
Al terus menghubungi namun tak ada jawaban. Sayang, maafkan aku. Aku salah sudah mengucapkan kata-kata yang membuat kamu sakit.
"Lin, siang ini apa kamu sudah chat sama Aini?" tanyaku.
"Kenapa memangnya, Mas?" tanya Lina heran. Tak biasanya Mas Al menanyakan seperti itu.
"Aku tanya, Lin. Kok balik nanya," ucap Al kesal.
"Mas, aku habis tidur. Capek banget, jadi baru buka hp. Dan belum lihat ada chat ataupun log panggilan dari Mba Aini, kenapa Mas Al panik? Ada apa?"
"Nggak apa-apa, Lin. Ya sudah, aku tutup ya teleponnya," Al merasa nggak enak harus melibatkan mereka berdua.
Aini nggak punya teman nongkrong disini selain suaminya, jadi membuat Al bingung kemana mesti menanyakan hal ini. Al berjalan tanpa arah, menjalankan kendaraan dengan kecepatan rendah sambil tengok kanan kiri. Al mengingat sesuatu yaitu menghubungi Budhe.
"Budhe, apa kabarnya?" tanya Al basa basi.
"Baik, ada apa Al? Baru saja kita berpisah pagi tadi. Ada sesuatu?" tebakan Budhe dan itu benar memang ada sesuatu.
"Budhe, apakah Aini ada menghubungi Budhe?" mendengar pertanyaan keponakan Budhe lekas tanggap.
"Kenapa dengan Aini? Ngomong yang jelas, Al"
"Budhe, Aini tak ada di rumah. Handphone mati, Al lagi nyari. Tapi bingung mau nyari kemana?"
"Al, Aini itu bukan lagi anak-anak. Dia wanita dewasa, pergi dari rumah tanpa pamit Bakan karakter Aini. Pasti ada sesuatu yang habis terjadi, dan bukan hal yang sepele. Apakah kamu bertingkah kemarin sewaktu di kampung? Aku dengar ada beberapa orang tua yang melamar kamu untuk di jadikan istri. Apa karena sekarang kamu bergelimang harta jadi merasa bisa berdiri tanpa Aini?"
"Budhe, maaf aku bersalah. Tapi tidak sepenuhnya salah,"
"Halah ... sudah ngaku salah ujung-ujungnya nggak mau salah. Wanita itu sensitif Al, sangat perasa, Budhe sangat yakin kalau Aini marah dengan hal yang terjadi di kampung kemarin. Berumah tangga sudah lama kamu Al. Budhe nggak akan menggurui kamu. Pulanglah, tunggu dia kembali, aku nggak yakin kalau dia pergi begitu saja, tanpa petunjuk. Pulanglah! siapa tau dia malah sudah di rumah, hanya ke warung beli es krim biar adem pikiran setelah bertengkar, heran apa yang diributkan,"
"Budhe, tapi sewaktu di kampung kenapa Aini terlihat baik-baik saja?"
__ADS_1
"Al, wanita itu rapuh tapi pandai menyembunyikan kerapuhannya. Apalagi di hadapan keluarganya, tak mungkin Aini menujukan kepada keluarganya. Dan Aini masih sangat menjaga nama baik suaminya. Kalau sampai Budhe dengar kamu kepincut sama wanita lain, aku sunat lagi kamu Al!" ancaman Budhe mengerikan bukan?
"Baiklah, Budhe. Aku cek lagi kerumah rumah,"
"Hati-hati, Al. Jangan melamun, ingat jalan pulang, kan? Awas nyasar ketempat awewe tambah marah nanti Aini," ucap Budhe tertawa lepas.
Al putar balik menuju rumahnya, kali ini menambah kecepatan pikirannya masih berkelana dimana kira-kira? Rentetan kesetiaan Aini ketika dirinya terpuruk terekam jelas dalam otak dan pikirannya. Aini tak pernah mendengarkan tetangganya yang jilid menyuruh Aini meninggalkan Al saat lumpuh, Aini bertahan dengan keadaan ekonomi yang serba kurang, Aini yang menemani disaat merintis usaha.
Aku salah, sudah tertarik dengan perkataan Zaki. Aku sempat mengatakan kalau ide Zaki aku terima. Ide agar aku bersenang-senang dengan wanita dan menikah kembali. Banyak wanita yang butuh uluran tanganku menafkahi mereka. Arrrgggg ... konyol, ceroboh.
Jantungku berdetak kencang memasuki pekarangan rumah, berharap Aini sudah di rumah menemani alia seperti biasanya. Namun rumah terasa sepi jam menujukan pukul 17.30, pekerja sudah pada pulang tinggal Lastri dan suaminya yang masih dirumah mereka tampak hanya motor mereka yang terparkir di halaman. Al memasuki rumahnya dengan memberi salam terlebih dahulu. Tak ada jawaban dari siapapun.
Al memasuki rumah dengan gontai mengecek keberadaan penghuni rumah. Tampak Lastri hanya berdua dengan suaminya di ruang kerja sedang duduk menikmati kopi masing-masing.
"Lastri, Alia kemana? Kok nggak bersama kamu?"
"Loh, bukannya menyusul Pak Al tadi. Tak lama setelah Pak Al pergi. Bu Aini keluar kamar dan membawa Alia pergi,"
"Ibu nggak bilang apa-apa, hanya mengatakan kalau mau pulang nggak apa? Nanti minta tolong satpam saja buat nutup pintu,"
"Nggak menanyakan apa-apa tentangku?" Lastri menjawab "Tidak, Pak,"
"Posisi ceria apa cemberut?"
"Wah, ... kamu jadi narasumber dadakan, Sayang," seloroh suami Lastri.
"Aish ... jangan begitu, Bang. Pak Al lagi serius," Lastri merasa nggak enak dengan candaan suaminya.
"Bu Aini baik-baik saja, tak ada yang mencurigakan. Bahkan tadi sempat ngasih uang buat aku, katanya uang belanja sayur buat Minggu ini. Biar nggak mendadak ngasihnya, wajahnya ceria seperti biasa," Lastri menerangkan sesuai fakta.
"Perginya naik apa? Motornya masih terparkir di garasi. Nggak mungkin jalan kalau, kan?
__ADS_1
"Setauku tadi Pakai grab, Pak,"
"Kamu tanya nggak, Aini mau pergi kemana?"
"Aku tanya sama Alia. Alia bilangnya mau jalan-jalan keliling katanya, nampak riang sekali Alia,"
"Lastri, coba kamu telpon?"
"Pak, kenapa nggak coba ditelpon sendiri? tanya Lastri. Dijawab oleh Al "Kamu saja, Tri,"
Lastri mencoba telpon Aini, nomor yang dihubungi sedang sibuk. Hanya terdengar operator wanita berbicara. Artinya nomor masih aktif hanya mungkin sedang di pakai.
Aini, kamu kenapa? Al mengecek nampaknya nomor handphone sudah di blokir rupanya, pantas saja nggak bisa dihubungi.
"Lastri, terus hubungi sampai bisa ya. Aku mohon," ucap Al sambil terbata. Lastri dan suami merasa sangat iba dengan Bosnya. Nampak sekali berantakan, Lastri terus mencoba menghubungi nomor istri bosnya. Lastri nampak ikut khawatir melihat bosnya seperti itu, dia menduga kalau sedang terjadi apa-apa dengan kehidupan rumah tangga bosnya.
Al menuju kamar mereka untuk mengecek barangkali ada jejak atau petunjuk yang bisa mengarah kemana istri dan anaknya pergi. Al merasa kecolongan, tadinya Alia masih dirumah. Dan sekarang sudah ikut dibawa serta oleh istrinya. Kepergian istrinya sangat rapi, Al nggak bisa menebak kemana mereka saat ini mengingat ini di perantauan. Kalau dulu ketika di kampung pasti bisa di tebak yaitu kerumah Sintia temannya. Ah ... Sintia. Mungkin sibuk karena lagi telon dengan Sintia sahabat baiknya.
"Assalamualaikum, Sin. Kamu apa kabarnya?"
"Tumben, Mas Al telpon? Eh ... wa'alaikumussallam, kabarku baik, Mas,"
"Sin, apa kamu yang habis telpon Aini?"
"Ada apa, Mas? Kalian sedang tidak bertengkar kan?"
"Nggak, Sin. Kami baik-baik saja, hanya saja kami sedang berada di beda tempat. Aku telpon Aini nomor sibuk. Kalau tidak habis telpon ya sudah, aku tutup dulu," tak memberi kesempatan buat Sintia menanyakan perihal selanjutnya. Pak Aryo satpam dirumah Al berlari tergopoh-gopoh dari luar.
"Pak ... Pak Al ... aku cari dari tadi nggak ketemu. Kemana saja Pak Al? Ada titipan pesan dari ibu. Bu Aini bilang kalau ..."
Brukkkk ....
__ADS_1
"Astaghfirullah, Pak Arif!" Lastri reflek berteriak.