Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Luka Batin


__ADS_3

Karena permitaan Nelly yang memaksa Hariz untuk tetap menjenguk Dhena yang masih terbaring lemah di ruang rawat inap akhirnya Hariz pun dengan sangat berat hati membiarkan wanita itu mengekor di belakangnya. Sementara Hariz berjalan paling depan dengan menuntun Fathan yang masih menenteng bermacam jajanan di kantong plastik di tangan sebelah kanannya.


"Mama ... Aku bawa jajan. Tadi dibiliin sama Tante Nelly. Ada es krim, ada cokelat, banyak pokoknya, lho, Mah," seru Fathan ketika ia mulai memasuki pintu kamar yang memang sudah terbuka lebar.


Dhena terhenyak kaget ketika mendengar nama Nelly disebut begitu jelas oleh buah hatinya barusan.


'Permainan macam apa lagi ini, Ya, Robb,' bisik Dhena dalam hati.


Semua tanya yang kini sedang berkecamuk dalam hati Dhena seketika terjawab saat sosok perempuan bertubuh tinggi semampai itu menyembul dari balik pintu dan mengucap salam sembari menebar senyum ramah ke setiap orang yang berada dalam ruangan.


'Pantesan Mas Hariz betah berlama-lama tadi di luar sana, ternyata bertemu dengan makhluk ini. Dan sekarang ia mengajak serta wanita itu masuk ke sini .... ' Dhena masih sibuk dengan kecamuk hatinya. Ada yang berdesir perih di dalam rongga dada wanita yang baru menjalani operasi caesar itu. Mencipta luka yang belum sempat kering. Rasa nyeri di ulu hatinya seolah tersayat sembilu mengalahkan rasa sakitnya ketika ia bertaruh nyawa dalam ruang operasi seorang diri kemarin.


Tanpa rasa sungkan kemudian Nelly berjalan perlahan menuju tempat tidur Dhena.


"Assalamualaikum, Mbak Dhena? Selamat atas kelahiran putra keduanya, ya," ucapnya berdiri persis di samping Dhena yang sedang duduk menyandar di ujung tempat tidur dengan disangga beberapa bantal.


"Waalaikumsalam. Iya, terima kasih," jawab Dhena menatap nanar ke lain arah agar pandangannya tidak bertemu dengan sorot mata perempuan yang kini sedang berada di dekatnya itu.

__ADS_1


Sedangkan Hariz sengaja menyibukkan diri dengan bermain bersama Fathan di luar ruangan. Laki-laki itu tak ingin melihat momen yang mungkin sudah menorehkan luka kembali di hati Dhena. Karena keegoisan Nelly yang dengan sengaja berani menampakkan diri di depan Dhena.


Karena jam besuk sudah habis Nelly pun dipersilakan untuk segera meninggalkan ruangan pasien. Hanya keluarga pasien yang bertugas menemani pasien yang dipetbolehkan tetap berada di sana.


Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit. Nelly sempat berkata kepada Hariz yang sedang menemani Fathan bermain di luar ruangan.


"Mas, aku pamit pulang dulu, ya, aku pulang sendiri saja. Gak perlu kamu antar," pamitnya berdiri di hadapan Hariz


'Siapa juga yang mau mengantar kamu, Nelly,' batin Hariz dalam hati. Entah kenapa setelah tahu Bu Mutia, mamanya Nelly yang menjadi dalang hilangnya Fathan beberapa tahun yang lalu membuat Hariz mati rasa kepada wanita yang kini berada di hadapannya.


Karena jiwa lelaki hampir rata-rata selalu lemah jika sudah dihadapkan dengan wanita yang sangat indah dipandang dengan penampilan rupawan paripurna seperti Nelly yang memang selalu memperhatikan dandanan dan selalu terlihat energik. Ditambah pendekatannya kepada Hariz berjalan begitu sempurna karena ditunjang oleh materi yang ia punya sehingga Hariz selalu merasa berhutang budi kepada Nelly yang sudah sangat banyak sekali membantunya ketika Hariz dalam keadaan terjepit dan memang membutuhkan bantuan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga kecilnya.


"Mas, nanti besok kalau Mbak Dhena mau pulang ke rumah. Mas bisa memakai mobilku saja biar gak harus bayar sewa mobil pihak rumah sakit," ujar Nelly menawarkan.


Hariz bergeming. Tidak mengiakan pun tidak menolaknya karena ia merasa dilema. Untuk membayar semua biaya yang harus dilunasi nanti sebelum bisa membawa Dhena pulang pun Hariz masih ketar-ketir khawatir tak mampu membayarnya.


Semua kegundahan hati Hariz seolah terjawab ketika Nelly merogoh tas brandednya yang dicangklong di bagian lengan atas lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat yang terlihat begitu tebal dan langsung disodorkan ke depan Hariz yang masih menatap nanar ke arah Nelly. Pandangan Hariz bergantian melirik ke arah amplop dan wajah wanita yang sedang mengulas senyum itu.

__ADS_1


"Ambil saja, Mas. Ini uang pribadiku sendiri, kok. Kamu gak usah khawatir," tutur Nelly ketika melihat sorot keraguan di mata Hariz saat dirinya akan menyerahkan benda berisi lembaran kertas yang memang sangat dibutuhkan oleh Hariz saat ini.


"Mas aku ini istrimu juga yang berhak bisa menolong suaminya di saat kamu sedang berada dalam keadaan seperti sekarang. Jadi, tolong jangan berpikiran jelek terhadapku."


"Walaupun mungkin setelah kamu mengetahui kejahatan mama, yang waktu itu pernah menyuruh orang untuk mengambil Fathan dari pelukan Dhena hingga kamu mendadak berubah sikap kepadaku. Tapi, satu yang harus kamu tahu, Mas. Dari dulu hingga sekarang ini dalam benakku tidak pernah muncul pikiran sepicik itu, Mas," sambung Nelly panjang lebar berharap laki-laki itu mampu menilai ketulusan yang sudah ia berikan selama ini.


"Ma'af dari dulu Mas selalu merepotkan dan menjadi beban dalam hidupmu," tutur Hariz sembari tangannya menerima amplop tebal itu dari tangan Nelly.


Nelly tersenyum manis menatap lekat mata Hariz, seraya berujar, "Gak usah merasa berhutang budi setiap menerima pemberian dariku, Mas, karena aku melakukan ini semua semata hanya ingin meringankan beban laki-laki yang selama ini hadir dalam hati dan pikiranku. Yaitu kamu." Nelly berusaha meyakinkan Hariz dengan apa yang selama ini ia rasa dan ia lakukan.


"Tante, kenapa Tante sangat baik sama aku dan sama Ayah juga?" Pertanyaan polos dari mulut mungil laki-laki berusia empat tahun itu mengejutkan Nelly dan Hariz yang masih saling bersitatap menyelami perasaan masing-masing.


Nelly kemudian memutar badan berbalik ke arah Fathan lalu berjongkok di hadapan anak laki-laki itu. Mensejajarkan badan agar bisa menatap bola mata beningnya yang terlihat menggemaskan.


"Tante berbuat baik sama Fathan, sama Ayah juga pada Mama Dhena itu karena Tante sangat sayang kalian semua." Nelly berusaha memberikan penjelasan kepada Fathan berharap anak kecil itu bisa memahami dan sedikit demi sedikit bisa menerima kehadirannya saat nanti Fathan sudah bisa mengerti dengan keadaan yang sebenarnya jika sang ayah memiliki dua keluarga kecil sekaligus.


Sedangkan Dhena di dalam ruangan masih bergelut dengan rasa perih di dadanya kala ia menyadari jika Nelly dan sang suami begitu terlihat dekat bahkan begitu intens hingga masuk ke ruangan tempat ia terbaring pun mereka datang bertiga dengan Fathan. Luka batin itu hanya bisa ia simpan di dalam relung hati yang entah hingga kapan bisa berakhir.

__ADS_1


__ADS_2