Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Nyemil Malam


__ADS_3

Setelah memastikan anaknya tidur Al berniat mengajak istrinya ngobrol. Harus diselesaikan malam ini juga, Al tidak mau menunda.


"Ai, mas penging ngobrol kita ke ruang depan" ucap Al masih ada sedikit kecanggungan.


"Mas duluan ya, biar Ai ambil minum sama cemilan dulu ke dapur" Aini mengambil beberapa cemilan dan air putih. Al sudah terlebih dahulu menuju ruang tamu, belum ada 3 hari perang dingin dengan istrinya namun Al sangat tidak tahan dengan kondisi saat ini. Benar-benar tidak ada canda tawa hari-harinya, hampa. Sambil menunggu istrinya Al merekap orderan susu kedelai yang masuk untuk hari besok, meski sekarang sudah ada karyawan yang menghandle pekerjaan itu namun pikir Al tidak ada salahnya membantu meringankan karyawannya. Beberapa saat kemudian istrinya datang dengan wajah yang masih sangat terlihat masam, Al sangat menyadari sikap istrinya bermula dari sikap dia. Biarlah aku kasih sedikit kesempatan Aini untuk berfikir dan memutuskan, semakin didesak justru membuat istrinya semakin tertekan dan dikhawatirkan nantinya akan menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan. Namun jika dikasih toleransi justru sikap Aini nantinya akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, itu yang dipikirkan Al selama 2 hari ini. Sangat egois jika Al harus memaksakan diri bulan ini juga istrinya harus resign apalagi terkait profesi guru yang nggak bisa keluar saat itu juga, harus menyelesaikan paling tidak sampai ujian semester supaya yang melanjutkan tugasnya mudah, anak didiknya tidak terabaikan.


Aini menuang minum kemudian duduk disamping suaminya menyender ke tembok.


"Mas"


"Ai" mereka memanggil bersamaan.


"Biar mas dulu, nggak apa Ai siap dengerin" mendengar itu Al mengacak rambut istrinya gemas.


"Ai, mas mau minta maaf, rasanya mas nggak tahan harus saling mendiamkan seperti ini. Mas bersalah terlalu mendesak kamu" menarik nafas panjang. Aini masih terdiam mendengarkan suaminya berbicara, rasanya Aini ingin menangis dan memeluk suaminya saat ini juga namun dia masih gengsi, biar suaminya melanjutkan kalimatnya.


"Mau kan kamu memaafkan mas yang nggak tahu diri ini?"


"Mas, aku.....emmm"


"Sayang, mas nggak akan memaksa lagi, mas tahu diri. Sudah sangat banyak pengorbananmu untuk mas" sambil menggenggam tangan istrinya ada perasaan bahagia telah mampu mengucap maaf.


"Mas akan sepenuhnya memberi kebebasan kamu untuk memilih, senyamannya kamu sayang. Jika kamu masih ingin terus berkarir nggak masalah. Mas akan berusaha untuk memahaminya, yang terpenting kamu bisa membagi waktu, mas sangat butuh perhatian dan kasih sayangmu. Mas bisa bangkit seperti sekarang juga karena doa tulus dari istriku"


"Mas, maafkan Ai juga ya mas" badannya memutar 45° kemudian memandang suaminya dengan lembut.


"Tahu nggak mas, Ai tuh tersiksa juga saat mas mendiamkan ku. Aku nggak tenang, meskipun ragaku disekolah namun hati dan pikiran terus mengembara. Konsentrasi juga hilang, menguap ntah kenapa. Hari-hari terasa sangat hampa mas. Aku sudah memaafkan mas sejak awal, Aku juga terlalu egois mas akhir-akhir ini sering terlalu sering waktuku habis di sekolahan. Waktu dirumah hanya malam hari, aku merasa kehilangan moment hangat bersama mas dan Alia. Aku minta maaf ya mas"

__ADS_1


"Soal resign aku juga sudah memikirkannya, meskipun berat meninggalkan dunia anak-anak disekolah namun aku seorang ibu. Tidak lucu jika anak orang lain diperhatikan, sementara anak sendiri di abaikan. Aku sadar mas, belakangan ini bekal Alia sering ketinggalan, jadwal sering tertukar itu karena peranku sebagai ibu yang amat sangat kurang perhatian. Aku tetap berencana resign, menunggu semesteran yang tinggal beberapa bulan lagi. Nggak mungkin kan mas kalau aku keluar begitu saja, terkait tanggungjawab aku disekolah"


"Terimakasih sayang atas semuanya" Al merengkuh tubuh Aini memeluknya dengan erat.


"Mas janji nggak akan memaksa, mas cinta banget sama kamu Ai" setengah berbisik ditelinga Aini.


"Terimakasih mas, Ai juga sangat cinta sama mas"


Keduanya sama-sama mengurai pelukan dan saling menatap penuh sayang, menggambarkan kerinduan yang teramat sangat. Suasana kembali mencair diselingi dengan obrolan ringan seperti biasa.


"Ai, kuenya manis nggak apa ya sekali-kali ngemil dimalam hari"


"Kaya aku mas, manis"


"Haha......iya Ai sampai-sampai mas nggak tahan harus berjauhan sama kamu" Al mengakhiri makannya dengan minum air putih satu gelas.


"Mas sangat setuju Ai," dengan berbinar.


"Mas, turunin tangannya" Al mulai usil tangganya sudah mulai bergerilya.


"Kenapa Ai? mas kangen kamu Ai" dengan tatapan penuh hasrat.


"Mas, bersih-bersih dulu gih, kita tidur lebih awal ya"


"Mana bisa begitu Ai, hari ini kita mau lembur"


"Nggak bisa mas,"

__ADS_1


"Hai.....ngomongnya nggak bisa, tapi tubuhmu nggak bisa bohong, kalau kamu butuh kasih sayang yang ini" sambil menunjuk sesuatu yang sudah menggelembung. Aini tersipu malu, meski sudah berumah tangga cukup lama namun jika membicarakan urusan ini masih saja malu. Aini bergegas merapikan bekas makan tadi, membawanya kedapur untuk dirapikan kembali. Setelah Al membersihkan diri menyusul keberadaan istrinya yang berada di kamar mereka, Aini sedang melakukan ritual untuk perawatan sebelum tidur. Al duduk ditempat tidur sambil memperhatikan istrinya seperti biasa, tak bosan-bosannya Al mengagumi ciptaan Allah yang terpampang nyata didepannya. Mereka menjalani mahligai rumah tangga hampir 7 tahun.


"Mas kenapa liatin terus seperti itu, aku nggak akan kemana-mana" Aini memperhatikan tingkah suaminya sejak tadi dari pantulan cermin.


"Mas takut kamu menghilang dari pandangan mas"


"Lebay,"


"Asli Ai, baru 2 hari mas kehilangan keceriaanmu tapi rasanya lama banget, sampai-sampai tadi siang pas njemput adek mas kebablasan. Sampai kena tegur budhe, budhe ngomel-ngomel macam kereta api" Al menceritakan dengan mimik lucu.


"Haha.....serius mas, terus"


"Mas bilangnya nggak melamun, mas cari alasan sama budhe, bukan kebablasan melainkan mau membeli jajan buat adek, eh malah disuruh putar balik, katanya takut mbonceng sama mas, takut nabrak/jatuh karena mas kebanyakan melamun"


"Pffffff....." Aini menahan tawa sambil menutup mulutnya.


"Ngeledek kamu ya Ai? Awas saja kalau sudah selesai ritualnya sudah tak...."


Rumah tangga bukanlah seindah yang kita kira. Banyak persoalan yang timbul tanpa diharap dan diduga. Banyak perbedaan yang mulai tampak walau awalnya biasa saja. Tapi rumah tangga sesungguhnya bisa jadi lebih indah dari yang kita kira.


Karena adanya kesabaran, keikhlasan, kesyukuran dan keterbukaan satu yg lainnya.


Sebenarnya semua bisa mereda, asal diselesaikan dengan kasabaran.


Sebenarnya semua kan tak terasa, jika rasa cinta diiringi keikhlasan dan keterbukaan.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2