
Meskipun anak mereka baru satu namun cara mendidiknya patut diacungi jempol, mungkin ketika baru melihat cara mendidik Al dan Aini nampak sekilas seolah kejam seperti yang dilakukan saat ini membiarkan anaknya mengancing baju sendiri, namun hal ini sangat menunjang ketrampilan motorik halus seorang anak. Dengan latihan yang beragam, motorik halus anak akan berkembang dan perlahan bisa memegang pensil, menggunting dll. Mereka selalu berlomba mengambil peran masing-masing dalam mendidik Alia. Hal ini juga salah satu cara mereka memupuk kebersamaan agar pernikahan awet dan langgeng dengan harapan hingga maut memisahkan.
Aini berangkat sekolah diantar oleh suaminya, setelah sebelumnya mengantar anaknya terlebih dahulu, kali ini ada pemandangan berbeda yaitu Al terlihat sangat posesif terhadap istrinya, Al menginginkan istrinya resign bukan tanpa alasan akhir-akhir ini banyak waktu yang biasa buat kebersamaan namun Aini gunakan untuk kegiatan lainnya yaitu memberikan jam tambahan buat anak-anak. Aini sangat menyukai dunia anak-anak, ketika sudah berada disekolah seakan lupa waktu, Aini bebas mengeksplor kegiatan pembelajaran yang menyenangkan buat anak didiknya.
"Mas, Ai masuk dulu ya" mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
"Sayang, nanti pulang gasik kan? akhir-akhir ini kamu sering lupa waktu"
"Maaf mas, tapi aku nggak lupa kemana arah harus pulang" mencoba mencairkan suasana. "Mas serius loh Ai, mas mau kamu tetap dirumah saja tidak usah sekolah" dengan wajah seriusnya.
"Iya mas, nanti Ai pikirkan. Kita bicarakan pas Ai pulang ya mas. Sudah Ai masuk dulu, keburu bel belum finger print" Al hanya mengangguk sebagai bentuk jawaban.
Al berfikir sudah cukup bagi Ai berkorban ikut mengais rejeki buat keluarga kecilnya, sekarang biar tugas dan tanggungjawab sepenuhnya akan diambil alih olehnya. Al sudah berfikir semalaman, akan mengutarakan keinginannya kepada mertuanya, bagaimanapun kedua orang tua Aini punya harapan besar kepada anaknya agar menjadi pegawai negeri. Al Ghazali sudah siap jika nantinya mertuanya menentang keinginannya agar Aini resign, Al siap dengan jawabannya.
Sesampainya dirumah Al mendapati karyawannya sudah mulai bergulat dengan kacang kedelai. Mulai hari ini selain produksi tempe, Al mulai memproduksi susu kedelai. Untuk menghasilkan cita rasa yang enak Al butuh percobaan hingga berpuluh-puluh kali. Hari pertama Al hanya memberikan sample 5 pcs masing-masing kedai untuk dicoba pemilik kedai tersebut, hari ini ada 20 kedai yang didatangi Al. Untuk awal semua dihandle oleh Al, sebagai bentuk perkenalan dengan pemilik kedai. Tak lupa Al meninggalkan kartu nama bagi yg belum kenal, ada beberapa kedai yang memang sudah dikenalnya karena sudah berlangganan tempe.
"Al, rupanya usahamu merambah ke lainnya ya. Salut sama semangatmu" ucap Radit saat Al berhenti istirahat ditempat sahabatnya.
"Dit, kamu tahu kan, tidak banyak yang bisa kulakukan dengan tenagaku sekarang. Tapi anak istriku butuh makan, nggak mungkin kan selamanya aku minta sama Emak" tertawa sumbang karena teringat masa kelamnya.
"Sorry bro, jadi membuka lukamu", "Tak apalah, memang kenyataan kan" timpal Al.
"Besok bikin apa lagi Al, yang sama-sama bahan baku dari kedelai" sambil tertawa renyah.
__ADS_1
"Tahu mungkin, tapi aku memikirkan limbahnya Dit. Bingung kalau lokasi masih disana. Lagi pengin pindah Dit, biar lebih leluasa. Kamu tahu sendiri kan, sekarang numpang sama inventaris sekolah" sambil meminum kopi buatan Radit.
"Sabar bro, proses. Jangan tergesa-gesa jadi nanti bisa dapat lokasi yang strategis"
"Kalau kamu ada lokasi kabarin aku ya Dit, aku pengin pindah segera. Mengingat aku sudah meminta istriku untuk resign"
"Serius bro, istrimu resign. Nggak salah, memangnya dia mau"
"Kini saatnya aku yg berjuang bro, kasihan dia sering pulang terlambat karena mesti menambah jam. Menambah jam artinya menambah gaji, aku nggak tega"
"Aku rasa bukan itu alasanmu bro, kamu cemburu kan karena waktunya lebih banyak diluar rumah"
"Sejak kapan sahabatku ini jadi peramal ya, dan sayangnya tebakannya pas, aku merasa kehilangan perhatiannya akhir-akhir ini"
"Ternyata aku sudah cukup lama disini, aku pamit dulu mau jemput anak gadisku"
"Sip, hati-hati bro. Pesanku hidup dirantau dan kamu menujukan keberhasilan jangan sombong dengan orang sekitar jika ingin usahamu langgeng"
"Terimakasih sahabatku, akan kuingat pesanmu, assalamualaikum" sambil menjabat tanggan sahabatnya dengan erat.
Al akui usaha dirantau memang jauh lebih tebal mukanya, tidak mikir malu tapi mamang kita harus pintar bersikap jangan sampai menyinggung perasaan orang lain, mengingat disini mereka juga pendatang dari berbagai wilayah yang artinya kita harus bisa menghormati sekitar dengan karekter yang jauh berbeda dengan kita.
"Ayah, ayo pulang. Adek laper" sambil memegang perut kecilnya.
__ADS_1
"Anak ayah bukannya tadi bawa bekal, kok laper lagi"
"Yah, bekal adek lupa nggak dibawa. Dicari-cari nggak ketemu di tas, adek dikasih kue sama Sabrina tadi, untung minumnya nggak ketinggalan" celoteh Alia dengan muka cemberut.
"Anak ayah, maafin ya.....ayah nggak ikut cek persiapan anaku ini"
"Nggak apa ayah, bentar lagi juga sampai rumah" Alia naik ke motor ayahnya dengan lincah. Al merasa bersalah, namun tidak boleh menyalahkan keadaan. Biar pengalaman ini buat belajar anaknya, bagaimana dia mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat.
"Dek, lain kali cek dulu sebelum berangkat. Dan itu tugas kamu bukan tugas ayah dan bunda. Adek mengerti?" Al bicara sambil mengendarai motornya dan anaknyapun mengangguk tanda mengerti meskipun ayahnya tidak bisa melihatnya. Al ingin membentuk karakter anak yang bertanggung jawab tidak sedikit-sedikit menyalahkan orang lain.
"Ayah, adek mau susu kedelai buatan ayah"
"Siap, masih ada beberapa dikulkas, kalau kurang buat lagi" ucap Al gemas.
Satu persatu perabot mulai bisa terbeli Dengan usaha yang dirintis dari nol, bukan tanpa hambatan namun karena semangat dan niat ikhlas karena mengharap Allah dengan membahagiakan orang-orang yang disayang maka hambatan itu menjadi sebuah tantangan. Tak ada usaha tanpa hambatan, kegagalan demi kegagalan menjadi penguat dalam jiwanya. Kunci yang selalu dipegang adalah selalu melibatkan Allah sang pencipta dalam setiap langkahnya.
"Eh istriku sudah pulang," Al berbinar melihat istrinya yang sudah ganti dengan gamis rumahnannya.
"Khmmm.....pak Al selalu bikin ngiri. Manis banget kalau sama istrinya, tapi kalau didekati uget uget dingin bagai kulkas" ledek Izal.
"Laki-laki memang harus gitu Zal, awas nanti kalau kamu sudah nikah tapi masih jelalatan bisa-bisa pensiun gasik jadi menantu Zal"
"Aku mana berani main-main Bu Ai, Izal mah anaknya ganteng dan setia" seloroh Izal buat gempar seisi ruangan. Aini ijin dengan kepala sekolah untuk tidak memberikan jam tambahan untuk anak-anak, Aini kepikiran dengan sikap suaminya pagi tadi.
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...