiran nasi kecoklatan yang tercecer di mana-mana membuat telapak kaki wanita itu menjadi lengket karena tak sengaja terinjak.
"Fathan ... Bangun! Kenapa kamu biarkan keadaan rumah berantakan seperti ini!" hardiknya sembari menendang kaki Fathan yang sedang terlelap bersama Reza. Sedangkan siaran televisi dibiarkan menyala tanpa ada yang menyaksikan.
Fathan terkesiap ketika ia terjaga dari tidurnya. Ia mengerjap perlahan berusaha mengumpulkan kesadaran dirinya yang masih belum terkumpul sempurna.
Dengan intonasi suara meninggi Sandra menyuruh Fathan agar menyimpan piring yang tadi bekas makan dirinya dan Reza yang belum sempat ia taruh di dapur yang terletak di bagian belakang.
Fathan membawa piring dan menaruhnya di meja. Mungkin karena naruhnya terlalu di pinggir, tanpa sadar tersenggol oleh sikutnya sendiri ketika ia hendak berbalik badan. Sehingga benda yang terbuat dari beling itu pun kemudian terjatuh ke lantai keramik yang menimbulkan bunyi prang yang mengejutkan Sandra yang baru memasuki kamarnya.
"Kamu ngapain Fathan!" pekik Sandra sambil berjalan bergegas ke arah dapur. Dilihatnya pecahan beling sudah berserakan di lantai.
"Ma'af, Bu, aku gak sengaja," ucap Fathan lirih. Ia khawatir akan kena marah dari sang ibu sambung.
"Gak sengaja katamu, kalau begini terus habis barang-barang saya gara-gara kamu!" bentak Sandra dengan mata mendelik ke arah Fathan sehingga bocah laki-laki itu semakin menunduk menahan takut.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah diam berdiri! Cepat bersihkan pecahan belingnya! perintah Sandra sambil mendorong punggung Fathan sehingga anak itu jatuh tersungkur ke arah beling yang berserakan di hadapannya.
Fathan menjerit histeris seraya mengaduh kesakitan ketika ada sebagian tubuhnya yang terasa nyeri bercampur perih dan mulai mengeluarkan darah segar dari bagian kulitnya yang terluka akibat tergores dan tertancap pecahan beling yang mengenai lututnya.
"Ampun, Bu, sakit, Bu .... !" ia memelas ke arah Sandra berharap dikasihani oleh sang ibu sambung. Tapi, kejadian yang berada di matanya malah menjadikan emosinya semakin tersulut.
"Cepat bersekan dan bersihkan! Jangan cengeng kamu!" hardik Sandra tanpa rasa kasihan yang tersirat sedikit pun dari sorot matanya.
"Tapi lutut aku sakit banget, Bu," tutur Fathan mengiba.
"Salah sendiri, kenapa tadi kamu tak hati-hati. Cepat bereskan sebelum ayah kamu datang!" titah wanita itu sama sekali tak mempedulikan keadaan anak sambungnya yang terus mengaduh menahan rasa sakit dan perih.
Fathan berjalan tertatih mencari sapu dan serokan untuk membersihkan serpihan beling yang masih berserak memenuhi lantai dapur.
***
Azzam yang sudah berusaha mencoba bersabar menunggu agar Dhena bisa membuka hati untuknya seakan sudah lelah dan ingin menyerah. Jika saja Kahfi tak henti memperingatkan dan meminta agar sahabatnya itu harus terus bertahan demi kebaikan Dhena.
"Percuma hidup satu atap, tapi hati Dhena tak pernah ada untukku. Adikmu itu masih terus memikirkan mantan suaminya hingga saat ini," ungkap Azzam kepada Kahfi ketika mereka berdua menghabiskan waktu istirahat di tempat kerja.
"Kamu harus sabar, Zam. Seiring berjalannya waktu nanti aku yakin pelan-pelan hati Dhena pasti terbuka untukmu. Untuk saat ini biarkan saja dirinya mengikuti apa kata hatinya." Kahfi berusaha memberi tanggapan curahan hati sahabatnya.
"Tapi, sampai kapan?"
__ADS_1
"Kamu tahu pepatah Jawa yang bunyinya, "Weteng tresno jalaran soko kulino." Rasa cinta itu akan tumbuh dan hadir jika sudah terbiasa saling bersama?" tanya Kahfi kepada Azzam yang duduk saling berhadapan.