
Lelaki sekitar umur empat puluh lima tahun yang sedang tergolek lemah itu berusaha bangkit dari tidurnya dan menatap dengan sorot mata tajam ke arah Kahfi. Tapi usahanya sia-sia karena dalam hitungan detik tubuhnya yang tak bertenaga itu kembali ambruk.
"Kamu siapa? Mau apa masuk ke kamar saya?" tanyanya, yang ternyata masih bisa membuka suara. Walaupun nada bicaranya terdengar kurang jelas, tapi masih bisa dimengerti oleh Kahfi.
"Saya keluarganya Fathan, anak yang selama ini hilang dan dibawa oleh Bu Ratih," jelas Kahfi. Tangannya segera meraih beberapa potong pakaian kecil yang ditaruh asal di keranjang pelastik.
"Si Ratih itu memang sudah keterlaluan," gumam lelaki setengah baya itu pelan.
"Saya suaminya pun sering dia paksa untuk duduk seharian di jembatan penyebrangan demi ambisinya untuk mendapatkan uang," ungkap lelaki yang memilik nama Muktar itu kepada Kahfi.
"Dia memanfaatkan keadaan saya yang tak berdaya ini untuk meraup keuntungan dari orang yang berlalu lalang di jalanan," sambungnya dengan mata mulai mengembun.
Sedangkan Kahfi berusaha menyimak setiap kalimat yang terucap dari Pak Muktar sembari memakaikan baju kepada Fathan.
Bu Ratih menaiki mobil polisi yang telah menunggunya tanpa perlawanan. Kedua pergelangan tangannya sudah digelangi besi borgol layaknya para tahanan yang sudah melakukan tindak kriminal.
Kahfi membawa Fathan memasuki mobilnya sendiri. Setelah sebelumnya ia meminta pihak polisi untuk membawa Pak Muktar ke tempat dinas sosial agar diberi kehidupan yang layak atau setidaknya ada orang yang mengurusnya. Tidak ditelantarkan seperti yang sudah diceritakan oleh Pak Muktar kepada Kahfi tadi sewaktu dikamarnya.
"Pak, tolong lepaskan saya! Saya tidak bersalah. Saya hanya orang suruhan Bu Mutia. Beliaulah yang seharusnya ditangkap bukan saya. Saya masih mempunyai suami yang sedang sakit, dia butuh saya." Bu Ratih terus memelas.
__ADS_1
"Anda bisa jelaskan nanti di kantor," ujar pak polisi gemas dari tadi Bu Ratih terus merengek seperti anak kecil.
***
Kahfi tiba di rumah Dhena menjelang sore. Dhena dan Hariz yang sedari tadi menunggu kedatangan Kahfi langsung memburu ke arah mobil ketika terlihat sudah terparkir sempurna di halaman.
Dhena langsung meraih Fathan dalam gendongan Kahfi lalu mendekapnya berlari memasuki rumah. Ia terus menangisi Fathan yang kini sudah kembali ke dalam pelukannya.
Di halaman depan Kahfi memandang sinis ke arah Hariz. Sorot mata tajamnya terus menelisik setiap inci tubuh Hariz seakan ingin menelannya bulat-bulat. Rahang Kahfi mengeras dengan kedua telapak tangan mengepal menahan amarah yang sudah dipendamnya sejak dulu.
"Lihat! Anakmu hampir saja menjadi gembel karena ulahmu!" Lelaki macam apa kamu yang sudah menjerumuskan anak sendiri kepada orang yang tidak bertanggung jawab!" cacinya di hadapan Hariz.
"Tapi saya sama Sekali gak menyuruh Dhena untuk pergi dari rumah, Kak," sangkalnya berusaha membela diri.
"Sudah salah, masih saja membela diri," sungut Kahfi.
"Ingat, ya, Hariz! Wanita yang sekarang sedang kamu sakiti dan kamu kecewakan itu perempuan yang pernah dibesarkan, disayang oleh ibu kandungnya dan saudara laki-lakinya penuh kasih dan sayang. Setelah kamu mengambilnya dari kami, lalu kamu dengan seenaknya memperlakukan Dhena seolah hati adikku itu terbuat dari batu."
Dulu sebelum Dhena menikah. Kahfilah yang selalu memperhatikan dan menanggung semua kebutuhan Dhena. Karena ia ingin membahagiakan sang adik. Menyadari kehidupan Dhena dari kecil selalu dihadapkan dengan kepahitan hidup yang sudah dialaminya semenjak ia lahir kedunia.
__ADS_1
Bagaimana tidak. Dua Minggu setelah kelahiran Dhena ke dunia. Ia divonis oleh dokter mempunyai penyakit paru-paru. Bu Aminah yang kala itu masih berusia tiga puluh tahun berniat mengabari sang suami yang sedang bekerja di Jakarta. Sekaligus minta dikirimi sejumlah uang untuk biaya pengobatan Dhena selama di rumah sakit.
Seminggu kemudian datanglah pegawai post wesel ke rumah Bu Aminah. Yang disambut dengan hati berbunga karena mendapat kiriman dari bapaknya Kahfi dan Dhena.
Dengan diirungi senyum sumringah tangan Bu Aminah perlahan membuka amplop berukuran besar berwarna putih. Tapi, binar bahagia itu seketika sirna, berganti dengan raut muka sendu menahan luka. Tangannya bergetar memegang secarik kertas. Bola matanya tak berkedip menatap setiap huruf yang tertera di sana. Yang Bu Aminah kira itu surat cinta untuk menanyakan kabar dirinya serta Kahfi dan Dhena dari sang suami, ternyata itu surat talak yang ditulis langsung oleh tangan Pak Rama, suaminya Bu Aminah, bapak dari Kahfi dan Dhena. Bagaikan disambar petir di siang bolong. Begitulah gambaran hati Bu Aminah.
Ia tak menyangka sang suami bisa dan tega berbuat sekeji itu kepada istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Karena Bu Aminah sangat hapal dengan sifat dan karakter sang suami yang baik, penuh lemah lembut dan sering mengisi ceramah dan pengajian di setiap acara di desanya.
Hati dan perasaan Bu Aminah hancur berkeping-keping. Bagaikan cermin kaca yang retak yang tak mungkin bisa kembali utuh seperti semula.
Bu Aminah sempat depresi. Dan pernah hendak mecekik bayi merahnya yang belum genap berumur satu bulan itu. Kahfi yang kala itu sudah berusia tujuh tahun sudah bisa mencerna apa yang terjadi di sekelilingnya.
Jika saja Kahfi saat itu tidak melihat aksi sang ibu dan menjerit mengingatkan Bu Aminah. Mungkin kini Dhena tak sampai menikah dengan Hariz. Bu Aminah saat itu kembali tergugu pilu. Kejiwaannya terganggu karena terlalu berat kenyataan hidup yang harus ia hadapi. Ditinggal dan dicampakkan begitu saja oleh laki-laki yang sangat dicintainya dengan dua anak yang masih butuh kasih sayang dari sosok bapak.
Semenjak kejadian itu, Kahfi berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjadi pelindung bagi ibu dan adik perempuan satu-satunya, yaitu Dhena Khoirunnisa. Kahfi selalu menjadi garda terdepan ketika Dhena disakiti dan dijahili teman bermainnya.
Ketika Dhena berusia tiga tahun. Ia akan selalu memanggil dengan sebutan bapak kepada setiap lelaki dewasa yang saat itu berkunjung ke rumah ibunya.
Pernah ada seorang pedagang jeruk kelililing ditangisi oleh Dhena ketika mampir sebentar di rumah Bu Aminah.
__ADS_1
"Bapak ... Bapak jangan pergi lagi." Dhena menangis ketika penjual jeruk itu akan meninggalkan rumah Bu Aminah untuk meneruskan berjualan.
Bu Aminah hanya mampu berurai air mata menyaksikan nasib malang Dhena yang belum memahami keadaan. Karena umurnya terlalu dini untuk bisa mengerti jika bapaknya lebih memilih hidup bersama wanita kedua yang baru dikenal beberapa bulan oleh Pak Rama di Jakarta.