Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Menempati Rumah Baru 1


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Keluarga Al Ghazali mengurus kepindahan ke hunian baru, pembuatan tungku untuk pengukusan serta kelengkapan usaha udah dipersiapkan sejak dua minggu belakangan ini. Al tidak mau tergesa-gesa dalam persiapannya. Untuk mengurus kepindahan tidak melibatkan karyawan.


Karyawan dilibatkan ditempat untuk menata ruangan untuk kerja mereka. Yang ditugaskan untuk pindahan sudah pulang semua tinggal karyawan tetap berada dirumah.


"Mak Dang, pasti capek banget ya?" tanya Al.


"Mas mana ada kerja yang nggak capek, pasti cepak. Mungkin kalau nggak capek tenaga ya pikiran" ditambah tawa yang menggelegar khas Mak Dang.


"Tenang Mak, pulangnya nanti ada tambahan buat kita beli es kata pak Al tadi"


"Mbak Lastri tuh paling tahu kalau soal itu ya Mak" Izal berseloroh.


"Iya dong Zal, mbak itu realistis kerja kita kali ini butuh asupan lebih" ucap mbak Lastri.


"Mbak nggak kerasa tadi habis dapat asupan nasi padang, ckckck"


"Zal, kenapa sewot. Aku yang jadi bosnya saja santai"


"Pak Al, dibelain malah. Nasib...nasib...." pura-pura cemberut.


"Zal jangan ngobrol terus ini sudah dipacking, cepet berangkat" teriak Soleh


"Bang Soleh yang kuakui memang soleh, siap segera Izal meluncur kesitu" setengah teriak.


"Pak Al, ada tamu mau ketemu bapak" Mak Ipeh tergopoh-gopoh dari depan. Mak Ipeh orang yang dipercaya membersihkan rumah oleh Aini. Aini punya kriteria untuk karyawan yang masuk, jika perempuan syaratnya sudah menikah, penampilan sopan, masuk dengan jalur kenalan orang dekat supaya tahu jejak sebelumnya.


"Sudah dipersilahkan masuk Mak?" tanya Al. "Sudah pak, beliau menunggu diruang tamu," Al mengangguk. "Terimakasih Mak, Al segera kedepan," Al bergegas jalan menemui tamunya.

__ADS_1


"Oh MasyaAllah Pak Burhan, mohon maaf kelamaan menunggu,"


"Nggak apa Pak Al, baru saja sampai,"


"Apa kabarnya Pak Burhan?"


"Alhamdulillah baik Pak Al, sebagai tetangga saya ingin mengenal Pak Al, selama ini hanya mendengar dari Pak Agus kalau rumah ini mau disewakan, semoga kita bisa bertetangga dengan baik ya Pak Al"


"Mohon maaf pak Burhan, jadi merepotkan harusnya kami yang berkunjung ke rumah Pak Burhan malah ini kebalik. Rencana sore nanti sama istri dan anak mau kerumah Pak Burhan, Alhamdulillah bapak sudah kesini, terimakasih atas kedatanganya," ucap Al merasa tidak enak Pak Burhan adalah RT disini.


"Terimakasih Mak Ipeh," ucap Al ketika melihat Mak Ipeh meletakan minum dan cemilan dimeja.


"Nanti sore tetap kami tunggu Pak Al, saya tadi hanya mampir kelihatannya sudah rame, ternyata betul sudah mulai ditempati"


"Betul Pak, baru mulai hari ini kita menempati. Persiapan sudah sejak kemarin-kemarin, tapi karena anak-anak belum pada disini jadi tidak seheboh sekarang," seloroh Al sambil tertawa. Mengingat kekonyolan karyawannya yang nggak bisa diam, tangan kerja mulutnya nggak mau kalah saling bersahutan.


"Justru jadi rame Pak Al, semoga bisnis Pak Al semakin berkembang. Jika nanti butuh tenaga tambahan kami siap sampaikan sama warga,"


"Saat ini berapa orang yang bekerja dibelakang Pak"


"Alhamdulillah saat ini 25 orang pak, namun ada yang stay dirumah untuk membuat sebagian lagi bagian marketing jadi yang dibelakang sekarang hanya 15 orang"


Obrolan berlanjut hingga menjelang asar, ramah tamah dengan warga menjadi suatu keharusan mengingat kita adalah makhluk sosial. Pak RT pamitan tepat adzan asar. Seperti biasa semua karyawan pas waktu sholat berhenti aktivitas untuk menjalankan sholat tepat waktu, bukan hanya tepat tapi awal waktu.


Aini dari pagi masih sibuk berbenah menata baju dikamar, Mak Ipeh membantu membereskan rumah, Alia masih sibuk dengan mainannya tak jarang ikut nimbrung karyawan ayahnya dibelakang. Sesuai janjinya Al memberikan uang jajan pada karyawannya sebagai bentuk terimakasih sudah bekerja ekstra hari ini. Kebiasaan Al seperti itu membuat semua karyawan semakin royal dengan tanggungjawab.


"Sayang, nanti kita kerumah Pak RT ya, mau jam berapa?"


"Jam 4 gimana? jadi disana maksimal jam 5, jika malam nggak enak, lagian kalau malam besoknya kita sekolah"

__ADS_1


"Baiklah, siap-siap gih biar mas pamit sama anak-anak dulu. Alia diajak atau bagaimana?"


"Diajak saja mas, kalau sama anak kecil kita pamit cepat lebih enak"


Mereka kerumah Pak RT dengan jalan kaki, jarak rumah hanya dibatasi oleh masjid jadi sangat dekat. Alia tadi sudah membuat kue bolu panggang sebagai buah tangan untuk Bu RT.


Bu RT menyambut Aini dengan ramah, sambil menjelaskan jika butuh sayur mesti beli dimana, jika mau berobat kemana, banyak hal yang disampaikan oleh Bu RT. Aini juga diajak untuk mengikuti kegiatan ibu-ibu PKK RT berupa arisan bergilir. Begitu juga dengan Pak Burhan menjelaskan kepada Al kewajibannya selama menjadi warga binaannya seperti kegiatan ronda malam dll. Karena dirumah Bu RT tidak ada anak kecil Alia merasa jenuh terus merengek minta pulang, saat itulah kesempatan bagi mereka untuk berpamitan. Aini sudah bertukar no wa untuk dimasukan grup kegiatan ibu-ibu PKK RT.


"Alhamdulillah lapor RT sudah, ada lagi nggak mas yang mesti kita datangi?"


"Kewajiban kita hanya ke RT, tapi kalau kamu mau bisa tuh beli sayur didepan jadi nanti bisa sekalian kenalan sama ibu-ibu lain"


"Sebenarnya Ai kurang suka kalau ngumpul gitu,"


"Hanya kenalan Ai, mas rasa nggak apa"


"Iya mas, besok pagi tak kesana InsyaAllah. Dek siap-siap ke masjid sama Ayah, jadi kan ikut ayah" ucap Aini setengah berteriak.


"Bun, adek disini nggak usah teriak," Alia posisi persis dibelakang bundanya.


"Ambillah mukena dek, ayah tunggu disini ya" ucap Al lembut.


Hari pertama Alia berkumpul dengan teman-teman ngaji yang baru. Beruntung disana ada Bu RT yang sudah kenal Alia tadi siang, jadi Alia diajak ngobrol sama Bu RT baru setelah itu anak-anak mengerubungi Alia untuk berkenalan. Aini sendiri memang jarang sholat dimasjid sejak dulu, dia lebih sering sholat dirumah mengingat wanita keutamaannya sholat dirumah, meskipun tidak ada larangan sholat di masjid. Alia berceloteh banyak hal sepulang dari masjid, hari pertama sudah hampir kenal semua. Iya Alia anak yang berusia belum genap 6 tahun ini menjadi pusat perhatian di masjid.


"Ai, tadi Alia jadi pusat perhatian. Semua temannya mengerubungi dia. Dari yang kecil sampai yang besar. MasyaAllah disini masjidnya lebih rame"


"Alhamdulillah, jika Adek tidak malu-malu, tapi namanya siapa aja dek?"


"Ada mba Yumna, Mba Syifa, Andini, Kila banyak banget Nda, tadi ada yang melotot ke adek Nda,"

__ADS_1


"Berteman ya gitu dek, tapi lebih banyak yang baik kan? besok ikut bunda beli sayur pagi-pagi ya, temenin bunda kenalan sama teman baru bunda"


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2