
Indri memastikan semuanya aman, teman-temannya tidak ada yang melihat. Menjelang pulang Indri menuju bak penampungan air untuk menumpahkan minyak ke keranjang yang biasa buat mencuci kedelai. Selain itu juga menumpahkan pada bak air, warnanya memang sangat samar mengingat jumlah debit air sangat banyak, namun jika itu dibiarkan membuat pekerjaan sia-sia. Dia meninggalkan rumah Bos dengan perasaan gembira, karena tidak ada yang melihat. Namun hati kecilnya ada perasaan bersalah, namun lagi-lagi didalam otaknya seakan berperang penuh perdebatan. Satu sisi mengatakan rasa bersalahnya, satu sisi merasa perbuatannya sudah benar. Tak boleh ada yang bahagia jika dirinya tidak mendapat kebahagiaan. Apalagi Aini, yang selalu merebut perhatian orang-orang disekitarnya.
Sepeninggal karyawan Al mengecek semua perlengkapan, dugaan dia benar Al mendapati air yang tercampur minyak dan lebih parahnya peralatan buat mencuci juga ada tetesan minyak.
Diambilnya handphone untuk menghubungi Izal.
"Zal, dugaan benar. Sore ini dia berulah lagi, kamu bawa teman buat bersihkan bak lagi, terserah yang kamu bawa siapa. Kalau yang lain kasihan nantinya kecapekan, kamu juga cukup bawa teman-teman 5 orang, disini kamu cukup awasi mereka bekerja. Nggak perlu turun tangan," ucap Al.
"Siap Pak, nanti Izal bawa teman-teman kesitu setelah sholat Maghrib InsyaAllah," jawab dari seberang.
"Terimakasih Zal, sampai ketemu nanti. Kamu hati-hati bawa motornya, aku tutup dulu, assalamualaikum," titah Al.
Aini penasaran dengan wajah suaminya yang nampak seperti menahan marah.
"Sayang, duduk," Aini menggandeng suaminya di sofa ruang tengah.
"Dia berulah lagi, aku habis cek ke belakang. Air ada tumpahan minyak lagi,"
"Astaghfirullah, terus Mas mau bagaimana?"
"Aku menunggumu dia minta maaf,"
"Mas, segitunya ngasih toleran. Aku malah jadi sangsi jangan-jangan Mas ada perasaan lebih sama dia," ucap Aini ketus. Heran dengan suaminya yang terlalu memberi kelonggaran dengan kesalahan yang sangat fatal.
"Sayang, jangan seperti itu. Mana mungkin aku punya perasaan lebih sama dia, sementara dia mau menghancurkan usaha kita!" ucap Al meninggi.
"Jadi kalau dia nggak berusaha menghancurkan usaha kita, maka Mas akan ada perasaan lebih sama dia begitu!" Aini tampak terlihat sewot dan tidak puas dengan jawaban yang dikasih suaminya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa Mas jadi salah terus si. Maksud Mas kenapa masih menunggu itikad baiknya karena dia masuk melalui Pak Burhan, aku harus mempertimbangkan perasaan Pak Burhan," Al melunak.
"Jika Mas tidak mau bertindak, biar istrimu ini yang bertindak. Aku sudah nggak tahan, lama-lama dibiarkan semakin ngelunjak, bukan hanya kita yang dirugikan tapi karyawan yang lain, seperti malam ini Izal harus kesini. Aku tidak yakin jika dibiarkan dia akan minta maaf, dia akan minta maaf setelah ketahuan. Maaf Mas, aku mau ambil penggalan rekamannya. Mau aku kasih lihat sama Indri," Indri tegas.
"Jangan Sayang, aku nggak mau kamu terlibat masalah," ucap Al.
"Apa Mas, kamu melarang. Kenapa? Baiklah, artinya memang benar Mas ada perasaan lebih, sudahlah. Ternyata sesakit ini ya rasanya, aku merasa keputusanku sudah salah tentang rencana ku untuk resign, toh percuma ternyata sudah ada yang siap menggantikan posisiku. Tidak menyangka Mas," Aini bangkit bergegas meninggalkan Al.
Al memandangi istrinya dengan tatapan tak percaya, kenapa jadi Aini marah sama aku. Harusnya dia memberi dukungan.
"Adek, ke masjid yuk," Al mendekati anaknya yang ada diruang depan sedang bermain dengan masak-masakannya.
"Baik Ayah, adek ambil mukena dulu dikamar. Bunda mana Yah?" tanya Alia.
"Dikamar Sayang,"
Aini mengurung diri dikamar, dia butuh menenangkan diri, mungkin perasaannya terlalu berlebihan menuduh suaminya. Tapi dia tidak terima bagaimana perlakuan Indri sejak awal ketemu tidak ada kesan baik sedikitpun. Apa mungkin Mas Al seleranya sudah berubah, bisa menerima sosok seperti Indri.
"Zal, kenapa Mas Al nggak mau menegur Indri? Beliau bilang menunggu Indri minta maaf?" tanya Aini.
"Pak Al bilang karena nggak enak dengan Pak Burhan, Bu. Jadi menunggu Bu Indri mengundurkan diri, tidak mau memecatnya,"
"Kamu yakin nggak ada alasan lain Zal, mungkin selama aku dirumah kamu menangkap gelagat aneh mereka,"
"Bu, Pak Al itu sosok setia. Mana mungkin ada bermain dibelakang, apalagi dengan seorang Indri. Nggak mungkin Bu, kalau Bu Indri menggoda itu sangat mungkin,"
"Ya sudah, itu minum sama cemilan buat anak-anak kalau sudah selesai ya Zal. Ibu ke kamar dulu."
__ADS_1
Aini punya tekad untuk memperingatkan Indri, bukan sekedar kerugian dirinya, namun disini ada yang dirugikan selain dirinya yaitu waktu karyawan yang seharusnya bisa berkumpul dengan keluarga tersita disini.
Setelah sholat Isya Aini menidurkan anaknya lebih cepat mengingat besok pagi harus ke Bandara menjemput mertua dan sepupunya. Al masih sibuk dengan teman-teman Izal. Setelah selesai, tamu sudah pulang semua Al menyusul istrinya yang diperkirakan masih marah dengannya.
"Sayang, bangun. Mas tau kamu belum tidur, ayolah temani ngobrol dulu, belum ngantuk ini," Al menggoyangkan bahu Aini namun tak ada pergerakan sama sekali. Tapi Al sangat yakin kalau Aini belum tidur.
"Sayang, aku minta maaf. Tolong kasih waktu mas buat pakai cara ini, dengan ini kita tidak melukai Pak Burhan, Mas yakin kamu masih mendengarkan obrolan Mas ini. Sayang ayolah, bangun dulu, nanti mas cium ya biar bangun," Al berbaring disebelahnya lalu dipeluknya erat tubuh istrinya.
"Sayang, jangan sampai Emak sama Bapak kesini kita lagi marahan, bisa-bisa Mas dicincang sama Emak. Apalagi ketambahan Budhe Surti pasti Mas yang kena," Aini langsung berbalik menghadap suaminya.
"Hanya karena takut sama Emak, Mas memohon seperti ini?"
"Bukan Sayang, Mas nggak bisa kalau kamu mendiamkan aku lagi," ucap Al sendu.
"Nggak perlu takut Mas, sudah banyak yang mau menggantikan posisiku kok," ucap Ai sambil cemberut.
"Jangan mulai Sayang, maaf ya, kasih mas kesempatan buat menyelesaikan dengan caraku, kamu nggak perlu takut, justru aku yang harusnya takut kamu meninggalkanku," ucap Al dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah Mas, Ai kasih kesempatan tapi kalau sampai Mas lambat maka aku yang akan bertindak. Bukan karena meragukan kemampuan Mas, aku yakin dengan kemampuan Mas hanya aku takut akan semakin banyak yang dirugikan," ucap Ai tegas.
"Jika setelah ini tidak ada kesadaran juga maka Mas akan bertindak, aku sudah mewanti-wanti dia saat pertama masuk kerja jangan sampai tangan dia kotor kena minyak karena itu menyebabkan tempe busuk, ternyata malah itu buat senjata dia menghancurkan usahaku," ucap Al kesal.
"Mas, tidur cepat besok kita ke Bandara biar nggak kecapekan. Pakai mobil siapa Mas?"
"Rentalan dapat samping penjual sayur, punya Pak Leon, Mas sudah kesana siang tadi,"
"Alhamdulillah," ucap Ai lega.
__ADS_1
"Jangan dulu tidur Sayang, masih ada yang kurang,"
"Hmm,"