
"Sayang jangan dulu tidur ya, mas kangen kamu. Gimana diskolah capek?"
"Iya mas, akhir-akhir ini kerjaan lagi banyak. Yah meskipun itu memang rutinitas sehari-hari, tapi nggak tau kenapa sekarang lebih cepat capek mas"
"Apa kamu hamil sayang?"
"Baru saja selesai haid mas." Aini tertawa lepas.
"Ya....kali aja, kita kan rajin Ai. Jadi wajar kalau kamu hamil, lagian Alia sudah cukup besar buat punya adik" menolel hidung istrinya gemas.
"Beberapa hari ini aku kadang lupa nggak makan siang mas, cuma ngemil saja. Mungkin itu yang membuat badanku kurang fit, kayaknya maaghku kambuh"
"Ai....kalau mas minta kamu nggak usah kerja gimana?"
"Harus ya mas, sebenarnya Ai mau saja mas. Tapi kadang hati kecil ini takut mas, jika Ai nggak kerja suatu saat mas bosan sama Ai, dan ditinggal menikah lagi nanti kehidupan Ai seperti apa?" Aini nampak sendu. Aini miris melihat kehidupan Bu Fita yang mengalami seperti itu, dulunya Bu Fita tidak kerja begitu suaminya menceraikannya Bu Fita pontang-panting cari kerja dan usaha untuk melanjutkan tugas kehidupan.
"Kalau ngomong yang bener Ai, minta sama Allah untuk jaga rumah tangga kita. Allah itu sang pemilik rejeki, masa kamu meragukan Allah dengan segala rencananya. Mas kasihan melihat istri mas harus ikutan kerja, meski mas tau jika awal kita kesini kamu nggak kerja akan sangat bingung buat makan sehari-hari. Mas kira inilah saatnya mas membahagiakan istri mas"
"Mas kalau aku resign berarti kita harus cari rumah baru?"
"Iya Ai, mas ada rencana buat sewa rumah yang pekarangan luas biar sekalian melebarkan tempat produksi"
"Mas yakin, menginginkan istri mas berdiam diri dirumah? mas nggak bosen lihat Ai setiap saat?" nada Ai meledek suaminya.
"Nggak lah sayang, mana ada bosen justru mas bangga jika kamu mau dirumah terus, fokus sama mas dan anak-anak nantinya. Mas jelas makin sayang sama kamu"
"Nanti Ai pikirkan ya mas, bingung mau ngomong sama mama nantinya. Meskipun tugas Ai sebagai istri adalah patuh, tidak penting berbagai alasan yang terpenting adalah patuh sama suami"
"Nanti mas bantu ngomong sama Kakung, lagian Kakung sama Uti insyaallah setuju mengingat beliau sudah menyerahkan anaknya sama suamimu ini. Artinya yang bertanggungjawab sekarang mas"
"Iya iya, eh mas aku lihat buk Maya lucu"
"Lucu apanya Ai, mas risih lihatnya. Lagian mas nggak memperhatikan, lebih baik memperhatikan yang halal. Lebih puas, selalu menyejukkan hati pula"
"Eleh....kalau sudah ada rayu merayu gini biasanya ada maunya" Aini berjalan mendekati suaminya. Aini memang cenderung lebih agresif, itulah yang membuat Al semakin bahagia, semakin merasa dicintai. Aini pernah dapat nasihat diseminar kalau laki-laki kebutuhan utamanya adalah urusan ranjang, jika puas maka tidak ada celah untuk menginginkan belaian dari wanita lain. Jika urusan itu puas juga berpengaruh terhadap penampilan, auranya terpampang jelas yaitu tubuh lebih bugar. Meski lagi-lagi faktor retaknya sebuah hubungan itu banyak, dan peran yang paling utama adalah syaiton.
"Mas, bangun sudah mau subuh."
"Mas masih ngantuk Ai" kembali menutup mata.
__ADS_1
"Mas, nanti telat sholat berjamaahnya. Ingat mas laki-laki sholatnya di Masjid"
"Iya sayang, ini mas mau bangun." Al mengambil handuk yang dilipat rapi di lemari.
"Ai, kita mandi bareng yuk"
"Massss, nanti malah kelamaan udah keburu adzan."
"Nggak apa Ai, mas nggak akan macam-macam kok. Sudah cukup servis malam tadi" Al mengacak rambut Aini.
"Masss.....selalu bikin malu Ai. Nggak mau, Ai mandi habis mas nanti. Buruan mas" mendorong tubuh suaminya ke kamar mandi.
"Haha......istriku tambah cantik kalau ngomel-ngomel."
"Hmmm....."
"Kamu mau masak apa sayang?"Al keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk, senyum sumringah tak lepas dari bibir Al.
"Daripada nunggu nggak ada kerjaan mas, sekalian nunggu Ai masak nasi dulu. Bikin apa ya mas, pagi ini haha....telor mata sapi ujung-ujungnya"
"Pertanyaan sendiri dijawab sendiri. Udah buruan mandi, mas mau ke Masjid dulu"
"Heh....kok gitu. Mas mau berbuat baik kok dilarang si Ai" menunjukkan wajah bingung.
"Iya lah, mana aku rela melihat suami telanjang gitu hanya dengan handuk langsung ke masjid"
"Astaghfirullah Ai, mas mau ganti baju dulu lah"
"Haha....kabuuur." Aini buru-buru menutup pintu kamar mandi dan tertawa sendiri.
Paginya diawali dengan keceriaan, kebahagiaan tak selamanya langit akan kelam.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussallam ayah" gadis kecil Al menyambut kepulangan ayahnya dari masjid.
"Anak ayah sudah bangun, MasyaAllah.....mandi yuk sama ayah. Nanti kita makan"
"Iya ayah, ayok adek mau makan pakai telor mata sapi dikasih toping kecap. Enak yah...."
__ADS_1
"Haha......anak ayah pinter banget siii"
"Ayok....let's go ayah. Adek mandi sendiri aja....ayah cukup nunggu disini"
"Wah ..... rupanya anak ayah sudah besar, nggak mau dimandikan ayah lagi?"
"Iya ayah, kata Ustadzah disekolah sekarang Alia sudah besar jadi harus belajar mandiri. Tapi kalau masak adek belum bisa" suaranya melemah sembari mengucap belum bisa.
"Sini dulu anaknya ayah, belajar itu nggak harus langsung semuanya....satu satu....macam naik tangga, satu satu kan? coba adek bayangkan, kira-kira bisa nggak kalau naik tangga langsung lompat, bukan satu-satu"
"Nggak bisa lah ayah, bisa-bisa nanti terjatuh"
"Nah jadi tetap semangat ya belajarnya" mengelus kepala anaknya dengan penuh sayang.
"Bunda, adek mau belajar mandi sendiri"
"Iya sayang, bunda yakin adek bisa. Nanti ayah kasih tau caranya kamu bingung, iya kan yah?" mencari dukungan suaminya.
"Tentu saja ayah kasih tau, ayok buruan..." membawa Alia untuk masuk kamar mandi.
Lima menit berlalu, mereka keluar dari kamar mandi. Alia berada digendongan suaminya.
"Dek, wangi banget anak bunda. Coba bunda cek sini, apa mandinya sudah pintar" Aini menggelitik anaknya
"Bunda, geli bund", "Sudah pintar rumanya yah anak kita, MasyaAllah bersih dan wangi" mencium pipi gembul Alia
"Ganti baju dulu, bunda sudah siapkan. Bunda tunggu sarapannya ya"
"Sip bunda sayang" Alia turun dari gendongan ayahnya mengambil baju yang sudah disiapkan oleh bundanya dibawa mendekat ke arah orang tuanya yang berada di ruang keluarga.
"Gimana ini....su..sah..."Alia sedang mencoba mengancing baju atasan yang dipadu dengan setelan rok panjang.
"Perhatikan ayah dek, lihat ayah dulu" Alia pun mendongak kearah ayahnya.
"Pegang pelan-pelan jangan buru-buru, masukan perlahan. Oke"
"Adek coba yah.... bismillah...bi...sa. Ayah berhasil satu" ucap Alia girang.
"Lakukan lagi sayang, ingat perlahan"
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...