
Dhena membuka pintu belakang dapur hendak membuang sampah yang sudah memenuhi keranjang sampah yang terletak di dapur. Hatinya terenyuh ketika kedua netranya menangkap seekor kucing sedang asik memakan beberapa potong ikan yang tadi dimasak olehnya. Ternyata ketika tadi Dhena sedang berada di dalam kamar mandi Bu Aida sengaja membuang semua masakan menantunya itu.
Rinai hujan di pagi hari berbaur dengan tetes bening yang kembali luruh dari setiap sudut netra wanita malang itu. Air mata yang seolah tak kan pernah mengering mengalir di kedua pipinya. Suara deras hujan menelan isaknya yang mulai tergugu pilu di balik pintu. Kepada siapa kiranya ia bisa membagi beban derita hidupnya yang kini ia rasakan?
Lengkingan suara Bu Aida dari dalam mengejutkan Dhena yang masih menikmati rasa pilu di hatinya seorang diri. Tergesa ia mengusap kedua matanya yang masih basah.
Bergegas menghampiri sang ibu mertua yang sudah beberapa kali memanggil namanya dari tadi.
"Kamu ngapain saja dari tadi? Dapur masih berantakkan seperti ini bukannya cepat dibersihin dan diberesin malah ditinggalin. Suka aneh saya sama pikiran kamu. Sudah tua juga, kok, ya, mirip anak yang masih sekolah SD. Harus ditunjukkin satu-satu kerjaan rumah," sungut Bu Aida tanpa mempedulikan perasaan menantunya.
'Wahi hati ... Bersabarlah engkau,' bisik Dhena mengelus dadanya. Menguatkan kejiwaannya agar tetap bisa menjadi waras walau dalam keadaan seperti ini.
Ingatan Dhena kembali ke zaman beberapa tahun silam, saat dirinya masih remaja ia pernah ngobrol iseng dengan kedua sahabatnya.
"Dhen, kamu kalau nanti punya suami pengen yang udah gak punya ibu biar kita gak punya mertua apa yang orang tuanya lengkap?" tanya Fatma, sahabatnya kala itu.
Fatma sendiri mengungkapkan harapannya agar mendapatkan suami yang sudah tidak memiliki ibu. Karena katanya sosok ibu mertua yang kebanyakan tidak bisa menerima menantu dan selalu mencari-cari kesalahan menjadi bayangan yang menakutkan dalam benaknya. Walaupun kenyataannya kini Fatma memiliki ibu mertua yang sangat baik dan menerimanya penuh pengertian.
Sedangkan Dhena yang kala itu ingin mempunyai ibu mertua yang baik dan tulus ternyata dihadapkan dengan kenyataan yang harus ia jalani karena diberi ujian melalui ibu dari suaminya sendiri.
Usai menyelesaikan tugasnya Dhena kembali memasuki kamar. Sedangkan Fathan sudah tak ada di rumah karena diajak oleh Bu Aida entah kemana. Dhena berusaha meluahkan perasaannya dengan menuliskan semua isi hatinya.
__ADS_1
Fitrah Suami Istri
Istri berjibaku dengan urusan dapur menyiapkan sarapan, suami mencuci pakaian kotor.
Istri yang menjemur pakaian dan cuci piring, suami memandikan anak.
Istri yang menyapu dan nyetrika pakaian, suami yang ngepel lantai.
Bukankah semua itu merupakan impian semua pasangan yang sudah berumah tangga? Lalu kenapa ketika ada yang seperti itu malah jadi bahan persoalan untuk pihak kedua, ketiga, dan kesekian? Seolah yang seperti itu adalah aib. Apa karena hal itu tidak umum. Sehingga dianggap aneh.
Padahal menjadi seorang istri sekaligus merangkap sebagai ibu untuk anak-anaknya itu butuh jiwa raga yang fresh. Supaya bisa menjalani hari-harinya selalu bahagia tanpa beban. Karena sosok ibu harus dibahagiakan. Dengan cara dijaga hati dan perasaannya agar tetap stabil. Jangan sampai dibikin down dan terpuruk oleh lidah tak bertulang yang seolah tak mempunyai empati.
Ada yang istrinya sibuk ngurus anak, masak, nyuci, nyapu, ngepel. Eh, si suami dengan santainya menonton acara televisi, main game online, nongkorong bareng reng-rengan. Dengan dalih itu semua, kan, tugasnya istri. Tugas suami hanya mencari nafkah kerja di luar. Fix! Anda bukan suami yang oke banget!
Tapi, Allah itu maha adil. Ketika istrinya yang lelet macem siput, dipasangkan dengan suami yang penuh pengertian dan sigap.
Bayangkan, jika si istri yang kata orang-orang keumbeuy ini, jangankan mampu pasang selang tabung gas, angkat galon, benerin pompa air yang rusak, buka tutup botol air mineral pun harus minta bantuin suami itu dipasangkan dengan lelaki yang tidak peka dan masa bodoh. Ambyar semua ....
Ditambah punya riwayat alergi sinusitis dan rhinitis. Yang kalau bersentuhan dengan pemicu seperti debu, asap, cuaca dingin, dan yang berbau bahan kimia langsung bersin-bersin gak berhenti, hidung meler, muka merah membuat kondisi tubuh meriang dan gak nyaman. Qodarullah suami bisa mengerti dan memahami jadi tidak terlalu mempermasalahkan. Dengan senang hati menyingsingkan lengan bajunya tanpa diminta oleh sang istri.
Jan salah lho, istri yang terlihat strong. Mampu menyulap pekerjaan rumah sendiri, manggul gabah menuju penggilingan padi, manjat pohon kelapa untuk bikin santan(saking mandirinya kali) Dibalik itu semua ada hati istri yang tertekan. Dia mencurahkan segala beban hatinya ke orang lain. Karena saat mengadu ke suami sendiri bukan jalan keluar yang didapat, malah nambah runyam keadaan.
__ADS_1
Ujung-ujungnya depresi. Tidak dapat mengendalikan perasaan, sehingga banyak didapati kasus ibu membunuh anak. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita semua dijauhkan dari hal mengerikan.
Karena semua berawal dari orang sekeliling dan terdekatnya yang egois. Tidak pernah ada rasa simpati dan menghargai.
"Kalau kerjaan rumah harus dibantu suami, istri gak dapat pahala, dong?"
Padahal Pahala itu tidak akan berkurang dengan hanya karena pasangan itu ikut andil meringankan tugas istri. Malah sebaliknya. Karena sejatinya itu semua bukan hanya tugas istri tapi tugas bersama.
Tapi biasanya hal yang dianggap tidak umum itu memang selalu jadi bahan sorotan tajam orang sekitar yang merasa maha benar. Kuncinya, hempaskan saja semua komentar toxic yang merugikan diri kita sendiri dengan menutup telinga rapat-rapat.
Karena bahagia itu yang cipta kita sendiri, bukan dengan menuruti apa mau orang.
Kebahagiaan istri yang terdalam itu retjeh banget dengan sikap suami yang mampu memuliakan istri, maka istri pun akan membalas menghormati pasangannya dengan sikap qona'ah menerima apa yang lelakinya berikan. Gak menuntut emas permata, rumah megah, kendaraan mewah.
Pelajaran buat kita semua. Jika suatu saat kita diberikan kesempatan menjadi seorang mertua, ipar, atau yang lainnya. Kita harus bisa menjaga perasaan orang yang baru memasuki keluarga besar kita. Sebaiknya kita rangkul mereka, besarkan hatinya agar tidak merasa tertekan oleh sikap dan ucapan dari lidah kita yang tak bertulang.
Ttd.
Makemak yang punya gelar lelet
Sengaja Dhena memposting tulisannya kali ini di tempat forum menulis opini online untuk menyemangati diri sendiri dan istri-istri yang lain di luaran sana yang kebetulan senasib dengan dirinya.
__ADS_1