
***
Baru beberapa menit Bu Aida meluruskan tubuhnya di tempat tidur. Wanita setengah baya itu dikejutkan oleh dering ponsel dari nakas. Yang ternyata dari sahabatnya yang tinggal di luar kota.
Bu Mala, sahabat karibnya Bu Aida itu memberitahukan jika anak gadisnya besok pagi akan ke kota Semarang untuk urusan pekerjaan yang sedang dirintis oleh Riris, anak perempuannya Bu Mala.
"Boleh gak jeng, besok Riris sama aku mampir ke rumahmu yang di sana?" tanya Bu Mala berbasa-basi.
"Boleh, dong. Boleh banget malah. Saya bakalan senang disambangin oleh Njenengan dan keluarga ke sini. Suatu kehormatan Bu Mala bisa mampir ke sini," jawab Bu Aida penuh harap.
"Yaudah, Jeng. Sampai besok, ya." Bu Mala menutup sambungan telepon dari sebrang sana.
***
Sudah hampir jam setengah 6 pagi, tapi belum ada tanda-tanda Sumi keluar dari kamarnya. Membuat Bu Aida menjadi heran dan tambah geregetan. Lalu wanita itu pun bergegas menghampiri kamar Sumi dan setengah menggedor pintu kamar asisten rumah tangganya itu. Memintanya agar segera ke luar kamar.
"Sumii ... ! Kamu ngapain saja di dalam? Lihat tuh, sudah siang. Sudah terang belum ada satu pekerjaan pun yang kamu lakukan," teriak Bu Aida di depan pintu kamar Sumi.
Sumi yang masih bergelung selimut tebal terhenyak mendengar teriakan sang majikan. Lantas ia melempar selimutnya ke sembarang arah dan bergegad membuka pintu.
"Jam segini kamu belum bangun, Sumi?" hardik bu Aida.
'I ... Iya, Bu, eh, Nya. Tadi habis salat Subuh saya tidur lagi, eh, ketiduran maksudnya." Sumi menjawab tanpa rasa bersalah.
"Waktu setengah tiga malam tadi saya sudah bangun, kok, Nya, untuk salat tahajud. Makanya habis salat Subuh tadi rasanya ngantuk banget," sambungnya menjelaskan.
"Hey, Sumi! Kamu niatnya datang ke rumah saya itu untuk kerja apa untuk mesantren? Jam segini masih demen di dalam kamar dengan alasan ngantuk habis bangun malam katamu."
"Kerja, tho, Nya, Bu," jawab Sumi belepotan.
__ADS_1
"Nya, Bu, Nya, Bu. Emang saya sabu," tukas Bu Aida.
"Ma'af, Bu, Nya."
"Heleh ... Sudah, sudah. Sekarang cepat kamu ke dapur bikin sarapan dan kerjakan semua pekerjaan rumah hingga tuntas!" titah Bu Aida sambil berlalu meninggalkan Sumi yang masih mematung di ambang pintu. Bibirnya dimencengin ke kiri dan ke kanan menirukan omongan Bu Aida barusan.
"Duuh ... Punya majikan gini amat, ya. Gangguin orang lagi enak-enaknya mimpi. Ternyata kerja di rumah orang gak ada indah-indahnya," gumam Sumi. Dengan malas ia melangkah menuju tempat tidurnya. Melipat selimut dan merapihkan tempat tidurnya yang berantakan.
Bu Aida menghampiri Sumi yang kini sedang berdiri kebingungan di depan kompor.
"Kamu bisa bikin nasi goreng, gak?" tanya Bu Aida kemudian.
Sumi hanya nyengir memamerkan giginya yang berbaris putih berseri. "Enggak, Bu," jawabnya polos.
Bu Aida menghela napas berat. Kemudian berkata, "Ya, sudah. Sekarang tugas kamu nyapu ngepel. Biar saya yang bikin sarapan."
"Oya, di mana, Bu, sapu dan alat pengepelnya. Saya belum lihat dari kemaren?" tanya Sumi.
"Di rumah Pak Lurah, sana ambil! Ya, cari, lah, Sumi ... Masa saya yang harus nyariin." Bu Aida hampir sepanjang menghadapi perempuan muda itu. Kalau saja niatnya bukan karena ingin punya teman di rumahnya itu mungkin wanita separuh baya itu sudah menyuruh Sumi untuk langsung pulang lagi ke kampungnya.
Berhubung ia sangat membutuhkan teman dan gak berani tinggal sendiri tinggal di rumah Bu Aida betusaha menerima kehadiran Surti staupun Sumi yang mau bekerja di rumahnya.
Sumi bergegas ke arah halaman belakang untuk mencari barang yang dibutuhkannya. Setelah itu mulai mengerjakan pekerjaannya satu persatu hingga selesai.
"Oya, Sumi. Nanti sore kita akan kedatangan tamu istimewa. Untuk menyambutnya saya harus menjamu mereka dengan makanan yang banyak," ujar Bu Aida di usai mereka menghabiskan sarapannya berdua.
"Siap, Bu," jawab Sumi pendek.
Bu Aida lalu menyuruh Sumi untuk merebus daun singkong yang sudah dibelinya di pasar. Bu Aida berencana akan membuat sayur daun singkong santan kesukaan Bu Mila sahabat lamanya yang akan berkunjung ke rumahnya sore nanti. Sedangkan ia sendiri pergi ke toko buah untuk membeli beberapa macam buah untuk stok di kulkasnya yang sudah mulai kosong.
__ADS_1
Setelah kepergian sang majikan. Lalu Sumi mulai mengambil seikat besar daun singkong dan langsung memasukkannya ke dalam panci berukuran kecil kemudian diberi air satu gayung. Tapi, ternyata jumlah daun singkong yang banyak tidak bisa dimasukkan ke dalam panci. Sumi mulai kebingungan sendiri. Ia mengganti dengan panci yang ukurannya agak besar yan menggantung di dinding dapur. Mengisi air setengahnya ke dalam panci berukuran besar itu lalu memasukan daun singkong yang masih melekat pada tangkainya.
Namun, hasilnya masih tetap sama. Gak bisa dimasukkan semua sampai air di dalam panci meluber karena dijejali daun singkong yang membumbung tinggi. Ia pun pasrah hingga Bu Aida kembali lagi ke rumah dan menanyakan hasilnya.
"Sudah selesai direbus, kan, daun singkongnya?" tanya Bu Aida memastikan.
"Belum, Bu," jawab Sumi sambil nyengir kuda.
"What? Terus kamu dari tadi ngapain saja?" Bu Aida bergegas ke arah dapur dan melihat panci berukuran besar yang biasa di gunakan untuk masak nasi dalam jumlah besar itu sudah nangkring di atas kompor dengan dipenuhi daun singkong yang berjejal.
Bu Aida berdecak kesal mendapati pekerjaan Sumi yang seperti itu.
"Kamu beneran gak tahu cara merebus daun singkong?" tanyanya menahan jengkel.
"Iya, Bu. Saya belum tahu," jawab Sumi polos.
Kemudian Bu Aida meraih panci berukuran sedang lalu mengisi air setengahnya dan dipanaskan di atas kompor setelah air itu mendidih lalu ia menyuruh Sumi untuk memasukan semua daun singkong ke dalamnya. Sumi pun melakukan titah sang majikan. Kali ini ia tak merasa kesusahan seperti tadi karena daun singkong yang dimasukkannya langsung sedikit layu saat tersentuh air panas yang sedang mendidih.
"Begitu caranya, Non. Kalau daun singkongnya dimasukin ke dalam air dingin sampai lebaran pun ya, gak bakal bisa. Malah airnya yang meluber ke mana-mana," ujar Bu Aida melirik kesal ke arah Sumi.
"Iya, Bu. Maaf. Saya belum berpengalaman," jawab Sumi santai.
"Yaudah biar Ibu saya yang nerusin. Biar saya mengerjakan yang lain saja," ujar Sumi kemudian.
Bu Aida hanya bisa mengelus dadanya. Melihat sikap dan kelakuan wanita aneh yang baru ditemuinya itu.
"Kamu itu sebenarnya anak sultan apa gimana Sumi? Masa ngerebus daun singkong saja gak bisa." Bu Aida terus menggerutu seorang diri di dapur.
Sedangkan Sumi memilih mencari kesibukan yang lain.
__ADS_1