
Keesokan harinya Aini masih melanjutkan rapat untuk membuat rencana pembelajaran 1 semester kedepan. Aini sudah mulai akrab dengan beberapa teman, pemikiran Aini tidak harus akrab tapi yang terpenting adalah bisa berjalan sama-sama mencapai tujuan visi misi sekolah, terlalu akrab bukan sesuatu hal yang harus disebuah lembaga. Ternyata orang yang kemarin menasehati Aini itu bernama Bu Fita, seorang single parents yang memiliki tanggung jawab besar, selain sebagai guru beliau juga membuat kue untuk dititipkan di kantin sekolah, kemungkinan sikap beliau seperti itu karena beban hidupnya tidak mudah jadi menjadikan beliau kurang bisa mengontrol diri. Itu pemikiran positif Aini. Suasana sedang hening dengan tugas masing-masing, Aini mengemban tugas menjadi wali kelas 2B, tiap kelas terdiri dari 4 kelas, A, B, C dan D dan tiap pengampu menjadi 1 kelompok yang berbagi tugas dalam membuat rancangan pembelajarannya.
"Bu, itu nggak seperti itu," ucap Bu Fita yang entah datang darimana ternyata sudah disamping Aini, Bu Fita diamanahi untuk menjadi wali kelas 3C.
"Oh ... iya, Bu Fita. Terimakasih,"
"Tau namaku darimana? Saya belum mengenalkan diri, Bu. Oh ... iya aku kan terkenal ya," sambil berlalu begitu saja. Teman kelompok Aini heran dan menyayangkan dengan sikap Bu Fita.
"Bu Aini, maafkan sikap tenang kami ya, Bu. Saya jadi nggak enak," ucap Bu Desi
"Sudah, Bu. Kalau nggak enak tambah bumbu, mungkin kurang garam atau micin," sambil cengengesan. "Bu Aini ada-ada saja. Yang ada Bu Fita itu yang kelebihan micin," tertawa renyah.
"Tiap orang punya kepribadian sendiri-sendiri Bu, mungkin Bu Fita seperti itupun menganggap dirinya paling benar, jadi kalau kita meladeni ucapan beliau malah akan semakin ruwet urusan. Yang penting beliau tetap bisa menjalankan peran guru dengan baik, tidak merugikan siswanya. Kalau ke kita yang sama-sama dewasa nggak apa sikap beliau seperti itu. Mungkin Allah mengutus Bu Fita bersikap seperti itu sebagai ujian buat saya khususnya yang baru melihat dunia luar. InsyaAllah dengan pertolongan Allah semua akan baik-baik saja," jawab Aini menenangkan sahabat barunya.
Sebenarnya memang seperti itu ujian hidup seperti anak sekolah mau naik kelas pasti ada ujiannya dulu.
Tapi jangan salah ... ujian bisa datang dari orang terdekat istri, suami, anak, mertua, kakak, adik, ipar, ibu, bapak, teman, atau saudara.
"Bahkan Bu Desi yang baik ini juga ujian bagi saya dari Allah, ujian bagaimana saya bisa menghargai Bu Desi, bagaimana sikap saya yang tidak boleh sewenang-wenang memanfaatkan kebaikan Bu Desi. Bukankah begitu?" sambil ketawa. "Iya juga ya, Bu..."
"Yuk lanjut, sampai mana tadi ya, Bu Desi?"
"Bentar, Bu Aini.... terimakasih ya saya ikut menyimak pembicaraan Bu Desi dan Bu Aini, saya sependapat dengan, Bu Aini," ucap Bu Ira dan diangguki Bu Okta
Semua tertawa ringan.
"Sudah ayuk lanjut kerjaannya," ucap Aini lagi meresa tidak enak jika hanya mengobrol tapi kerjaan terbengkalai.
"Wah wah wah ... jadi gini ya kerjaan guru kelas 2 ketawa-ketawa tidak jelas. Kerjaan sudah beres belum?" Bu Fita melewati mereka sehabis dari toilet.
Hanya dijawab dengan senyuman.
"iiih nggak asyik banget si kalian. Kerja kerja kerja," berlalu begitu saja.
__ADS_1
...--------------πΈπΈ--------------...
"Ayah, ayah lagi membuat apa?"
"Ayah lagi membuat tempe, Sayang"
"Ini kacang kedelai ya, Yah"
"Iya, Sayang. Pintarnya anak ayah MasyaAllah. Tau darimana?"
"Perrrnah liat di rrrrumah Uti, terrrus Adek tanya ke Uti,"
"Ooh MasyaAllah anak ayah, gemes jadinya. Sayangnya ayah tangannya lagi buat nyuci kedelai kalau nggak adek sudah habis dicium ayah,"
"Haha ... ayah lucu, di muka banyak kotorrrannya,"
Al memulai membuat tempe berawal dari 3kg bahan baku dibungkus menggunakan plastik dan ada yang dibungkus daun, untuk mendapatkan daun Al sudah punya tempat beli dari yang punya pohon langsung jadi harganya sangat terjangkau.
"MasyaAllah anak bunda, kangen ya sama bunda?"
"Iya dong bunda," Aini pulang pukul 14.00 ketika sudah mulai pembelajaran nantinya pulang pukul 14.45.
"Ayuk kita masuk,"
"Mas, sudah mulai buat tempenya?"
"Iya, Ai. Nanti malam sudah bisa dibungkus, ini lagi dikukus, setalah dingin ditabur ragi habis isya nanti mas mulai membungkus InsyaAllah,"
"Iya, Mas. Semangat," sambil tersenyum renyah
"Siap, Sayang. Gimana disekolah sudah mulai bisa beradaptasi?"
"InsyaAllah sudah, Mas. Masih membahas rencana pembelajaran dulu,"
__ADS_1
"Lelah banget ya kelihatannya?"
"Nggak kok, Mas. Cuma mungkin penyesuaian saja. Disini lumayan panas ya, jam 14.00 masih panas banget. Kalau di kampung jam segini sudah nggak begitu panas,"
"Ya bener bawaannya gerah terus. Tapi enak Ai nggak perlu air hangat buat mandi,"
"Adek ... bobo yuk. Bunda tungguin ... sudah hampir asar tumben belum bobo?"
"Iya itu, Ai. Adek liatin proses yang ayah lakukan. Penasaran dia,"
"Ayuk bobo, Nda," menggandeng tangan Aini
"Siap anak bunda, bunda mau cuci tangan dan kaki ganti baju dulu ya,"
"Oke, adek ke kamar dulu," berlari menuju kamarnya.
Selesai ganti baju Aini langsung ke kamar anaknya. Ternyata anaknya sudah tertidur karena lelah, biasanya jam 1 siang sudah tidur kali ini jam segini baru tidur.
Dilihat wajah anaknya yang polos, banyak doa yang dipanjatkan Aini ketika melihat wajah polos anaknya. Harapannya adalah kebahagiaan untuk keluarganya. Harus semangat, ada perasaan sedih dan sesak di dada ketika mengingat saat ini jauh dari orang tua dan sedang merintis usaha. Terkadang ada perasaan cemas tak terasa jatuh juga air mata Aini bertepatan dengan itu Al melihat keadaan kamar anaknya. Dan melihat pemandangan yang membuat hati Al seakan teriris.
"Sayang," bisik Al takut anaknya terbangun sambil memeluk Aini untuk menguatkan. Al paham bukan hal mudah yg dialami Aini saat ini, selain harus jauh dari orang tuanya juga tidak mudah membuat dengan rekan kerja baru. Al sangat tau watak Aini yg biasa mengalah dengan teman-teman, yang biasa mengedepankan teman-temannya meski Aini tidak cerita tapi wajahnya sangat terbaca kalau saat ini Aini dalam kondisi tidak baik-baik saja. Yang diperlukan bukan kata-kata melainkan pelukan dari orang tersayang.
"Ayok keluar," mengurai pelukan lalu menggandeng istrinya. Duduk beralaskan tikar diruang keluarga sambil menunggu kedelai yang dikukus.
Aini duduk dengan posisi kepala bersandar dipundak Al. Al memeluk pinggang Aini. "Bagaimana perasaannya, sudah lebih baik?" diangguki oleh Aini
"InsyaAllah kita dimudahkan melewati semuanya."
"Aamiin," ucap Aini lirih.
Aini bukan tipe wanita yang suka mengadu, hanya saja dia butuh dimengerti, dengan sikap Al yang seperti itu membuat Ai sangat nyaman.
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1