
Kahfi memberi saran agar Azzam membawa Dhena ke suatu tempat agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua. Berharap kedekatan mereka menjadi semakin intens dan perlahan bisa membuka hati Dhena untuk Azzam yang kini sudah menjadi suaminya.
"Bagaimana aku bisa pergi ke suatu tempat demi untuk menyenangkan diri sendiri, sedangkan kedua anakku tidak pernah tahu keberadaannya." Dhena menolak mentah-mentah ajakkan Azzam ketika pria itu menyampaikan saran yang tadi diberikan oleh Kahfi ketika mereka ngobrol di tempat kerja.
Dhena benar-benar dibuat kelimpungan karena kedua putranya hingga kini tak bisa dilacak keberadaannya karena Hariz dan Sandra sudah tinggal di kota lain yang Dhena sendiri tak bisa mencarinya. Semua kontak Hariz sudah tidak ada lagi yang bisa dihubungi menghilang seperti ditelan bumi.
Azzam pun tak dapat memaksa Dhena. Apalagi saat ini kejiwaan Dhena belum stabil. Ia begitu terpukul dan terpuruk karena dipaksa dipisahkan secara sepihak dengan kedua putra yang dulu sudah dilahirkannya dengan sudah payah. Hati ibu mana yang rela dan kuat ketika dihadapkan dengan keadaan seperti ini. Dijauhkan dan diputus komunikasi dengan darah dagingnya sendiri sungguh membuat hati Dhena seperti diremas dan meninggalkan jejak luka semakin mendalam. Melebihi sakitnya ditinggal untuk selamanya.
Dhena hanya bisa menduga-duga kedua buah hatinya di jauh sana sedang apa? Sudah makan atau belum? Adakah yang menemaninya ketika mereka hendak tidur? Dan itu semua semakin membuat hati Dhena semakin teriris pilu karena ia tak pernah bisa mendapatkan jawaban yang pasti tentang anak-anaknya.
***
Ketika Azzam masih di tempat kerja. Dhena memesan taxi online untuknya. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Kahfi, sang kakak. Untuk bisa menata hati yang masih belum bisa menerima kehadiran Azzam dalam kehidupan barunya itu. Bayangan Hariz dan kedua buah hatinya masih terus hadir dalam setiap helaan napas perempuan beranak dua itu.
__ADS_1
Kini posisi Dhena sudah duduk di jok mobil taxi online yang akan membawanya ke rumah sang kakak.
***
Hariz melirik jam yang melingkar di pergelangan sebelah kiri tangannya. Jarum pendek sudah menunjukkan ke angka 9 malam. Akhir-akhir ini pekerjaan yang baru ia geluti sangat menyita waktunya hingga seluruh tenaga dan waktu yang dimilikinya seakan sudah terforsir hanya di tempat kerja saja. Tidak ada lagi waktu untuk bercengkrama dengan istri dan kedua putranya. Sehingga Sandra sering merasa uring-uringan dan selalu melampiaskan kepada kedua anak sambungnya.
Sandra merasa hidupnya seakan terasa hampa. Berstatus sebagai istri. Tapi, ia seperti tak memiliki pasangan. Sedangkan untuk meluahkan perasaannya wanita itu tak pernah ada keberanian sedikit pun. Ia memilih diam dan memendamnya sendiri.
Hariz mulai mengemasi semua barang-barangnya dan mulai berjalan menuju parkiran untuk segera pulang ke rumahnya agar bisa cepat meluruskan badan dan beristirahat.
Sehingga mobil yang ia kendarai meliuk-liuk ke arah kiri dan kanan jalan membuat kendaraan lain merasa terganggu. Hariz membawa kendaraannya persis seperti orang yang sedang mabuk. Dari arah berlawanan ada sebuah mobil pick up bermuatan penuh dengan ditutupi terpal berwarna biru melaju dengan kecepatan tinggi. Hariz yang duduk di belakang kemudi tak dapat mengendalikan kendaraannya, ia pun membanting setir ke arah bahu jalan yang mengakibatkan mobil yang ia tumpangi jatuh ke dasar jembatan yang kebetulan sedang ia lalui itu.
Pengemudi pick up yang menyadari ada kendaraan lain terperosok ke bawah jembatan menghentikan laju kendaraannya dan bergegas setengah berlari menuju ara jembatan yang sekelilingnya sudah mulai lengang. Lelaki asing itu ingin memastikan keadaan korban apa masih baik-baik saja atau sudah tidak bisa ditolong lagi.
__ADS_1
Lelaki itu berusaha menyetop beberapa kendaraan untuk bisa memberikan pertolongan agar korban cepat bisa dievakuasi dalam waktu dekat dan segera mendapatkan pertolongan. Setelah ada beberapa orang yang datang mereka mulai turun ke dasar sungai dan memeriksa tempat kejadian. Dalam hitungan beberapa menit ambulan dan polisi pun mulai berdatangan setelah ada salah satu warga yang menghubungi pihak rumah sakit dan kepolisian.
Tubuh Hariz yang terjepit di bagian kursi depan segera dikeluarkan dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sedangkan badan mobil yang dikendarainya dievakusi oleh pihak kepolisian dan langsung diberi garis kuning. Sebagai tanda bahaya.
Sandra mendadak shcok ketika ia menerima kabar jika malam ini sang suami sedang berada di rumah sakit akibat kecelakaan tunggal. Ia pun langsung menyusul Haris ke rumah sakit untuk memastikan keadaan suaminya.
Sedangkan Fathan dan Reza sudah terlelap dan memasuki kamar tidur sejak jam delapan tadi karena memang dipaksa untuk tidur lebih cepat oleh Sandra. Fathan dan adiknya hanya bisa manut tanpa bisa membantah setiap perintah dan ucapan dari sang ibu sambungnya itu.
Hidup kedua bocah malang itu seakan selalu dibayang-,Bayangi oleh rasa ketakutan dan tekanan yang sangat mengganggu kejiwaan mereka berdua dalam tumbuh kembangnya dalam usia yang seharusnya penuh canda tawa dan keceriaan. Senyum di bibir kedua anak manusia tanpa dosa itu dipaksa sirna begitu saja karena ulah keserakahan dan keegoisan orang-orang dewasa yang berada di dekatnya.
Tanpa disadari langkah jalan yang ditempuh oleh Hariz demi rasa patuhnya kepada sang ibu yang sudah melahirkannya malah justru membuat luka dalam untuk kedua buah hatinya. Karena harus dipisahkan secara paksa dengan ibu kandung mereka yang sudah pasti bisa memberikan belaian kasih sayang yang tulus tanpa sarat untuk kedua anaknya. Tapi, itu semua tak bisa dirasakan oleh Fathan dan Reza. Karena mereka tidak pernah tahu kini keberadaan ibu kandung mereka. Begitu pun dengan Dhena ia seperti kehilangan arah tujuan karena merasa kehilangan jejak kedua darah daginya.
Sandra tiba di lokasi rumah sakit dengan hati yang berdebar kencang. Bagaimanapun juga Hariz adalah laki-laki pertama yang sudah menemani dalam separuh hidupnya hingga tidak dapat dipungkiri walaupun sikap Hariz tak sebaik yang ia harapkan, tapi, hati kecil Sandra merasa takut akan kehilangan pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
__ADS_1
Dokter yang Sandra temui menjelaskan jika keadaan Hariz saat ini sedang kritis dan harus segera dilakukan tindakkan operasi karena bagian kepalanya mengalami benturan yang sangat hebat. Tanpa berpikir panjang Sandra pun langsung membubuhi tanda tangan di secarik kertas sebagai pernyataan persetujuan dari pihak keluarga.