Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Selalu Salah


__ADS_3

"Tambah stress saya tinggal di sini. Kalau setiap hari menyaksikan pemandangan seperti ini terus," gumam Bu Aida sambil berlalu menuju tempat kamarnya sendiri.


Reza yang baru berusia sebelas bulan menangis histeris ketakutan ketika mendengar teriakan dari neneknya yang baru datang itu. Sedangkan Fathan memilih anteng sendiri mewarnai gambar tak mempedulikan kedatangan Bu Aida.


Sebelum melangkah ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya. Dhena terlebih dulu mengecek ponselnya yang sedari tadi berdering tanpa jeda.


Bola matanya melebar ketika di layar benda pipih itu terlihat foto Hariz, sang suami berduaan dengan wanita asing dengan pakaian dan rambut yang berantakan di dalam mobil.


'Mas Hariz? Permainan macam apa lagi ini?' gumam Dhena dengan hati dan perasaaan luluh lantak.


Dhena berusaha menghalau kerisauan hatinya ia pun melanjutkan pekerjaannya di dapur hingga selesai. Ia mulai menata semua masakannya di meja makan. Kemudian ia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu untuk melaksanakan salat Zuhur.


"Mama, aku mau makan," pinta anak sulungnya setelah Dhena usai melaksanakan kewajiban salat lima waktunya. Wanita beranak dua itu pun kemudian menyuapi dua anaknya sambil menemaninya menonton televisi film kartun Upin Ipin acara favorit kedua putranya itu.


Dhena mulai mengemasi semua mainan yang tadi diberantakain oleh Fathan dan Reza. Setelah kedua bocah laki-lakinya itu tertidur di kamar mereka. Dhena mulai menyapu dan mengepel semua ruangan karena terasa lengket bekas remahan nasi tadi bekas kedua anaknya makan siang.


Karena merasa capek dan penat yang luar biasa di bagian telapak kakinya semenjak dari pagi tadi belum sempat beristirahat, Dhena pun menyusul kedua putranya menuju kamar dan berencana akan tidur siang.


Bu Aida keluar kamar dan membuat minuman untuknya sendiri di dapur sambil mengomel sendiri dengan suara keras.


"Duh, Hariz ... Hariz, mimipi apa kamu ini bisa nikah sama wanita seng koyok ngono. Cantik juga enggak, kaya enggak, gak bisa ngapa-ngapain lagi. Bisanya ngerem terus di kamar siang-siang seperti ini. Bukannya cari aktivitas lain. Ini anak tidur malah ikut tidur juga."


Usai mengomel yang ditujukkan kepada Dhena Bu Aida pun pergi ke luar rumah pergi menggunakan ojek online entah kemana.

__ADS_1


Dhena yang baru saja hendak terlelap, terjaga kembali karena suara sang ibu mertua begitu keras hingga terdengar jelas ke dalam kamarnya.


Dhena hanya mengelus dadanya. Bu Aida seakan tak pernah menghargai dengan apa yang sudah dilakukan oleh dirinya. Padahal, ia sudah sebisa mungkin mengerjakan pekerjaan rumah yang ia mampu.


Namun, ternyata di mata Bu Aida semua itu tak dianggapnya. Dhena masih terus menjadi sosok menantu yang tak berguna dalam penilaian ibunya Hariz.


***


Di kantor polisi Hariz berusaha menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Laki-laki itu pun bersikeras menjelaskan jika dirinya hanya korban jebakkan dari wanita tadi yang Hariz sendiri pun belum tahu apa motif dibalik semua yang menimpa padanya.


Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan tidak ditemukan ada tanda-tanda Hariz menyentuh wanita tadi. Hariz pun dibebaskan begitu saja. Ia pun berterima kasih karena sudah diselamatkan dari jerat fitnah yang dilakukan oleh perempuan yang tak dikenalnya itu.


Hariz kembali ke rumah dengan muka penuh lebam kebiruan dan terlihat sangat letih karena efek amukkan massa ditambah hampir setengah hari ia berada di kantor polisi.


Hariz menganggukkan kepalanya seraya mengiakan. Yang membuat Dhena terhenyak dan tidak menyangka.


Sebelum istrinya berpersangka buruk dan menduga-duga sendiri Hariz pun berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya hingga ia pun terbebas dari hukuman dari pihak kepolisian setelah semua bukti dan data tidak merujuk kepadanya.


"Syukur Alhamdulilah, Mas kalau memang itu hanya jebakkan dan kamu tidak melakukan hal sebejat itu. Tapi, atas dasar apa wanita itu menjebakmu dan mengirimkan fotonya kepadaku?" gumam Dhena lirih seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.


Suami istri itu belum menyadari jika di balik semua itu merupakan permainan Nelly yang sudah sengaja menyuruh orang untuk membuat fitnah kepada Hariz berharap rumah tangganya hancur berantakan dan bercerai berai. Tapi, ternyata Hariz masih terselamatkan walaupun sebagian muka dan badannya terdapat lebam berwarna biru akibat amukan warga yang tak terkendali karena termakan hasutan wanita suruhan Nelly.


Dhena segera menyiapkan air hangat untuk Hariz membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi Hariz merebahkan badannya yang terasa remuk semua di tempat tidur yang berada di ruang tengah. Kemudian sang istri membawa air es dan kain washlap untuk mengompres luka lebam di bagian pelipis suaminya.

__ADS_1


"Tadi ada Ibu datang, Mas. Tapi tadi beliau ke luar rumah lagi entah pergi kemana."


Dhena memberitahukan kehadiran Bu Aida di rumah mereka kepada Hariz.


"Pergi kemana lagi, Ibu?" tanya Hariz.


"Aku kurang tahu, Mas. Tadi Ibu gak sempat bilang hendak pergi ke mana," jawab Dhena.


"Tadi juga Ibu sempat ngomel-ngomel waktu pertama kali datang karena melihat rumah yang berantakan dan anak-anak bermain sendiri. Aku sendiri tadi sedang memasak di dapur." Dhena mulai mencurahkan isi hatinya.


"Kamu yang sabar aja ya, kalau sedang ada Ibu di sini. Nanti coba aku bicara sama Ibu secara baik-baik biar bisa bersikap lebih baik kepada kamu," tutur Hariz mencoba menenangkan hati sang istri.


"Gak usah, lah, Mas. Aku khawatir nanti malah bisa menambah runyam suasana.," cegah Dhena ragu.


Dhena khawatir jika Bu Aida malah salah paham dan berpikiran buruk kepadanya. Selama ini ia berusaha menjaga sikap dan ucapan pun selalu salah dan salah terus di mata ibu mertuanya itu apalagi harus mancing-mancing yang membuat ibu suaminya itu semakin berang.


"Ayah kenapa? Sakit ya, Yah?" tanya si sulung saat keluar kamar dan melihat ayahnya sedang terbaring dengan kain kompres yang masih melekat di bagian dahinya yang benjol.


"Ayah gak sakit, kok. Yu, Fathan mandi dulu bareng Mama, nanti gantian Dede Reza lagi yang mandi," ajak Dhena ketika melihat anak sulungnya sudah terbangun dari tidurnya.


"Ayah tadi ada Nenek datang, tapi, kok malah marahin Mama. Kan, kafihan Mama aku kalau diomelin sama Nenek seperti tadi." Tanpa diminta dan tanpa ada yang nyuruh Fathan menyampaikan apa yang dilihat dan didengarnya tadi kepada sang ayah. Ketika ibunya dicaci maki oleh neneknya sendiri.


"Sekarang aku gak suka sama Nenek. Nenek galak suka ngomelin Mama," sambung Fathan setengah berteriak.

__ADS_1


"Siapa yang ngajarin kamu ngomong seperti itu? Pasti Mamamu yang tak tahu diri itu, ya?" Suara seseorang dari ambang pintu mengejutkan semua yang berada di dalam rumah.


__ADS_2