
Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan.
Setiap wanita pasti memiliki bayangan akan pernikahan impiannya masing-masing. Begitu pula dengan Nelly. Dalam angan pernikahannya nanti akan penuh kebahagiaan bersama Hariz, pria yang sudah lama dicintai dan dikaguminya dalam diam.
Tapi harapan seringkali berbeda jauh dengan kenyataan. Pernikahan impiannya benar-benar hanya menjadi fatamorgana. Karena keadaan tidak mengizinkan untuk mewujudkannya. Nelly merasa tidak pernah memilih pasangan yang salah. Ia sangat mencintai Hariz begitu pula sebaliknya yang Nelly rasakan diawal mereka menikah.
Pernikahan Nelly yang berstatus menjadi istri kedua dari seorang Hariz. Tentu saja sering kali diliputi rasa takut dan cemas. Meski ia mencoba mengabaikan komentar-komentar miring dan nyinyir dari orang-orang di sekelilingnya sebagai pelakor, atau perempuan perusak rumah tangga orang. Sudah cukup banyak makian ia dengar, tapi dirinya mencoba untuk baik-baik saja. Karena pada akhirnya ia sadar bahwa ini jalan yang ia pilih maka harus menerima konsekuensinya.
Hingga saat ini mungkin pernikahan impian Nelly memang belum bisa dicapai. Tapi, ia sadar itu sama sekali bukan suatu alasan untuk tidak merasa bahagia.
Menjadi yang kedua, ini yang sering mengganjal dalam hati. Yang kedua berarti menjadi yang setelah orang lain. Terlepas dari kata orang sebagai pengganggu, perusak dan lain sebagainya, siapapun punya kemungkinan untuk jadi yang kedua. Entah yang pertama masih disisi atau sudah tiada.
Akan tetapi, jadi yang kedua, sungguh persoalan dan jawabannya sebenarnya ada di dalam hati. Berkutat pada apa yang kita pikirkan sebagai persoalan, padahal jalan keluar dari soal tersebut sejatinya juga tergantung bagaimana kita membebaskan diri dari apa yang kita pikirkan dan bertindak yang terbaik.
Lalu apakah menjadi yang kedua berarti mengundang petaka? Pastinya, bila hal ini hanya menyengsarakan hamba-Nya, Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan pernah mengizinkan poligami (An-Nisa [4]:3) atau membolehkan seseorang yang telah berpisah dengan pasangan sebelumnya menikah kembali. Entahlah ... Nelly sendiri akhir-akhir ini selalu merasa terbelenggu dengan posisinya saat ini.
Wanita yang masih termangu di ruang kamarnya itu kemudian bangkit dan mulai mempersiapkan diri untuk berangkat menjemput Vito di rumah budenya .Vito sedang bermain dengan sepupunya di sana.
"Vito, kok, kamu gak punya Ayah, sih?" Pertanyaan polos dari saudara sepupunya itu sontak saja membuat raut muka Vito mendadak menjadi muram.
"Aku punya ayah, kok, Ayahku Ayah Hariz," jawabnya berusaha menyangkal ucapan saudara sepupunya itu.
"Punya ayah masa sering gak ada di rumah," pancing anak perempuan yang baru berusia tujuh tahun itu membuat Vito jadi semakin merasa terpojok.
Melihat kehadiran Nelly yang sedang berjalan mendekat ke arahnya Vito langsung menghambur ke pelukan sang ibu sembari menahan tangis.
__ADS_1
"Bunda, kata Kakak Sinta, aku katanya tak punya Ayah. Padahal aku punya ayah, kan, Bun? Ayahku, Ayah Hariz, kan, ya?" Vito terus merajuk dalam pelukkan Nelly.
***
"Saya lihat pernikahanmu dengan suamimu sedang tidak baik-baik saja, Dhena?" tanya Gagah mulai membuka percakapan di antara mereka berdua.
Dhena yang duduk di sebelahnya bergeming. Tak mungkin ia menceritakan borok rumah tangganya kepada pria yang sedari dulu sudah banyak membantunya itu.
"Mas, aku minta diturunkan di mulut gang sini, saja. Biar tak sampai terjadi kesalahpahaman seperti yang terjadi kemarin," pinta Dhena mengalihkan tema pembicaraan Gagah.
"Yakin? Kuat?" Gagah menolehkan kepala ke arah Dhena.
Dhena menganggukkan kepala cepat.
"Tapi, maaf, izinkan saya untuk mengantar kamu hingga pintu rumah. Memastikan dirimu baik-baik saja," tutur Gagah masih bersikeras.
Namun, Gagah tidak mempedulikkan permintaan dari wanita yang ada di sebelahnya. Ia terus melajukan mobilnya hingga tepat di depan halaman rumah Dhena. Dhena melihat ke sekeliling. Sepi. Tak nampak satu orang pun yang terlihat di rumahnya.
Gagah membantu menurunkan keranjang belanjaan Nelly lalu membawanya ke teras rumah.
"Saya pamit, ya, Dhen."
"Iya, Mas terima kasih banyak."
Nelly memasuki rumah dengan mengendap. Di ruang tengah ia melihat Hariz dan Fathan sedang terlelap tidur siang.
__ADS_1
Dhena pun tak melihat ada tanda-tanda jika ibu mertuanya itu sudah berada di rumah. Lalu di mana Bu Aida sekarang?
Dhena kembali ke teras depan untuk membawa satu persatu belanjaannya ke dapur. Ketika ia sedang menata belanjaan sembako yang ia beli di pasar tadi Dhena dikejutkan oleh suara dering telepon dari arah ruang tamu.
"Mas, bangun. Nih, ada panggilan dari Ibu," ucap Dhena memberi tahu.
Hariz memicingkan mata. Tangan kekarnya terulur ke arah Dhena menerima ponsel lalu kemudian ditempelkan di telinganya.
"Keterlaluan istri kamu itu, Hariz! Orang tua ditinggalkan sendirian di tengah pasar begini!" bentak suara cempreng Bu Aida dari ujung telepon sana. Suaranya terdengar jelas karena sudah diloudspeaker.
"Jemput Ibu sekarang di sini, Hariz!" pungkas Bu Aida dengan suara masih nada tinggi.
Sorot mata Hariz kemudian mengarah kepada sang istri. Sedangkan Dhena tercengang menyadari jika ibu mertuanya itu masih berada di pasar.
"Ma'af, Mas, aku sama sekali tak tahu kalau Ibu hingga saat ini masih berada di sana," ungkap Dhena kepada sang suami.
"Bagaimana sikap Ibu bisa berubah jadi lebih baik terhadapmu, Dhena? Jika sikapmu terus teledor seperti ini," bisik Hariz tepat di sebelah daun telinga sang istri. Membuat Dhena mundur ke belakang satu langkah untuk menghindari tubuh Hariz, suaminya.
Hariz melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya yang sedikit berminyak karena baru bangun tidur. Lalu berjalan ke arah depan menyalakan kendaraan roda duanya.
Sedangkan Dhena merasa gelisah membayangkan sang ibu mertuanya sebentar lagi akan tiba di rumah. Pasti Bu Aida akan mencaci makinya lagi.
Jangankan sengaja berbuat kesalahan, sudah berusaha berbuat baik sekalipun Dhena di mata Bu Aida akan tetap salah dan tak akan pernah ada nilai positifnya sama sekali. Karena di dalam hati Bu Aida sudah tertanam benih kebencian yang ia pupuk sendiri hingga berakar.
Selama kehadiran ibu mertuanya di rumah itu. Dhena seperti menjadi orang asing sekaligus pembantu di dalam istananya sendiri. Karena sikap Bu Aida yang terlalu diktator dan selalu mengomentari kesalahan yang tak disengaja oleh Dhena.
__ADS_1
Benar saja, belum ada sampai dua puluh menit suara sepeda motor Hariz sudah mulai terdengar dari arah halaman depan rumah. Membuat Dhena menjadi was-was.