Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Ada Yang mengikutiku


__ADS_3

"Iya masih mengikuti, Lin. Di perempatan depan kita belok kiri, nanti kita bisa masuk lagi ke jalan ini. Coba apakah tetap mengikuti kita apa tidak?"


"Baik, Mba. Apa mba Aini paham itu mobil siapa?"


"Nggak tau sama sekali, Lin. Sini Hpmu, aku tlp Izal,"


"Nggak perlu, Mba. Jika mencurigakan nanti kita bisa berhenti di polres,"


"Aku belok kiri ya?" Aini mengangguk. Lina mengamati dari spion.


"Astaghfirullah, Lin. Masih mengikuti, nanti di depan ada pertigaan ambil kanan Lin, setelah itu ada perempatan ambil kanan lagi. Terus kita masuk ke Polsek ya,"


"Baik, Mba. Aku jadi gemetar, ya Allah lindungilah aku. Masa depanku masih panjang, baru saja menikah belum punya anak ya Allah,"


"Doanya yang khusyuk jangan sambil senyum, ngomongin anak langsung senyum. Lagi membayangkan prosesnya ya?"


"Mba, malu sama penampilan yang di bicarakan mesyum,"


"Siapa bilang mesyum, Lin. Itu bumbu dalam rumah tangga loh. Laki-laki dewasa butuh seperti itu, jadi penting di dipikirkan,"


"Mba kita ambil kanan ya, tapi ngomong-ngomong hanya mengikuti tak seperti di film-film yang mepet-mepet gitu ya, Mba?"


"Hei ... memangnya kamu mau yang seperti di film-film? Begini saja sudah gemetar," ucap Aini sewot.


"Kita masuk polres ya, coba ikutan masuk apa nggak?"


"Baiklah, cari aman saja. Kamu memang punya musuh, Lin?"


"Aku nggak merasa punya musuh, disini pendatang baru. Mungkin Mba Aini yang punya musuh? Terus kita disini mau sampai kapan?"


"Lihat, mobil itu sudah nggak ada. Lanjut ke salon saja,"


"Kalau ternyata mobil itu masih mengikuti gimana dong?"


"Kamu lupa dengan kemampuan bela dirimu, hadapi lah!"


"Siap, Mba Aini bantuin kan?"


"Siap, Lin. Mba pasti bantu, minimal bantu doa. Yuk panas disini kita jalan," mobil keluar dari Polres dan menuju salon yang jarak hanya 5 menit dari Polres.

__ADS_1


Mobil memasuki salon langganan Aini. Lebih dari satu jam mereka melakukan perawatan membuat tubuh kembali bugar, setelah perjalanan ke kampung halaman dengan aktivitas yang begitu padat, berkunjung ke sanak famili.


Aini dan Lina hendak keluar dari salon melihat mobil yang tadi menunggu di depan gerbang salon.


"Lin, bagaimana ini? Kita pulang apa minta jemput Mas Al?


"Kita tunggu disini, minta jemput Mas Al saja. Aku takut," Aini menghubungi suaminya meminta di jemput. Tak butuh waktu lama mobil Izal memasuki kawasan salon.


"Ayo, itu mereka. Sabuk hitam hanya untuk hiasan. Nggak mau dipakai, untuk apa capek-capek latihan," cerocos Aini sambil menggandeng tangan sang adik.


"Mba, kalau kita terlalu mandiri apa fungsinya kedua pria itu. Bukankah mereka punya naluri melindungi wanita yang mereka cintai. Jangan banyak bicara kelamaan kita,"


"Kalian kenapa jadi manja begini, tadi penginnya me time sekarang minta di jemput," Al mendekat ke Istrinya.


"Nanti kita ceritakan dirumah, Zal kita pulangnya terpencar coba," Izal paham kode yang di berikan Aini dengan mobil hitam yang terperkir di depan gerbang di bahu jalan. Sejak tadi belum beranjak.


"Baiklah, Mas. Hati-hati, hubungin kami nanti jangan bekerja sendirian,"


"Ini kuncinya, Mas. Tapi sebelum pulang kita makan dulu yuk disitu saja nggak usah jauh-jauh," Lina menunjuk kafe samping salon,"


"Kalian kenapa cepat banget lapar, nggak bisa ditahan sampai rumah apa?" ucap Al kesal.


"Nggak, bisa!" ucap Aini dan Lina kompak.


"Ayo, aku lapar banget," Lina sudah menggandeng suaminya menuju mobil, hanya untuk pindah parkir tak enak parkir disini sementara makan disebelah.


Al membukakan pintu untuk istrinya kemudian berputar untuk masuk ke kursi kemudi.


"Mas, lihat mobil yang itu kan? Mengikuti kami sejak keluar dari rumah. Aku hanya mau memastikan saja, kalau kita berhenti makan apakah nanti akan terus mengikuti lagi?"


"Rasanya kita nggak punya musuh kan, Yang?"


"Siapa tau mau ngasih kejutan bahagia bisa saja kan? hanya saja kita perlu waspada, kita wanita. Jadi cari amannya minta jemput, biar lebih merasa aman,"


"Ayo, turun. Lihat adik kita, sudah duduk itu, tunggu biar mas yang bukakan pintunya," ucap Al.


"Biar aku buka sendiri, ribet amat si,"


"Biar romantis kaya orang-orang, Ai. Memang kamu nggak mau?"

__ADS_1


"Mas, aku sudah lapar mending turun bareng kan enak. Nggak perlu nunggu," ucap Aini sambil terkekeh dan membuka pintu sendiri. Diikuti oleh Al yang menyusul turun.


Mereka berjalan beriringan menuju kafe, disana sudah menunggu Izal dan Lina yang siap dengan buku menunya.


"Pesan apa, Mba?"


"Samakan saja dengan kalian. Aku mau ke toilet dulu,"


"Mas, temenin Mba Aini," ucap Izal. Dia nggak mau kecolongan dengan adanya kejadian yang tidak diinginkan. Tentang mobil yang mengikuti istrinya ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama orang suruhan Virna, kemungkinan lain orang suruhan Zaki. Untuk motifnya sendiri Izal nggak bisa menebak.


Dia nggak berlebihan namun mengingat hasil sadapan Izal kemarin membuat mereka harus waspada dengan berbagai kemungkinan. Dirumah tadi juga sudah berpesan kepada Pak Arif untuk tidak gegabah dalam menerima tamu.


Al mengawasi istrinya sesuai pesan Izal. Melihat istrinya keluar dari toilet Al menggandeng tangannya jangan sampai lepas dengan istrinya.


"Makannya pelan-pelan saja, Sayang,"


"Bang, aku lapar banget. Saking gemetarnya tadi pas bawa mobil menguras energi ku," ucap Lina semangat.


Aini terkekeh mendengar ucapan Lina, "Doyan kali kamu, Lin," Aini duduk disamping Lina. Sementara Al duduk di samping Izal.


"Ketergesa-gesaan datangnya dari syaiton kata ibu, Lin,"


"Bang, cara makan cepat bukan tergesa-gesa. Latihan saat punya anak kecil nanti," blush muka Izal memerah.


"Haha ... ucapanmu bikin Izal mau, Lin. Lihatlah mukanya merah padam kaya tomat,"


"Sayang, jangan ngomongin calon anak sekarang. Bikin saja kita masih latihan kan?" ucap Izal.


"Parah beneran kalian, sudah jangan diteruskan!" sergah Al. Takutnya banyak yang mendengar obrolan mereka yang merasa risih dengan tema mengarah hal seperti itu.


"Mas, aku mau kemanginya," ucap Aini.


"Ini, Sayang. Sambal kurang nggak, kalau kurang punya Mas saja. Mas Perutnya lagi nggak bisa makan cabe banyak,"


"Mau pakai banget," ucap Aini semangat.


"Kalian pulang sore saja ya, di rumahku dulu. Aku mau memastikan sesuatu,"


"Iya, Mas. Tadi aku sudah ngabari ke Bapak untuk menghandle pekerjaanku,"

__ADS_1


Drrtttttt ... drrtttttt


Al merogoh kantongnya dan memencet tanpa melihat nama penelpon. Tubuhnya menegang, tersirat kemarahan diwajahnya. "Ya, baik. Saya akan segera kesana! Terimakasih informasinya, jangan lakukan apapun sebelum aku sampai kesitu,"


__ADS_2