
"Nggak perlu jawab Bu, aku percaya sama pekerja mereka tidak akan memasukan orang yang tidak berkepentingan, sekarang semua terserah jika ingin serius kerja lanjutkan, jika hanya ingin main-main maka lebih baik berhenti hari ini juga," masih dengan berbisik.
"Aku nggak suka basa basi apalagi setelah perkenalan kita pagi tadi yang amat sangat buruk. Ibu mengerti kan?" lembut dan menusuk.
"Iya Mbak, aku ngerti. Maafkan sikapku tadi pagi,"
"Harusnya kata-kata itu diucapkan tadi saat aku baru masuk ruangan ini. Bukan sekarang, apa maksudnya Bu Irma membuatkan kopi dan mengambilkan makanan untuk suamiku, dan apa maksudnya mengatakan aku kampungan?"
"Itu ... itu tidak ada maksud apa-apa," ucap Irma gugup.
"Yakin Bu? Aku yang nggak yakin, hidup diperantauan itu keras jadi aku sudah sedikit terbiasa dan belajar bagaimana watak seseorang " Bu Irma hanya menunduk.
"Satu lagi Bu, saya sudah mendengar sepak terjang Bu Irma, kami berusaha menerima Ibu menjadi pekerja disini karena ada peran Pak Burhan. Jangan sampai mempermalukan Pak Burhan, beliaulah yang sudah memaksa suami saya menerima Bu Irma bekerja disini. Jangan pernah mengusik ketenangan kami, saya biasa bersikap baik namun saya juga bisa melawan jika ada yang mengusik,"
"Saya sudah bersikap baik pagi tadi, namun Bu Irma sendiri yang membuka aib sendiri, mengatakan sendiri siapa sebenarnya Bu Irma, jadi jangan pernah cari tau darimana saya dapat informasi mengenai Bu Irma,"
"Bu Irma lengan Ibu kotor biar aku bantu bersihkan ya," suaranya kembali keras kalau terlalu lama nanti karyawan lain akan curiga. Sambil mengibaskan tangan dipundak Irma.
"Nah, sudah bersih. Selamat bertugas Bu Irma yang cantik," karyawan lain yang mendengar ucapan Aini cekikikan. Mereka baru tau sisi lain dari Bu Bosnya ternyata bisa juga pakai nada penuh sindiran sangat mengerikan. Aini yang selama ini mereka kenal adalah wanita ramah, lembut, penuh kasih.
Irma tengok kanan kiri takut obrolan mereka didengar, namun nampaknya Aini bisa menjaga nama baik lawan bicaranya. Lastri yang tadinya bareng saat ini sedang bersama Alia bermain. Setelah sholat asar Alia merengek minta ditemani main sama Mbak Lastri.
Irma ada ketakutan setelah mendapat peringatan dari Bu Bosnya saat ini, bukan berarti dia menurut. Dia akan mencari celah buat menjatuhkan Aini.
Menerima Irma adalah suatu kesalahan dengan niat kemanusiaan, bukannya kita tidak memberi kesempatan orang lain buat berubah apalagi menghakimi tapi kita tentunya berhak memilih dengan siapa kita bergaul, berteman dan bekerja sama.
Aini tidak mau menyalahkan suaminya, karena memang bukan murni kesalahannya. Menghadapi orang seperti Irma berbeda dengan Maya dulu, jika Maya cukup hadapi dengan senyum tulus sementara menghadapi Irma dengan ketenangan, kecerdasan dan gertakan tentunya.
__ADS_1
***************************
POV Irma
Hari pertama kerja namun sudah dipermalukan seperti ini, baiklah. Aku tidak terima dengan perlakuan Aini, memang siapa dia? Wanita kampungan yang baru saja pindah, aku yang dari kecil lahir disini maka aku yang berkuasa. Dia hanya pendatang yang hanya singgah nantinya. Aku pastikan kamu akan tidak betah disini, biar suamimu saja yang betah. Aku akan mengatur strategi agar usaha yang kalian rintis bangkrut seketika.
Dipastikan usahamu akan mendapat kerugian besar, sehingga akan sulit untuk bangkit.
Gayanya mengancam, aku tak takut sama sekali lihat saja Aini kamu akan menyesal dan menangis meminta maaf, bertekuk lutut di hadapanku.
Aku sudah bosan hidup terkekang oleh suami yang selalu membentak, boro-boro dikasih uang yang ada cacian terus menerus. Aku harus bisa menjadi nyonya Al Ghazali bagaimanapun caranya, kalau tidak bisa maka akan aku buat Al Ghazali bangkrut biar karyawan yang membela Aini ikut kehilangan lapangan pekerjaan.
Aku tidak menyesal sedikitpun atas sikapku pagi tadi, selangkah lebih maju sudah mempermalukan Aini.
Untuk membuat usaha Al Ghazali bangkrut itu sangat mudah, dengan satu langkah dijamin pembuatan tempe gagal total, mengingat penjelasan Al Ghazali tadi yang tidak boleh dilakukan saat proses pembuatan itulah nantinya yang akan dilanggar dan yang disalahkan nanti yang jelas bukan aku, tapi bagian lain, aku hanya bagian pengemas. Tidak harus sekarang menghancurkannya, terlalu terlihat, nggak sabar menunggu satu minggu lagi.
"Mama, lapar," teriak Davi.
"Astaghfirullah, lapar ya makan ngapa mesti teriak, mengganggu kesenangan Mama saja,"
"Mengganggu bagaimana? Mama itu lagi senyum-senyum sendiri, Mama Davi lapar," Teriak bocah 10 tahun.
"Tinggal makanlah,"
"Nggak ada makanan Mama, Davi butuh makan. Tega banget, Nenek kemana sih?"
"Jajan saja sana, ini Mama ada uang buat jajan. Yang bikin kenyang,"
__ADS_1
"Dari tadi kenapa Ma, dosa loh membiarkan anak kelaparan,"
"Yang dosa itu Papa kamu Davi, Mama itu Ibu yang baik, nasibnya saja tidak baik menikah sama Papa kamu,"
"Urusan orang dewasa ribet, Davi nggak mau tau. Ma, aku ke warung dulu,"
*********************
"Ai, Mas dapat laporan dari anak-anak, mereka ribut minta agar Irma dinasehati. Nasehatin bagaimana kalau aku sendiri merasa kurang suka jika bertemu dengan dia, nggak mungkin menasihati didepan umum kan, jika berdua saja Mas nggak mungkin juga?"
"Sudahlah Mas, hati orang siapa yang tau, kita hanya bisa berdoa kepada Sang Pemilik hati, agar memberi hidayah. Kita tak ada hak menuntut dia berubah. Siapa yang menanam bakalan menuai. Jangan sampai pikiran kita terkuras hanya memikirkan satu orang,"
"Setuju Ai, kita lihat saja itikad baiknya. Jika masih tetap seperti tadi kerja sambil cari perhatian pandangan laki-laki maka akan Mas sampaikan kepada Pak Burhan, nggak mungkin dipertahankan. Karena itu diluar kendali kita,"
"Mas, tadi aku ditanya sama Pak Kepsek tentang resign, kaitannya akan membuka lowongan kerja baru lagi,"
"Terus kamu ngasih jawaban apa? Nggak berubah pikiran kan?"
"Tentu saja tidak Mas, aku mau menjalani peran Ibu Rumah Tangga yang jelas peran istimewa, ladang pahala,"
"Alhamdulillah, terimakasih sayang,"
"Tentu saja, apalagi sekarang aku semakin yakin dengan adanya Irma,"
"Kenapa dengan Irma, orang macam itu tidak patut untuk dicemburui,"
"Hei... aku bukan cemburu,"
__ADS_1