
"Mau tanya apa, Lina?" ucap Virna gugup dia merasa tertangkap basah telah mencuri pandang Izal. Izal mengalami banyak perubahan, menjadi sosok periang sangat berbeda dengan Izal yang bersamanya dulu.
"Maaf, aku masih melihat tatapan kamu pada Izal berbeda, apakah kamu masih menyimpan rasa?"
Virna menarik nafas panjang, menarik piringnya agar lebih dekat, reflek menutupi kegugupannya.
"Aku hanya melihat perubahan Izal yang sekarang, dia terlihat begitu bahagia. Izal sangat berbeda saat bersamaku dulu, dulu dia tak akan bicara jika tidak ditanya, dia jauh berbeda sekarang. Lin, kamu membawa banyak perubahan untuk Izal. Dulu dia tidak pernah dekat dengan anak kecil,"
"Jika soal anak kecil bukan aku yang membawa perubahan, antara Alia dan Izal dekat itu jauh sebelum aku hadir. Bukan aku yang membawa perubahan namun lingkungan baru tempat kerjanya yang membuat Izal berubah, aku mengenal Izal belum ada setengah tahun, Vir,"
"Jadi kalian tidak pacaran?" tanya Virna heran.
"Kami baru menjalani pacaran sekarang, setelah menikah,"
"Tapi, kalian terlihat seperti pasangan yang sudah lama saling mengenal? Memangnya sebelumnya Izal kerja dimana? Bukannya dia punya perkebunan luas tidak harus bekerja?"
"Saya tidak tau alasan awal mengapa dia bekerja, dan tidak pernah menanyakan karena itu hak dia dan itu terjadi jauh sebelum mengenalku. Tapi yang aku tangkap hikmah dari dia bekerja adalah ketemu jodoh. Izal bekerja dengan Kakakku, ayah dari anak kecil yang bernama Alia itu,"
Virna mulai mencerna kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Lina. Virna tidak menyangka ternyata Izal bisa hidup tanpanya. Awalnya dia mengira kalau Izal sudah sangat mencintai Virna, sehingga sempat terpuruk saat itu. Namun Izal terpuruk bukan karena menangisi Virna namun menangisi kebodohannya yang terlalu percaya pada orang. Dia menyesali sikapnya yang dengan mudah dikendalikan Virna.
"Pantas, saya mencarinya tidak pernah ketemu. Beberapa kali ke kantor dan rumahnya tidak menemukan keberadaannya,"
"Untuk apa mencarinya?"
"Saya ingin dia kembali padaku, aku yang salah. Aku akan minta maaf, dan meminta kembali menjadi kekasihku,"
"Sekarang sudah ketemu, apa yang akan kamu lakukan?" ucap Lina dengan tenang, kini giliran Lina penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari bibir Virna.
"Setelah bertemu sekarang aku berubah, aku tidak akan meminta Izal kembali padaku. Dia terlihat sangat bahagia bersamamu. Tidak mungkin aku merusak kebahagiaan dia kembali. Sudah cukup membuat orang-orang di sekitarku menderita akibat perbuatanku. Banyak yang saya korbankan, Izal dan kedua orangtuanya, suamiku saat ini, kedua orang tuaku dan banyak lagi yang lainnya yang mengalami kerepotan karena saya. Saat ini saya sudah menikmati kehidupan yang sekarang, mencoba terus bersyukur dengan takdir yang ku jalani," ucap Lina tulus.
"Saya bahagia mendengarnya, bukan karena takut kamu merebut Izal dariku. Namun saya bahagia melihat kamu bisa menghargai diri sendiri. Kamu seorang wanita sama sepertiku. Jika ada yang merendahkan diri sendiri saya ikut terluka,"
"Lina, terimakasih atas ucapan kamu sewaktu di Rumah Sakit. Awal mendengar aku memang berontak tidak terima dengan ucapannya tapi berawal dari ucapan itu justru yang menjadi awal perubahanku. Saya menyadari kesalahanku, terlalu bodoh menyia-nyiakan kepercayaan,"
"Virna, tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Yang penting sekarang jalan kedepannya, jalan yang kita lalui terkadang lucu, semoga kedepannya kita selalu menjadi manusia yang lebih baik. Bukan lebih baik dari orang lain, namun lebih baik dari diri kita yang telah lalu,"
__ADS_1
"Setuju, kapan-kapan boleh aku berkunjung ke rumahmu? Tinggal dimana sekarang?"
"Saya saat ini masih satu rumah dengan Ibu,"
"Saat ini? Berarti suatu saat?"
Lina sangat tidak nyaman dengan pertanyaan dari Virna. Dia tidak mau orang luar terlalu dalam ikut campur.
"Bunda, adek mau disuapi Tante," ucap Alia tiba-tiba setelah tadi bersama Izal makan sendiri. Lina tersenyum senang, Alia datang disaat yang tepat.
"Sini, Sayang. Manja banget si, bukannya tadi makan sendiri sama Om?"
"Kata Om, hari ini Alia harus makan banyak, biar bisa keliling jalan-jalan,"
"Memang mau di ajak jalan kemana lagi? Apa hubungannya makan banyak, jalan-jalan dan disuapin?"
"ih ... Tante nggak asyik. Kata Om kalau adek disuapin jadi makannya banyak," celoteh anak kecil itu dengan riang.
"Mba, adek tuh paling bisa. Anak cerdas MasyaAllah,"
"Haha ... memang ga, nggak punya akhlak. Tawanya dikecilkan, Mba. Lihat semua nengok,"
"Lin, kenyataannya kakak iparmu ini cerdas. Kalau tidak mana bisa kakak kamu nempel terus,"
"Percaya diri banget jadi orang, nggak nyambung lagi," ucap Lina sewot.
"Jangan begitu, lihat itu mulut anakku sudah kosong lekas disuapin!"
"Mba, lihat mulut anak sendiri kosong kenapa malah orang lain yang disuruh nyuapin,"
"Nggak usah sewot, bukan mba yang minta tapi Alia kan?"
"Tante, aaa ...,"
"Besok kalau Tante punya anak kamu sayang ya sama adikmu yang keluar dari perut Tante,"
__ADS_1
"Sudah ada adek bayi?"
"Belum, Sayang. Tante bilang kalau sudah ada,"
"Alia pengin punya 2 adik, dari perut bunda dan perut Tante,"
"Nah loh ... Mba. PR harus dikerjakan,"
"Sudah bisa ngomong itu ya sekarang?"
Virana semakin mengagumi pemandangan di depannya dengan kakak ipar kenapa begitu dekat. Artinya Lina pandai membawa diri. Virna semakin mengagumi sosok Lina.
Al mendekat ke meja Aini, "Sayang, sudah hampir adzan, buruan. Nanti Mas ketinggalan sholat di Masjid,"
"Iya, Mas. Tinggal nunggu Alia,"
Izal juga mendekati Lina, mengelus jilbabnya.
"Sayang, makannya ditelan. Nanti Om tinggal loh," ancaman Izal berhasil membuat Alia mengunyah makannya.
"Sini, om siapin lah. Sayang, kamu nggak nambah?" Izal berbicara dengan istrinya.
"Nggak lah, Bang. Sudah kenyang banget,"
"Dek, ini tinggal 2 suap lagi. Ayok aaa ... lagi," Alia mendengar instruksi Omnya. Dan membuka mulut, awal perjumpaan dengan Alia, Izal sudah mengagumi sosok anak kecil itu. Langsung dekat seperti adiknya sendiri. Izal selalu memanjakan Alia.
"Selesai, ye ... berhasil. Alhamdulillah," sorak Izal menirukan anak kecil.
"Zal, Mas Al. Kami permisi dulu, Terimakasih Zal traktirannya, jadi merepotkan," ucap Suami Virna sekaligus sahabat Izal.
"Santai lah, Bro. Semoga sehat selalu, hati-hati buat kalian, kami juga sudah mau jalan,"
"Dek, sudah cuci tangan yuk," ucap Tantenya
Aini dan Al menganggur jika anaknya bersama adik, mereka tidak memiliki banyak fungsi. Keempat orang dewasa dan 1 anak keluar Mall menuju Masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur. Sampai di parkiran Masjid dia melihat wanita yang di Mall tadi, wanita yang penampilan semrawut, tapi nampak bajunya masih bagus. Dia memperkirakan wanita itu gi*la belum lama, Aini mengamati dengan cermat. Seperti tidak asing, apakah?
__ADS_1