
Dhena menunggu angkot di tepi jalan raya yang akan membawanya ke puskesmas. Setelah menunggu lebih dari lima belas menit angkot yang ditunggu pun baru terlihat dari arah sebelah selatan. Kemudian Dhena menuntun anak sulungnya untuk menyebrangi jalan dengan anak kedua dalam gendongannya.
Di ruang periksa. Dhena disarankan untuk menuju ruang konsultasi gizi.
"Berapa bulan itu usia anaknya?"
"Sebelas bulan, Bu," jawab Dhena kemudian.
"Kecil amat badannya. Anak saya saja yang baru umur tujuh bulan gemuk banget gak kurus seperti anak Mbak." Petugas kesehatan itu berkata dengan sinis.
Dalam hati Dhena tak habis pikir ada petugas kesehatan yang tega dan bisa melakukan baby shaming seperti itu. Bukannya ngasih solusi dan motivasi malah membuat orang tua pasien jadi bertambah down.
Setelah selesai mengambil obat di apotek Dhena membawa kedua anaknya duduk di bangku panjang depan puskesmas.
[Mas, sekarang aku sama anak-anak sedang di puskesmas. Pulangnya nanti sekalian bareng, ya]
Dhena mengirim pesan kepada Hariz yang masih berada di tempat kerja. Lima menit kemudian Hariz pun membalas chat sang istri. Mengiakan.
Karena memang sudah sekitar jam satu siang dan waktunya Hariz pulang. Tidak sampai sepuluh menit kini suaminya Dhena sudah tiba di depan puskesmas. Fathan segera berlari ke arah sang ayah dan didudukkan di bagian depan jok motor oleh Hariz. Dhena duduk di bagian belakang dengan menggendong Reza.
***
"Bu Sinta, pulangnya anterin ke rumah saya aja, ya, tadi Surti nelpon saya katanya kerabat yang mau gantiin dia sudah dalam perjalanan ke sini," pinta Bu Aida ketika mereka menuju perjalanan pulang setelah selesai kongkow sambil arisan di sebuah rumah makan.
__ADS_1
"Lah, kenapa, kok, gak pulang ke rumah Hariz saja?" tanya Bu Sinta.
"Males saya tinggal bareng menantu tak tahu diri kayak si Dhena itu. Waktu Minggu kemarin saja saya hampir dibikin celaka sama istrinya di Hariz itu." Bu Aida mulai menceritakan kejadian nahas yang sempat menimpanya tempo lalu kepada rekan-rekannya yang tentu saja dibumbui dengan hasutan-hasutan yang sengaja agar orang lain ikut membenci Dhena.
"Kalau anak laki-laki saya punya istri seperti itu udah saya pecat jadi mantu." Salah satu teman Bu Aida menanggapi dengan serius.
"Iya, padahal. Waktu itu saya sudah senang dan ikut bahagia ketika Hariz bisa menikahi Nelly. Tapi pada akhirnya berantakan gara-gara Hariz lebih memilih istrinya yang miskin itu." Bu Aida meluahkan isi hatinya yang sempat kecewa dengan keputusan Hariz yang sudah meninggalkan Nelly sebagai menantu kebanggaannya.
Tak terasa. Selama perjalanan sambil mengobrol ngaler ngidul kini Bu Aida sudah sampai di halaman rumahnya sendiri.
Ia pun turun dari mobil Bu Sinta setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Kendaraan roda empat Bu Sinta kemudian kembali melaju untuk mengantar teman-temannya yang lain.
Di teras rumah ia melihat sosok wanita sekitar berusia dua puluh tahun sedang duduk di kursi terasnya. Di sampingnya terlihat tas besar dan dua kardus bertuliskan Sarimie yang diikat dengan tali rapia warna-warni.
"Assalamualaikum, Nyonya. Perkenalkan nama saya Sumi. Pengganti Mbak Surti yang dulu bekerja di sini," ucapnya memperkenalkan diri.
Bu Aida menatap heran ke arah Sumi yang penampilannya sangat aneh di mata Bu Aida.
Diperhatikannya tubuh Sumi dari ujung kepala hingga kaki yang membuat Sumi sendiri merasa rikuh karena melihat sorot mata sang majikan seperti sedang mengulitinya.
Sumi yang memakai baju dengan lengan panjang berwarna kuning terang serta bawahannya menggunakan kain sarung khusus perempuan bermotif bunga berwarna hijau daun, sedangkan kerudung segi empat yang menutupi kepalanya berwarna ungu tua dipakai asal menggunakan peniti ukuran jumbo di bagian depan lehernya. Perpaduan warna yang sangat kontras membuat Bu Aida menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
'Bener-bener nih, si Surti bukannya nyariin orang yang bener buat kerja. Ini malah ngirim orang-orangan sawah kek gini,' rutuk Bu Aida dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu serius mau kerja di rumah saya?" Selidik Bu Aida memastikan.
"Injih, Nyonya, saya pun siap bade kerja teng meriki," jawab Sumi dengan logat kental jawanya.
Sumi yang sehari-harinya tinggal di pondok pesantren itu bertekad untuk mencari pekerjaan setelah bapaknya kini terserang struk berat dan hanya mampu tergolek lemah di tempat tidur. Sedangkan ada ibu dan adik-adiknya yang harus ia bantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ikut membiayai adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Ketika Sumi ditawari untuk menggantikan Surti bekerja di tempat Bu Aida ia pun dengan sangat antusias menyanggupinya. Dan nekat berangkat seorang diri setelah diberi alamat lengkap dan arahan ala kadarnya oleh Surti waktu masih di kampungnya.
Bu Aida mulai memberitahu semua tugas yang harus dikerjakan oleh asisten rumah tangga barunya itu. Dari mulai nyapu, ngepel, memasak, ngelap-ngelap dan lain sebagainya. Setelah Bu Aida menjelaskan semuanya. Tiba-tiba Sumi nyeletuk, "Semua pekerjaan di rumah yang sangat besar ini saya semua yang mengerjakan, ya? Gak ada yang lain?" tanyanya kemudian. Kepalanya memutar ke arah lain untuk memastikan dirinya tidak sendiri di sana.
Dalam bayangan Sumi ia bisa bekerja seperti halnya teman-teman sekampungnya yang katanya kerja di sebuah rumah mewah dan megah dengan beberapa jumlah asisten rumah tangga 5 hingga 7 orang yang mempunyai tugas masing-masing. Sehingga ia merasa heran saat ini di rumah tua itu hanya ada dirinya dan Bu Aida saja sebagai penghuninya.
Ia pun memanggil dengan sebutan Nyonya karena sering mendengar kawan-kawannya ketika menceritakan pengalaman bekerjanya mereka memanggil dengan sebutan seperti itu kepada majikannya masing-masing.
"Kamu sudah punya pengalaman kerja di mana saja dan sudah berapa lama?" tanya Bu Aida mengintrogasi.
"Belum pernah Nyonya, baru pertama kali ini di rumah Nyonya," jawab Sumi apa adanya.
Bu Aida lalu membawa Sumi ke kamar bagian belakang yang dulu sempat dipakai oleh Surti ketika masih bekerja dan tinggal di rumahnya.
"Sekarang kamu boleh istirahat dulu di kamar ini. Biar kamu gak kecapekan nanti bekerjanya. Kamu kan, habis melakukan perjalanan jauh," saran Bu Aida kepada asisten rumah tangga barunya itu yang diiakan langsung oleh orang yang bersangkutan.
Kemudian Bu Aida berlalu menuju kamarnya sendiri untuk meluruskan kakinya yang sudah dirasa penat karena hampir seharian sudah jalan-jalan menghabiskan waktu dengan teman-temannya
__ADS_1