Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kedatangan Sang Ibu Mertua


__ADS_3

Walaupun kehamilan Dhena saat ini bukan yang pertama kalinya. Tapi entah kenapa ia merasa sangat berat menjalaninya. Mungkin karena Dhena merasa belum siap karena Fathan, putra pertamanya pun masih berusia tiga tahun.


Dhena masih berbaring di tempat tidur. Sedangkan Fathan sedang bermain sendiri di ruang tengah sambil nonton televisi tayangan kartun favoritnya. Hariz sudah berangkat ke tempat kerja sejak jam setengah tujuh pagi tadi.


"Assalamualaikum."


Suara yang mengucap salam dari arah pintu depan mengejutkan Dhena yang baru saja hendak memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini. Di usia kehamilannya yang memasuki delapan Minggu ia sering dilanda kantuk berat saat hari masih pagi. Di tambah rasa sakit di bagian kepalanya membuat ia tidak bisa melakukan aktivitas walau hanya membereskan dan membersihkan rumah.


Dhena menyeret langkah kakinya menuju pintu depan. Saat pintu terbuka. Tampak seorang ibu paruh baya sedang berdiri persis di hadapan Dhena.


"Owh, Ibu, Monggo, Bu. Silakan masuk." Dhena mencium punggung tangan perempuan itu dengan penuh takzim seraya menyilakan dan mengajaknya memasuki rumah.


"Horee ... Nenek ke sini." Fathan langsung menghambur ke pelukan Bu Aida yang ternyata ibunya Hariz.


"Cucu Nenek sekarang sudah besar, ya, ternyata," ucap Bu Aida seraya meraih dan menggendong Fathan membawanya masuk ke dalam rumah.


Memasuki ruang tengah Bu Aida kembali menurunkan Fathan dari gendongannya.


"Dhena, Dhena ... Ini rumah orang apa kapal pecah? Masa ruangan berantakan seperti ini kamu biarkan saja?" Sorot mata perempuan berkebaya putih itu melirik sinis ke arah Dhena.


Ruangan seluas tiga kali empat itu terlihat dipenuhi oleh sobekan kertas kecil-kecil bekas Fathan tadi bermain sendiri.


"Iya, Bu, dari pagi tadi kepala Dhena terasa sangat sakit. Jadi, gak bisa dan gak sempat membereskan rumah." Dhena menjawab apa adanya.


"Heleh, alasan saja kamu. Bilang aja malas." Bu Aida berjalan ke arah ruangan lain memeriksa satu persatu.


Mulutnya tak berhenti menggerutu ketika dilihatnya piring kotor masih menumpuk di dapur.

__ADS_1


Demi menjaga perasaan ibu mertuanya Dhena pun bergegas segera membereskan mainan Fathan yang berserakan di lantai lalu kemudian menyapunya hingga bersih.


"Mama, mainan aku jangan diberesin. Aku belum selesai mainnya," rengek Fathan melihat Dhena menaruh semua jenis mainan yang tadi tercecer.


Dhena pun membiarkan Fathan ketika putranya itu kembali mengeluarkan semua mainannya dari dalam keranjang yang tadi sudah sempat disimpan mamanya.


Rasa berat di kepalanya sudah ia tak hiraukan lagi. Dhena kemudian menuju dapur untuk mencuci semua piring dan peralatan dapur yang tadi belum sempat ia sentuh.


"Kasihan anak saya sudah bekerja setengah hari di luar. Sampai rumah harus mengerjakan semua tugas pekerjaan yang ada di rumah juga," ujar Bu Aida kepada Dhena.


Dhena tak menyahut sepatah kata pun semua perkataan ibu mertuanya tadi yang terus menyudutkan dan memojokkannya. Ia telan semua ucapan ibunya Hariz sambil berusaha menahan gemuruh hatinya. Jika saja tak ditahannya, pasti air matanya sudah sedari tadi luruh membasahi kedua pipinya.


Cobaan hidup berumah tangga itu ternyata berlapis-lapis. Semua orang yang menjalaninya dituntut untuk mempersiapkan kesabaran dan ketabahan yang kuat. Begitu pula dengan Dhena satu persatu ujian rumah tangganya ia jalani, ia nikmati dan ia lalui. Menciptakan sejarah dari bagian kehidupannya yang kelak bisa diambil hikmah dan pelajaran untuk anak cucu tercintanya nanti.


Usai menyelesaikan semua pekerjaannya Dhena kembali ke ruang tamu sambil membawakan minuman teh manis hangat untuk sang ibu mertua.


"Monggo, Bu, minum dulu." Dhena menyilakan.


Sorot mata Bu Aida kembali menatap Dhena dengan tajam.


"Kamu serius sekarang ini sedang hamil lagi?" tanyanya menyelidik. Ia mendapat kabar dari Hariz via telepon jika Dhena kini sedang mengandung anaknya yang kedua.


Dhena menganggukkan kepalanya pelan.


"Kamu ini gimana sih, Dhena. Baru punya anak satu saja. Fathan sudah gak keurus. Lihat, tuh, badannya sangat kurus begitu. Apalagi kamu harus ngurus dua anak," tutur Bu Aida sambil menunjuk ke arah Fathan dengan dagunya.


"Insya Allah Dhena siap, Bu."

__ADS_1


"Iya, kamu siap. Tapi tetap anak saya yang akan kerepotan seperti waktu bayinya Fathan dulu," cecarnya yang mengetahui Hariz sering membantu melakukan pekerjaan rumah dan mengganti bedong Fathan dulu dari tetangga sekitar.


"Sebenarnya Dhena pun belum siap, Bu. Tapi gimana lagi, ini sudah terjadi dan bagian dari ketentuan Sang Maha Kuasa," jawab Dhena meluahkan isi hatinya.


"Kenapa kamu gak pakai KB saja, kalau memang kamu beneran belum siap?" cecar Bu Aida. Tatapan matanya penuh sorot mengintimidasi.


Dhena tak menjawab pertanyaan sang ibu mertua. Kepalanya menunduk menekuri lantai berkeramik putih.


Tetes bening mulai menggantung dari kedua sudut matanya. Sekali saja ia mengerjapkan kelopak matanya, maka cairan hangat itu akan terjun bebas membasahai kedua pipi Dhena.


Tangan Bu Aida menaruh ponsel ke dalam tas yang ia letakkan di pangkuannya. Lalu meraih gelas yang tadi disuguhkan oleh menantunya itu. Menyeruput teh hangat hingga tinggal setengah.


"Maunya Ibu itu, kamu harusnya nyari kerja kalau Fathan sudah agak besar nanti. Biar kamu bisa membantu perekonomian keluarga kecilmu ini. Sudah tahu hidup susah dan serba kekurangan. Masih saja mengandalkan dari gaji suami yang penghasilannya belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga selama sebulan. Jangankan bisa ngasih Ibu jatah tiap bulan seperti anak Ibu yang di Batam. Untuk sekadar beli beras pun kalian masih sulit, kan?"


Perkataan Bu Aida yang panjang lebar berhasil menohok ulu hati Dhena. Apalagi keadaannya dibandingkan dengan kakak angkatnya Hariz yang sudah sukses dari segi perekonomian. Membuat hati Dhena teriris pilu.


Pembicaraan Bu Aida tejeda ketika didengarnya suara sepeda motor Hariz terparkir di halaman depan. Hariz mengucap salam ketika ia melewati pintu yang sudah terbuka. Yang dijawab secara bersamaan oleh Bu Aida dan istrinya.


"Eh, ada Ibu. Ibu kapan datang?" tanya Hariz mencium punggung tangan perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Kamu sudah mendingan, Sayang?" tanyanya ke arah Dhena.


"Iya, Mas," jawab Dhena pendek.


Hariz melihat Fathan sedang tertidur pulas dengan keadaan televisi yang sedang ditontonnya masih menyala di ruang tengah.


Bu Aida menyuruh Hariz untuk ikut duduk bersama di ruang tamu. Setelah menyimpan tasnya di dalam kamar Hariz menghampiri ibu dan istrinya. Duduk persis di samping Dhena.

__ADS_1


"Hariz, kenapa kamu malah menceraikan Nelly tanpa memberitahu Ibu terlebih dulu? Bukannya Nelly saat ini sedang mengandung anakmu juga?" Pertanyaan Bu Aida bagaikan pisau tajam yang menghunjam bagian rongga dada wanita yang duduk di samping Hariz. Karena selama ini Dhena belum mengetahui jika mantan adik madunya itu sekarang sedang hamil benih dari suaminya.


__ADS_2