Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Menu Sarapan Pagi


__ADS_3

***


Kumandang suara azan mulai terdengar dari masjid terdekat. Dhena membuka matanya yang masih terasa berat. Sedangkan Hariz sudah tak ada lagi di sampingnya.


Dhena berusaha menghalau rasa kantuk yang masih menyerangnya. Kemudian ia memaksakan diri bangun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar melangkahkan kaki jenjangnya ke arah kamar mandi.


Dilihatnya pintu kamar Bu Aida masih tertutup rapat. Pertanda orang di dalamnya belum terbangun.


Belum sempat menyelesaikan ritual wudhunya dari arah kamar sudah terdengar rengekkan Fathan. Seperti halnya anak kecil yang lain. Fathan pun setiap kali bangun dari tidurnya kadang diawali dengan tangisan dan agak rewel.


Dhena segera menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi dan tergesa untuk menghampiri Fathan. Agar tangisannya tak mengganggu ibu mertuanya yang masih berada di dalam kamar.


Baru saja langkah kaki Dhena akan memasuki ruang dapur di sana sudah berdiri sosok Bu Aida yang sedang menggendong Fathan.


"Kamu, kan, sekarang sudah punya anak Dhena! Harusnya bisa belajar lebih cekatan lagi agar bisa mengurus anakmu ini. Jangan dibiasakan lelet seperti siput," ujar Bu Aida ketus.


"Iya, Bu. Sini Fathan digendong sama mama saja, yuk!" ajak Dhena mencoba meraih anaknya yang masih berada dalam gendongan Bu Aida.


"Gak mau Fathan gak mau sama Mama, Fathan maunya sama Ayah," tolak bacah polos itu menepiskan tangan mamanya.


"Tuh, lihat! Ini akibat anak yang gak diurus oleh mamanya sendiri. Jadi dekatnya ke ayahnya. Sampai bangun tidur pun yang dicari Ayahnya. Padahal, kebanyakan anak kecil itu lengketnya ke ibunya, bukan malah ke bapaknya." Bu Aida langsung berkata banyak memojokkan Dhena.


"Ada apa ini, masih Subuh, kok, sudah pada ribut?" Hariz yang baru saja memasuki rumah baru pulang dari masjid bertanya pelan.


"Itu istrimu. Dari dulu pertama nikah sama kamu sampai sudah mau punya anak dua penyakit leletnya gak hilang-hilang. Di kamar mandi saja hampir dua puluh menit. Gak bisa buru-buru," jawab Bu Aida sambil menyerahkan Fathan dalam gendongannya kepada Hariz.

__ADS_1


Sedangkan Dhena segera berlalu menuju kamar untuk segera menunaikan kewajibannya melakukan salat Subuh. Di akhir salatnya, masih dengan balutan mukena yang melekat di tubuhnya Dhena kemudian bersimpuh di atas sejadah mencurahkan segala beban pikiran yang selalu ditanggungnya dari orang-orang yang tak pernah bisa menghargai perasaannya.


Karena hanya Yang Maha Kuasa yang bisa mengetahui perasaan hatinya ketika tidak dihargai dan selalu dianggap sebelah mata oleh orang di sekelilingnya.


"Kamu yang sabar, ya, jangan diambil hati dari semua omongan Ibu tadi," hibur Hariz mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


Dhena tersenyum menganggukkan kepala ke arah sang suami dengan air mata yang masih membasahi kedua pipinya.


"Jangan banyak pikiran. Kasihan anak kita yang masih berada di sini," ucap Hariz. Telapak tangannya mengusap lembut bagian perut istrinya.


Dhena membuka mukena lalu melipat dan menaruhnya kembali. Setelah itu ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya.


Dhena mulai menggoreng beberapa ikan kembung yang sudah dibumbuinnya kemarin sore yang disimpan di dalam kulkas. Sambil menggoreng ikan ia membuat tumis kangkung dan sambal terasi kesukaan Hariz.


Usai berganti pakaian Dhena kemudian melangkah ke ruang makan. Di sana sudah Hariz, Fathan, dan ibu mertuanya.


Bola mata Dhena melebar ketika ia mendapati meja makan semua yang terhidang tadi sudah berganti menu. Di sana ada gudeg jogja, semangkuk rendang daging, perkedel kentang dan berbagai macam pelengkap lainnya seperti ati ampela cabe ijo dan capcay bakso.


Dhena menghela napasnya yang terasa sangat berat. Entah berada di mana kini semua masakan yang ia hidangkan dan sudah susah payah hampir memakan waktu selama dua jam ia berkutat di dapur tadi.


"Tahu, gak, kamu Hariz, semua makanan enak ini dari mana asalnya?"


Hariz menggelengkan kepala.


"Ini semua dari Nelly, lho, dia tadi sengaja memesankan makanan ini semua buat kita," jelas Bu Aida tersenyum puas ke arah Hariz.

__ADS_1


"Kalau cari istri itu harusnya yang pandai membantu perekonomian suami bukan yang malah nambah beban suaminya. Biar bisa menjamin gizi keluarga." Suara Bu Aida sengaja sedikit dikeraskan agar Dhena merasa tersindir dengan perkataannya tadi.


"Asyik ... Ada perkedelnya. Aku suka perkedel lho, Nek," seru Fathan. Jari telunjuknya mengarah ke piring yang berisi beberapa isi perkedel yang siap dimakan.


"Sini, Ma, kita makan besar nih," ajak Hariz kepada Dhena yang masih berdiri mengawasi.


Hariz menyebutnya makan besar karena mereka jarang sekali bisa menikmati menu spesial seperti itu.


"Tapi, ini hanya untuk porsi tiga orang doang, lho. Kalau untuk 4 orang kayaknya gak cukup," sela Bu Aida melirik Dhena dengan ekor matanya.


Mendengar ucapan sang ibu mertua, Dhena menelan ludah seraya berkata, "Iya, Bu, gak apa-apa Dhena nanti bisa makan sendiri di dapur," jawab Dhena berusaha menguatkan hatinya.


"Gak apa-apa, kan, bisa dibagi-bagi biar kita semua kebagian rata," ujar Hariz. Tangannya menerima piring yang sudah berisi nasi putih yang sudah diambilkan oleh ibunya. Sedangkan Fathan disuapi Bu Aida dari piringnya sendiri.


"Gak usah. Biar Dhena membereskan semua pekerjaannya dulu di dapur. Tadi Ibu lihat bekas dia masak masih berantakan dan pada kotor semua," sangkal Bu Aida. Tangannya terampil mengambilkan rendang daging dan gudek ke atas piring anak lelakinya dan piringnya sendiri.


"Sekalian tuh, pakaian kotor Ibu bekas kemarin di kamar dicuciin. Ibu sudah tua, sudah gak kuat kalau harus nyuci pakaian kotor," sambung Bu Aida.


"Tapi, Bu, Dhena sekarang mempunyai riwayat alergi yang gak bisa nyium bau menyengat dari yang berbahan kimia seperti detergen atau cairan pengepel lantai dan sejenisnya." Hariz berusaha mencoba menjelaskan kondisi kesehatan sang istri yang memang mempunyai riwayat alergi dan pernapasan.


"Halah jangan sok manja seperti itu, lah, kayak anak sultan saja," sahut Bu Aida mencebikkan ujung bibirnya.


Dhena bergegas menuju dapur agar ia tak lagi mendengarkan semua obrolan antara anak dan ibu itu. Hatinya tercabik pilu setiap mendengar ucapan yang keluar dari bibir ibu mertuanya.


Seakan Dhena tak punya harga diri setiap berhadapan dengan Bu Aida yang terus menerus memojokkannya dan selalu mengagung-agungkan sosok Nelly yang memang memiliki karir yang bagus dan perekonomian yang jauh lebih mapan.

__ADS_1


__ADS_2