
Usai memeriksakan kehamilannya Dhena kembali pulang ke rumahnya. Beruntung masih ada angkot yang beroperasi hingga ia tidak kemalaman.
Dhena baru saja menjejakkan kaki di teras depan. Ketika samar indera pendengarannya menangkap suara seseorang yang sedang membicarakan tentang dirinya.
"Eh, Bu Aida, menantumu itu kerjaannya apa, tho?" tanya seorang ibu berkacamata yang ternyata temannya Bu Aida yang sedang berkunjung ke rumah.
"Iya, menantu Bu Aida, istrinya Hariz kerja di mana? Kalau menantu perempuanku ada yang jadi dokter kerjanya di rumah sakit, ada juga yang jadi dosen," sahut salah satu seorang ibu berkerudung cokelat menimpali sambil memberitahukan profesi menantunya dengan sangat bangga.
"Bu Susi dan Bu Sinta sih, enak rezekinya mujur. Punya menantu wanita karir semua. Lah, saya punya menantu gak ada bagus-bagusnya. Sudah pengangguran, gak bisa urus rumah, lelet lagi," keluh Bu Aida kepada dua rekan gosipnya yang masih anteng duduk di ruang tamu. Mereka tak menyadari jika kini Dhena sedang berdiri di balik pintu yang sedang terbuka separuh.
"Istri si Hariz itu kerjaannya di dalam kamar terus sambil mainan hape dan laptop entah apa yang sedang dilakukannya dengan laptop itu," sambung Bu Aida kemudian.
"Waah, kalau saya memiliki menantu seperti itu, udah saya langsung pecat aja Bu Aida, suruh anak laki-laki kita nikah lagi aja dengan perempuan yang sudah kelihatan tajir, ya, gak Bu Sinta?" sahut Bu Susi sambil mengerling ke arah Bu Sinta seakan memanas-manasi Bu Aida.
Dari arah pintu Dhena mengucap salam. Seolah tidak menguping dengan semua obrolan ibu-ibu setangah baya yang berjumlah tiga orang itu. Bu Aida dan kedua temannya seketika membisu. Seperti maling tertangkap basah. Muka mereka memerah menahan malu khawatir Dhena mendengar dengan semua yang dibicarakan barusan.
Setelah menyalami kedua teman ibu mertuanya itu Dhena bergegas menuju kamarnya. Dilihatnya Fathan sudah tertidur pulas di tempat tidur. Dipandanginya wajah polos menggemaskan itu dengan linangan air mata yang mulai mengembun di kelopak mata Dhena. Hatinya terenyuh mengingat kini Fathan harus merelakan ayahnya untuk bisa berbagi waktu dengan wanita lain lagi.
Seandainya keadaan Dhena saat ini belum memiliki buah hati dari hasil pernikahannya dengan Hariz. Mungkin dari dulu ia telah pergi dari kehidupan suaminya itu. Memilih menjauh untuk mencari kehidupan dan kebahagiaannya sendiri. Apalagi usianya yang bisa dikatakan masih muda. Masih di bawah tiga puluh tahun.
Namun, nyatanya Dhena harus lebih banyak bersabar dan menguatkan hati untuk terus bertahan dalam terpaan gelombang badai yang sedang menimpa rumah tangganya karena hadirnya pihak ketiga di dalam keluarga kecil mereka. Dhena trauma jika buah hatinya harus menjadi korban perceraian dan menjadi korban broken home bila ia harus pergi meninggalkan Hariz.
"Tuh, lihat saja. Kerjaannya sehari-hari ngerem terus di dalam kamar," ujar Bu Aida sambil menunjuk dengan dagunya ke arah pintu kamar yang tadi dimasuki Dhena.
Bu Susi dan Bu Sinta saling berpandangan. Tak lama kedua tamunya Bu Aida berpamitan karena hari sudah semakin sore dan hampir memasuki waktu Maghrib.
__ADS_1
***
Hariz kembali memasuki rumah yang berukuran luas dan mewah itu setelah beberapa waktu terakhir ia sudah tak pernah menginjakkan kakinya lagi di sana.
"Kamu mau mandi apa istirahat dulu, Mas?" tanya Nelly menawarkan.
"Vito kemana?" tanya Hariz bartanya balik.
"Vito lagi ikut budenya, Mas. Kebetulan di tempat budenya banyak anak yang sepantaran dengannya. Jadi, ia lebih betah di sana sekarang," jelas Nelly.
"Yaudah, kamu duduk nonton televisi dulu sambil istirahat, ya, Mas. Aku mau mandi dulu," pamit Nelly kemudian sambil berlalu meninggalkan Hariz.
Baru sekitar sepuluh menit Hariz meluruskan kakinya ia dikejutkan dengan suara jeritan seseorang dari arah kamar. Hariz terperanjat lalu langkah kakinya bergegas memburu suara yang tadi meminta tolong.
Hariz memasuki kamar utama yang di dalamnya terdapat kamar mandi.
"Tolong aku, Mas, aku di sini," jawab Dhena dari arah kamar mandi.
Dengan ragu Hariz melangkahkan kaki panjangnya ke arah kamar mandi dan mendorong perlahan pintu yang sedikit terbuka.
Kedua bola netra Hariz melebar ketika dilihatnya Nelly sudah terkapar di lantai. Darah segar menjalar ke bagian kakinya yang masih berpakaian lengkap.
"Nelly, kamu gak kenapa-kenapa, kan?" Reflek Hariz mengangkat tubuh istri keduanya itu keluar kamar mandi dan merebahkannya di tempat tidur dengan pakaian yang sedikit basah bercampur darah segar yang masih terus keluar.
Hati Nelly bahagia bercampur haru melihat sorot mata sang suami begitu memancarkan rasa kekhawatiran kepadanya.
__ADS_1
"Mas, perut aku sakit sekali, Mas."
Karena panik dan tak bisa memberikan pertolongan Hariz pun mengajak Nelly untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Kamu yang sabar, ya, kita sekarang ke rumah sakit," tutur Hariz gugup.
Walaupun hati kecilnya Hariz merasa kesal dan menolak dengan keadaan ia yang dipaksa untuk kembali ke rumah Nelly oleh ibunya, tapi ia merasa tak tega ketika di hadapannya ada seorang wanita yang terkapar lemah tak berdaya. Jiwa kemanusiaannya terpanggil untuk segera memberikan pertolongan. Siapa pun orangnya bukan hanya Nelly. Walaupun kebetulan yang sedang memerlukan pertolongannya itu saat ini Nelly, sebagai istri keduanya.
Pegawai rumah sakit langsung membawa Nelly ke ruang UGD. Hariz membuntuti Nelly yang terbaring pucat dan lemah di tempat tidur yang didorong oleh beberapa suster. Nelly masih terus memegangi bagian bawah perutnya dengan sesekali diselingi rintihan seperti sedang menahan sakit yang amat sangat menyiksanya.
"Bapak suaminya? Tunggu di luar, Pa!" tanya salah satu orang yang berpakaian serba putih kepada Hariz.
Setelah ditangani oleh dokter dan beberapa asistennya kemudian Nelly dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Kemungkinan beberapa hari ke depan istri Bapak, harus melakukan tindakkan kuret. Karena terjadi pendarahan yang hebat dengan kandungannya," papar dokter menjelaskan.
Hariz menganggukkan kepala. Mengiakan perkataan dokter tadi. Padahal hati kecilnya tertuju kepada Dhena yang sedang ada di rumah pasti sudah menunggunya.
'Maafin, Mas, Dhena. Karena tak bisa pulang dulu ke rumah untuk sementara waktu,' gumamnya lirih.
Hariz merasa tak nyaman dan tidak enak hati ketika harus berjauhan dengan Dhena, karena ia tahu betul istrinya itu selalu membutuhkan kehadirannya. Apalagi kini Dhena sedang menjalani masa ngidamnya yang tak kunjung mereda walaupun sudah hampir memasuki trimester kedua kehamilan.
Namun, Hariz pun tak mungkin meninggalkan Nelly seorang diri di rumah sakit dalam keadaan terbaring lemah. Karena kini hanya Harizlah orang terdekat yang dimiliki oleh Nelly. Setelah mama kandungnya harus mendekam di balik jeruji besi.
Hariz merogoh saku celananya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi sang ibu memberitahukan keadaan Nelly saat ini.
__ADS_1
"Nelly kenapa Hariz? Kenapa bisa ada di rumah sakit?" Suara Bu Aida terdengar panik dari sambungan telepon milik Hariz.