Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Selles Mobil


__ADS_3

"Dipersilahkan masuk, Pak Arif. Sebentar lagi saya keluar," ucap Al. Sore-sore siapa yang bertamu di jam seperti ini?


"Baik, Pak," jawab Pak Arif meninggalkan kami yang sedang di dapur.


"Sayang, kalian makan dulu ya. Ini Ayah sudah selesai masak," lanjut Al.


"Ayah, aku pengin makan bareng ayah. Tunggu saja nanti ya?"


"Baiklah,"


"Mas, siapa ya. Yang bertamu, sebelumnya kita tidak ada janji kan?"


"Nggak ada, Sayang. Jika kalau sudah lapar banget makan dulu gih. Kasihan istriku kelaparan," ucap Al sambil mengelus pucuk jilbab istrinya.


Istrinya sekarang tampak chubby pipinya, terlihat semakin mempesona. Tapi Al sengaja tidak bilang.


Ketika wanita di bilang chubby paling tidak suka, nanti akan berlomba-lomba untuk diet. Dikira di ejek gemuk.


"Mas kedepan dulu,"


"Aku kok khawatir ya, Mas."


"Nggak baik seperti itu, Sayang. Sejak kapan kamu jadi cemas tak ada alasan ya, Ai,"


"Entahlah, Mas. Sejak kamu main mata sama Sari mungkin," ejek Aini.


"Hem, jangan mulai, Ai. Ingat yang berniat menolong Sari bukan aku ya, tapi kamu. Jangan dijadikan alasan untuk menjadi tersangka."


"Iya, iya. Sana, Mas. Tidak baik membiarkan tamu menunggu terlalu lama,"


"Haha ... kalau sudah bersama kalian rasanya sangat enggan untuk berpisah,"


"Mas, nggak baik bicara seperti itu. Sana cepetan kedepan!"


"Ayah, sana. Jangan liatin kita terus,"


Al meninggalkan istri dan anaknya.


"Assalamualaikum, Pak,"


"Wa'alaikumussallam, bener dengan Pak Al Ghazali"


"Betul, Pak. Mohon maaf dengan Bapak siapa?"

__ADS_1


"Oh iya ... salam kenal Pak Al. Saya Ardian dari leasing mau menawarkan mobil kepada bapak," ucap Ardian.


Al tersenyum menanggapi tamunya, "Mohon maaf, Pak Ardian. Untuk saat ini saya belum berniat membeli mobil kembali," ucap Al dengan sopan.


"Bapak bisa lihat-lihat dulu, ini kamu bawa katalog lengkap. Semoga Bapak jadi tertarik dengan penawaran kami. Ini kartu nama saya, Pak Al,"


"Terimakasih, ini saya terima kartu namanya. Jika nanti suatu saat butuh InsyaAllah saya hubungi Pak Adrian," nadanya seolah mengusir. Mengingat anak lagi menunggunya.


Jika membeli mobil tinggal datangi dealer sebenarnya, mudah kan? Seperti sebelumnya. Tidak harus seperti ini. Tapi Al tetap menghargai, itu bagian dari usaha Pak Adrian. Menawarkan dari rumah ke rumah.


"Biak, Pak Al. Apa tidak berniat membuka katalognya terlebih dahulu?"


"Mohon maaf, belum Pak Adrian. Anak saya sedang menunggu di dalam. Tadinya merengek,"


"Baiklah jika seperti itu, kami pamit dulu," Al mengantar tamunya sampai teras.


Ada perasaan lega dalam hati Al, ternyata selles. Mengingat beberapa hari ini kejadiannya selalu menegangkan. Al percaya sama Allah, dibalik kesedihan ada kebahagiaan. Bersama kesulitan ada kemudahan.


"Cepet banget, Yah. Siapa yang datang?"


"Haha ... nggak usah penasaran begitu," jawab Al terkekeh melihat raut kedua wanita tersayangnya menanti jawaban Al.


"Mas, serius. Siapa yang datang?"


"Alhamdulillah, aku tegang banget, Mas. Mengingat kita punya urusan Sari yang di RSJ, Zaki dan Paman Sarno di Polres,"


"Ai, apa kita minta Pak Burhan mencabut laporannya ya. Jadinya mereka bisa mengurus Sari nantinya. Kita jadinya terlepas dari mereka, takutnya malah kita yang di salahkan. Terus lama-lama nggak tega juga dengan Paman Sarno,"


"Coba nanti kita bicarakan dengan Bapak. Bukannya kamu belum telpon Bapak kan?"


"Astaghfirullah, iya."


"Masih pukul 17.00, makan saja yuk. Lapar,"


"Ayo, Ayah. Aku juga sudah menunggu sejak tadi kan? Tinggal menunggu Ayah,"


"Ayah cuci tangan dulu. Anak ayah sudah cuci tangan?"


"Sudah, dong,"


Mereka menikmati makan malam yang masih sore.


Selepas Isya Al telpon Bapaknya. Membicarakan Zaki dan Paman Sarno.

__ADS_1


"Pak, Paman Sarno dan Zaki dilaporkan oleh Pak Burhan. Sementara Sari di RSJ, jika Al minta Pak Burhan mencabut laporannya menurut bapak bagaimana?"


"Pak Burhan itu membela kamu Al, jadi nanti jelas kecewa beliau. Kamu siap menanggung kekecewaannya?"


"Pak Burhan akan aku kasih pengertian, Pak,"


"Aini bagaimana? Apakah setuju?"


"Jadi begini maksud Al, Pak. Sari di RSJ kami yang memasukan. Tentu tidak ada yang mengurus, aku tidak mau terlibat mengingat dia wanita. Tentu aku akan menjaga agar istriku tidak cemburu. Nah aku mikirnya, jika Paman Sarno keluar dari penjara tentu bisa mengurus anaknya. Tapi dengan catatan perjanjian nantinya, tidak lagi mengusik ketenangan orang lain. Bukan hanya saya, jika Pak Burhan keberatan maka minimal Paman Sarno keluar. Zaki memang sudah keterlaluan, kayaknya perlu psikiater juga," Al menjelaskan dengan gamblang.


"Bapak paham. Lagian tidak baik kita tidak menyukai seseorang, membenci seseorang terlalu lama. Bapak bangga sama kalian, yang dengan mudah memaafkan orang lain," ucap Bapak tegas.


"Bagaimana keadaan Sari sekarang?"


"Masih belum ada kabar lagi dari rumah sakit, nanti pihak rumah sakit akan menghubungi Aini, jika ada sesuatu," jawab Al.


"Pak, maafkan aku. Yang sudah terlibat dengan urusan Zaki dan Sari,"


"Sudahlah, Al. Bukannya bagus untuk dijadikan pelajaran. Jika tidak terjadi seperti itu maka akan dengan mudah kamu khilaf. Orang melihat kamu yang sekarang kagum, apalagi wanita melihat perlakuan kamu sama anak istri sangat menyayangi mereka. Wanita mana yang tidak menginginkan paket komplit sepertimu, banyak duit, penyayang, pinter masak dll. Tapi ingat, pencapaian kamu yang sekarang itu ada andil besar istrimu. Jadi jangan coba-coba kecewakan Aini. Aku orang pertama yang berada di barisan paling depan, Al,"


"Iya, Pak. Aku paham, terimakasih. Aku sudah lebih lega sekarang, kadang aku mikir sendirian bingung, Pak. Takut keputusannya menyakiti Aini, meskipun Aini yang meminta. Tapi tau sendiri, wanita itu seperti apa. Susah ditebak, ngomongnya tidak apa-apa, tapi justru sebaliknya."


"Haha ... bisa saja. Kamu benar Al. Ibumu juga habis ngambek tadi, sekarang sudah tidur gasik. Masih kesal sama Bapak mungkin," ucap bapak lucu.


"Pak, Emak itu jelas kesal. Emak di nomor duakan, nomor pertamanya adalah hewan ternak," aku terbahak.


"Al ... tanpa hewan ternak itu maka lebih parah lagi. Emak bakalan ngamuk, kekurangan beras buat di masak,"


"Haha ... alasannya masuk akal,"


"Aini dan Alia sudah tidur? Bapak kangen sama cucu. Cucu baru satu malah jauh,"


"Kapan-kapan kesini lagi, Pak. Emak kasihan diajak refreshing sejenak,"


"Emak mana mau sejenak, pasti penginnya lama,"


"Bagaimana kabar Izal dan Lina?'


"Aman, Pak. InsyaAllah mereka harmonis,"


"Bapak menghawatirkan ponakan yang satu itu, pasalnya belum pernah merantau. Sekali kesitu berjodoh dengan orang situ,"


"Pak, Emak tadi marahnya kenapa?"

__ADS_1


"Itu loh, Al. Bapak bawa rumput kebanyakan. Yang bawa bapak malah dia yang ngomel. Katanya nyusahin emak. Jelas-jelas Bapak yang bawa, kan? Nggak salah bukan?"


__ADS_2