Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kenalan dengan Teman Baru


__ADS_3

Paginya suasana sangat berbeda dengan dikampung halaman, disini paginya rame orang sudah berlalu lalang ada yang pergi sayur ke warung depan komplek, ada juga pedagang keliling yang menjajakan kudapan buat teman ngopi atau ngeteh, ada beberapa juga yang sudah bersiap untuk ke kantor. Masjid juga lebih penuh dengan jama'ah karena memang komplek padat penduduk. Aini dan Al mengajak Alia jalan-jalan komplek untuk menyesuaikan diri dengan warga setempat. Jalan kaki sembari mencari buat sarapan, disini terkenal dengan lontong sayurnya, Aini belum pernah merasakan kuliner satu ini. Ternyata didepan komplek sangat ramai dengan penjual menu sarapan, ada lontong sayur, ada juga nasi rames, ada bubur ayam. Tujuan mereka ke kedai lontong sayur.


"Kak mau berapa bungkus? nampaknya warga baru ya kak, baru pernah lihat,"


"2 bungkus saja Bu, iya Bu. Salam kenal kami baru datang kemari dari Pulau J. Saya Aini, ini suami Al Ghazali biasa dipanggil Al,"


"MasyaAllah saya juga asli pulau J kak, tapi saya lahir disini orang tua sudah menetap disini jadilah saya tidak tau kampung halaman orang tua," sambil tertawa lepas.


"Kalau ibu, dengan ibu siapa maaf," panggil ibu karena memang dilihat dari postur tubuhnya seusia dengan mama Ai. Dan Aini dipanggil kak itu sebagai bentuk penghormatan kepada saudara perempuan, kalau di Pulau J menyebutkannya adalah mbak, sedangkan disini mayoritas kalau untuk perempuan panggilnya kak, untuk laki-laki panggilan bang.


"Eh iya maaf kak lupa menyebut nama, maklum sudah berumur ... hehe. Orang sering memanggilku emak Ijah. Si si adek namanya siapa?"


"Namanya Alia, Mak," setelah tadi mengenalkan diri kalau orang-orang memanggilnya Mak Ijah maka Aini langsung menyesuaikan kebiasaan orang disitu.


"Ini kak, jadi 30ribu,"


"Terimakasih, Mak," mengeluarkan uang pas dalam bentuk Rp 10.000; sebanyak 3 lembar.


"Sama-sama, Kak. Semoga suka dengan makanan yang emak buat,"


"InsyaAllah suka. Kami permisi dulu Mak Ijah, mari


..."


Alia memperhatikan cara berbicara bundanya terhadap orang asing tersebut.


"Nda, olangnya baik ya,"

__ADS_1


"Orangnya, coba, Dek. Orrrrang," menekan huruf R


"Orrrrang nya, bisa!"


"Nah itu bisa anak ayah, MasyaAllah pinternya. Terus berusaha ya ... semangat anak ayah," sambil mengangkat kepalan tangan 💪 sebagai bentuk penyemangat untuk anaknya.


"Sayang itu didepan ada anak kecil seusia Alia, yuk kita kesana," ajakan Aini dengan semangat kepada Al dan anaknya.


"Ayo, Nda. Adek mau kenalan. Kaya Bunda tadi sama penjual lontong sayurrrrr,"


"MasyaAllah anak bunda, semangat sekali belajarnya,"


"Assalamualaikum," ada 2 anak yang sedang bermain merekapun menjawab "Wa'alaikumussallam"


"Teman-teman kenalan yuk, namaku Alia," sambil berjabat tangan.


"Namaku Fira,"


"Aku rrrumahnya yang warna ungu itu. Kapan-kapan main ya ke rrrumahku," menunjuk ke arah rumah barunya.


"Siap ... kita kapan-kapan main ke rumahmu,"


"Alia pulang dulu ya, Assalamualaikum," Al dan Aini hanya memperhatikan anaknya yang berinteraksi dengan teman-teman barunya.


"Nda, kita pulang ke rrrrrumah," sebenarnya Ai dan Al ingin sekali tertawa mendengar ucapan anaknya menyebutkan huruf R. Tapi ditahan agar tawanya tidak keluar, bisa-bisa nanti akan menimbulkan rasa kurang percaya diri pada anaknya.


"Ayok, Sayang," Al menggandeng anaknya berjalan dibelakang Aini. Suasana pagi ini cukup bagi mereka untuk memberi kesan cukup nyaman pada diri mereka masing-masing. Menyapa terlebih dahulu pada orang-orang yang dilewatin itu salah satu bentuk ramah tamah dari keluarga Al. Hunian barunya merupakan pemilik salah satu donatur terbesar di yayasan tempat Aini bekerja, sudah terbiasa disekolah tersebut untuk guru baru mendapat fasilitas rumah, setelah lama biasanya guru-guru tersebut mampu membeli rumah sendiri. Jadi tidak ada timbul perasaan iri bagi guru lainya.

__ADS_1


Aini menuju dapur untuk mengambil piring buat wadah lontong sayur yang dibeli barusan. Sementara Al dan Alia mencuci tangan dan kakinya sebelum mereka makan. Mereka berada di ruang keluarga yang menyatu dengan dapur duduk dengan beralaskan tikar.


"Mas, enak ... rasanya mirip sayur yang dikasih santan. Tapi beda ... sama kok beda eh gimana ya ngomongnya"


"Haha ... lihat bunda yah, kaya orrrrang lagi bingung,"


'Iya Ai, mas sudah pernah beberapa kali makan lontong, tapi kali ini jauh lebih enak, gimana dek kamu suka?"


"Suka ... suka ... suka," menirukan gaya si kembar dengan rambut botaknya yang pernah Alia tonton dirumah Kakungnya. Dirumah Al dan Aini tidak menyediakan televisi, sebagai gantinya Alia bisa nonton Vidio edukatif yg ditonton di laptopnya. Lagi-lagi mungkin orang akan menganggap kolot tapi pemikiran Al dan Aini ada alasan mendasar yang membuat mereka tidak menyediakan televisi dirumahnya. Siang sekitar jam 9 motor diantar oleh ekspedisi, langsung Al pakai untuk keliling untuk mengetahui letak dimana pasar, dimana dia bisa membeli bahan baku untuk usaha yang baru mau dirintis, Ai dan Alia terus nempel. Anak dan istrinya belum mau ditinggal, alasannya mereka ingin ikut jalan-jalan. Jarak menuju pasar induk dikota itu 30 menit, menuju mall jauh lebih dekat, naik motor hanya butuh waktu 10 menit untuk menuju mall. Mereka juga melihat ada taman kota, tapi belum berhenti baru mengamati letak-letaknya dan tidak lupa tujuan awal yaitu melihat sekeliling dimana saja lokasi penjual sayur yang nantinya akan Al titipi. Bener kata mama disini tidak dijumpai tempe yang dibungkus daun, jadi dipikiran Al ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama karena orang disini tidak mengenal tempe yang dibungkus daun, atau kemungkinan kedua penjualnya belum ada yang menyediakan. Al mengamati penjual gorengan tidak ada satupun yang menjual tempe mendoan. Iya lah, beda tempat beda cara. Tapi Al yakin diantara penduduk sini sebagian tau tentang mendoan, dan kangen dengan masakan yang satu itu. Dan kalaupun orang belum mengenal nantinya Al bisa mengenalkan kepada mereka. Otak Al sudah tersusun rencana, awal-awal dari bagian produksi sampai marketing masih dipegang sendiri, setelah nanti ada perkembangan akan mengajak orang untuk membantu. Nantinya akan memanage usahanya dengan baik dan akan melibatkan banyak orang, cita-citanya dari dulu yaitu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ada kepuasan tersendiri ketika mampu meringankan orang lain mendapat suatu pekerjaan.


"Mas, kita mampir solat di masjid Agung itu ya" sambil menunjuk depan karena melihat tulisan masjid Agung.


"Iya, Ai. Sambil istirahat juga. Ai sementara belum masak dulu nggak apa ya ... makan beli yang sudah matang. Siangnya kita makan diluar,"


"Baik, Mas," dengan wajah riang menjawab suaminya.


"Anak kita bobo, Ai?" motor masih melaju menuju parkiran masjid Agung yang terlihat sangat megah. Masjid dengan ciri khas bangunan Melayu begitu menyejukkan mata.


"Mas, kita gantian saja sholatnya, Ai jagain Alia dulu. Mas sholat jama'ah bareng imam. Ai takut meninggalkan anak sendirian. Meski dimasjid tapi Ai juga perlu mengantisipasi. Mengingat Alia baru disini, jelas ketika bangun kita nggak ada akan bingung,"


"Iya, istriku tersayang,"


"Apa, Mas? Tersayang? Memangnya istri mas ada berapa?"


"Hem ... ngaco lagi kamu Ai. Udah ah mas mau wudhu dulu," meninggalkan Aini sendirian. Buru-buru Aini menyusul suaminya sambil membopong anaknya yang tertidur.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2