
Masih Lanjutan flashback
"Yaah ... aku keduluan deh. Padahal aku yang dilamar duluan sama mas Yoga, eh kok kalian yang mau nikah duluan," ujar Sintia yang tiba-tiba muncul.
Sepulang dari rumah Sintia, Aini menceritakan semua kepada kedua orang tua mereka. Dan kedua orang tua Aini semua keputusan ada ditangan Aini, karena yang mau menjalaninya. Bukan serta merta langsung setuju begitu saja, tapi setidaknya kedua orang tuanya sudah sedikit mengetahui siapa Al Ghazali. Meski tinggal di desa sebelah namun sepak terjang kehidupan Al Ghazali ini sudah banyak yang mengetahui. Anak muda yang terjun didunia pertanian modern, dimana sudah menjadi pelopor bagi petani-petani lainya dalam metode perawatan tanaman. Dan pandai melihat pasar komoditi apa yang peluang penghasilannya lebih besar saat ditanam nantinya.
Prosesi lamaran pun sudah terlaksana, dan pernikahan akan digelar 1 bulan kemudian. Para orang tua sepakat pernikahannya cepat, niat baik tidak boleh ditunda-tunda apalagi usia Al juga tergolong sudah matang yaitu 27 tahun.
Dengan jarak yang cukup singkat yaitu kurang dari dua bulan status mereka sudah berubah menjadi sepasang suami istri.
Flashback off
...**********************************...
Keesokan harinya Aini berangkat ke tempat seminar sendiri dengan mengendarai sepeda motor. Sebenarnya tadi suaminya berniat mengantar tapi dikhawatirkan nanti anaknya nangis maunya ikut turun jadi mending Aini berangkat sendiri. Al meskipun ditinggal istrinya nggak khawatir soal masak. Al tergolong jago masak, ketika anak masih bayi juga sering mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan istrinya. Masak dan ngurus anak tidak diragukan lagi kemampuannya. Bagi Al masak, nyuci dan ngurus anak bukan serta merta tugas istri, tapi tugas bersama.
Sesampainya di hotel tempat seminar dilakukan sudah ada beberapa peserta yang hadir. Jarak dari rumah Aini sekitar 1 jam perjalanan. Langsung menuju meja panitia.
"Assalamualaikum Bu Mega," sapa Aini ramah
"Wa'alaikumussallam Bu Aini, mana yang lain?"
"Saya berangkat sendiri Bu Mega. Ini surat tugas dari kepsek Bu Mega," sambil menyodorkan map biru ke Bu Mega.
"Baiklah, tanda tangan dulu Bu Aini," Mega menyerahkan pena.
"Ini kunci kamarnya, Bu. Ada di lantai 2 ibu belok kiri, pintu ke 5 dari lift, sekamar dengan Bu Tina. Tapi beliau belum hadir. Bu Aini bisa masuk dulu untuk meletakan baju dan lainnya. Nanti kumpul di aula pukul 08.00 acara pembukaan,"
"Terimakasih Bu Mega, saya permisi dulu,"
"Sama-sama Bu Aini. Selamat bertugas ya,"
"Sekarang baru pukul 07.05 masih ada banyak waktu," pikir Aini. Sengaja berangkat gasik dari rumah supaya lebih santai dan diperjalanan tidak perlu ngebut.
Pukul 07.45 Aini sudah menuju Aula bareng dengan Bu Tina. Mereka sebelumnya sudah berkenalan sekilas tadi waktu dikamar. Aini datang lebih awal 15 menit dibanding dengan Bu Tina. Mereka duduk dimeja paling depan. Tak sengaja pandangan Aini bertemu dengan pak Abid, buru-buru Aini mengalihkan pandangannya kearah lainnya.
Acara pembukaan dimulai dan dilanjutkan dengan sambutan, serta acara inti. Pembahasan seminar ini temanya cara mengajar yang menyenangkan.
Jam makan siang pun tiba, sebagian sholat terlebih dahulu baru makan, seperti halnya yang dilakukan Aini dan Bu Tina yaitu memilih sholat terlebih dahulu.
Selesai sholat langsung ke meja makan. Disana sudah banyak peserta yang sedang menikmati makan siangnya.
"Bu Aini, saya ke toilet dulu ya,"
__ADS_1
Aini mengangguk dan mengacungkan ibu jari kanannya tanda meng iyakan. Mulutnya lagi penuh baru saja menyuapkan makanan ke mulutnya.
Dari arah depan pak Abid baru turun dari kamar dan mengambil makan, melihat Aini sendirian dimeja maka dengan penuh semangat Abid jalan menuju kursi dimana Aini duduk.
"Aini boleh aku gabung?"
Sebenarnya Aini kurang suka dengan kehadiran pak Abid tapi tidak sopan jika menolak. Ditempat umum jadi nggak apalah, apalagi nantinya dia tidak sendirian, ada Bu Tina yang saat ini sedang di toilet. Akhirnya Aini mengangguk tanda setuju.
"Terimakasih, Aini," Abid duduk dihadapan Aini.
Pandangan Abid tidak lepas dari Aini, bukannya senang ditatap terus seperti itu, rasanya risih dan teringat suaminya yang dirumah ada perasaan bersalah ketika berdekatan dengan pria lain yang jelas-jelas pria tersebut menaruh perhatian kepadanya.
"Bu Tina, cepetan!" Ujar Aini dalam hati
"Bu Aini, sudah makannya? Aku jangan ditinggal ya," Bu Tina duduk disamping Pak Abid. Piringnya tadi sudah digeser oleh Pak Abid.
"Siap Bu. Aku tungguin," sambil menunggu Bu Tina, Aini memakan buah yg sudah diambilnya tadi tanpa memperdulikan Pak Abid yang masih terus memandanginya.
Melihat piring Bu Tina kosong Aini sangat lega.
"Khmmm...." Aini berdehem.
"Bu Tina, buruan sudah mau mulai acaranya,"
"Eh kok aku ditinggal, Bu Tina, Aini," sambil setengah berlari mengikuti mereka.
"Ternyata ada temannya, tadinya aku kira Aini duduk sendiri. Belum beruntung" batin Abid
********************************
Acara selesai jam 22.00 karena ada pemadatan acara supaya besok bisa pulang lebih cepat. Yang awalnya jadwal pulang pukul 14.00 jadi pukul 11.00.
Setelah membersihkan diri Aini langsung rebahan. Tak lupa mengabari suaminya.
"Assalamualaikum sayang, akhirnya menghubungi mas juga,"
"Wa'alaikumussallam mas, iya Mas ... maaf ya. Acaranya padat banget ... kangen, Mas,"
"Masa ... aku nggak tuh. Nggak beda haha," terdengar suara tawa suaminya dari seberang.
"Mas, besok pulangnya diajukan jadi lebih cepat,"
"Alhamdulillah, hati-hati ya Ai...jangan ngebut. Kangennya ditahan dulu...." ucap Al dengan percaya diri.
__ADS_1
" Aiiih PD banget ... suami siapa sih?"
"Ya udah sayang. Kamu harus istirahat. Tidur yang nyenyak yaa ... meski Mas nggak disamping kamu," Goda Al
"Baiklah ... tapi masih kangen, Mas," ucap Aini manja.
"Istriku paling bisa bikin Mas senang ya,"
"Hmmm,"
"Ya udah Mas tutup ya ... nanti kalau nggak Mas tutup kamu nggak tidur-tidur. Assalamualaikum, sayangnya Mas Al,"
"Wa'alaikumussallam, Mas,"
"Tampaknya pengantin baru nih Bu Aini. Lagi hangat-hangatnya. Jadi iri ini pengantin lamanya," goda Bu Tina
"Bukan baru Bu Tina, sudah punya buntut dan sudah 5 tahun usia anakku, Bu,"
"Nikah umur berapa memangnya? Kelihatannya masih sangat muda Bu Aini"
"Iya Bu, nikah muda saat 21 tahun. Masih semester 6 waktu itu,"
"Pantesan ... kalau Bu Tina sudah menikah berapa tahun?"
"Sudah jalan 10 tahun, Bu. Anaku sudah 2 yang pertama umur 9 tahun kelas 2 SD, yang bungsu umur 6 tahun TKB. Sudah ngantuk ayok kita tidur, kita mempersiapkan energi buat besok pagi. Masih padat acaranya," sambil meletakan hp di nakes setelah berkutat dengan hpnya tadi mengabari suami dan anak-anaknya
Drrtttttt drrtttttt
Siap si malam-malam telpon, tertera nama Abid dilayar, dilihatnya sebentar tanpa ada keinginan menjawab kemudian hp diletakan di nakes kembali.
"Biarkan saja lah, palingan dikira sudah tidur," batin Aini.
Beberapa panggilan masuk dari nomor Abid. Kemudian disertai dengan mengirim pesan singkat.
[Aini, tolong diangkat] bunyi wa nya.
Drrt....pesan masuk lagi [Tolong temui aku di lobby]
[Aini, kamu kenapa?]
[Aini, apakah kamu sudah tidur?]
"Kali aja penting Bu Aini. Angkat saja, daripada berisik" mau tak mau Aini mengambil hpnya kembali nggak enak dengan Bu Tina.
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...