
"Kenapa mesti harus dijadikan beban, Mas, jika aku sendiri sudah merasa ridho dan ikhlas bila Mas tak mampu berbuat adil kepadaku."
"Tolong, bilang ke Mbak Dhena. Anggap aku ini sebagai adiknya sendiri jangan anggap sebagai adik madu biar ia tak merasa risih dan sungkan ketika bertemu denganku," sambung Nelly meluahkan isi hatinya.
Karena pembicaraannya dengan istri keduanya itu tak membuahkan hasil, Hariz pun berpamitan kepada Nelly untuk kembali ke rumahnya, karena Dhena sudah beberapa kali mengingatkan Hariz agar bisa mengantarnya esok hari ke rumah sakit untuk kontrol kandungan.
***
Semenjak memasuki usia keenam bulan dokter Spog, menyarankan Dhena untuk kontrol setiap dua minggu sekali. Karena saat itu mulai ketahuan ada beberapa kelaianan. Diantaranya, placenta previa, sungsang, dan lilitan tali pusar.
Pagi hari menyisakan udara dingin, jalanan masih lengang, Hariz melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan sedang membonceng Dhena di belakang serta anak sulungnya yang duduk di bagian depan sepeda motor menuju rumah sakit yang jarak tempuhnya sekitar setengah jam.
Hariz hanya mengantar sampai depan rumah sakit, setelah itu ia harus kembali ke tempat kerjanya untuk mengikuti seminar yang diadakan pihak sekolah.
Dengan perut membuncit serta menuntun si sulung Dhena menuju ruang pendaftaran untuk mengurus administrasi seorang diri.
Beberapa jam mengantri di tempat pendaftaran baru bisa menuju poli kandungan, di sini pun masih sama harus menunggu antrian sampai menjelang Zuhur. Karena kebetulan hari Jum'at Hariz pun bisa menyusul lebih awal. Ba'da Zuhur namanya dipanggil menuju ruang pemeriksaan.
Setelah ditimbang BB, tensi darah, dan pemeriksaan USG, dokter Spog menyarankan untuk dilakukan tindakkan cesar hari itu juga, karena hasil USG terlihat masih ada lilitan tali pusar dan posisi bayi melintang, kepalanya tidak masuk panggul walaupun placenta yang tadinya menutup jalan lahir sudah bergeser, tapi tidak memungkinkan untuk bisa lahirkan secara normal.
Padahal tiga bulan setelah divonis sungsang Dhena sudah sering melakukan ritual sujud 10-15 menit dan jalan kaki setiap hari sesuai anjuran dokter kandungan. Tapi, ternyata Allah berkehendak lain dan tidak mengizinkan untuknya bisa melahirkan normal.
Mendengar saran dari dokter barusan membuat Dhena sedikit terkejut karena selain usia kandungannya yang baru mencapai 37 Minggu ia juga merasa belum siap kalau hari itu juga akan dilakukan cesar. Niatnya hanya untuk sekedar kontrol dan tidak membawa perlengkapan bayi dan lainnya.
Setelah mendapat dukungan dari sang suami dan mengingat resiko jika harus ditunda sampai minggu depan karena jarak tempat tinggal ke rumah sakit lumayan jauh akhirnya Dhena mengiyakan. Dan mulai puasa saat itu juga.
Usai mengurus administrasi Dhena diantar menuju ruang rawat inap khusus poli kandungan untuk menunggu jadwal operasi, setelah sebelumnya dipasang gelang identitas pasien.
Sedangkan Hariz berinisiatif pulang ke rumah terlebih dulu untuk mengambil keperluan bayi dan baju ganti bersama Fathan.
__ADS_1
Dhena melihat jam lewat ponsel, ternyata sudah menunjukkan waktu setengah lima sore. Baru sadar ternyata ia belum melaksanakan salat Asar. Wanita itu pun bergegas menuju ruang jaga perawat meminta izin sebentar untuk ke masjid yang berada di sekitar rumah sakit.
Dalam sujudnya Dhena memohon dan meminta agar proses cesar yang sebentar lagi akan dihadapinya diberi kelancaran dan keselamatan tanpa kendala apa pun.
***
Baru beberapa menit kembali ke ruang rawat inap, tidak lama kemudian ada dua orang suster dan perawat yang menghampiri sambil membawa botol impusan serta peralatan lainnya.
"Mbak, sebentar lagi jadwal tindakan cesar akan dilaksanakan. Sekarang kita mulai pasang infus dan alat lainnya, ya?" Salah satu suster berkata ramah. Setelah sebelumnya menyuruh Dhena mengganti pakaian dengan baju khusus berwarna biru telur asin.
"Iya, Bu, monggo .... " jawab Dhena menyilakan.
Dhena mengira setelah usai memasang jarum suntik yang ditusukkan di atas punggung tangan akan selesai. Tapi, ternyata tidak.
Suster itu masih meminta izin untuk memberikan cairan antibiotik, lagi-lagi dengan menusukkan jarum suntik kedua kalinya di salah satu pergelangan tangan lalu melingkarinya dengan pulpen, dan efeknya sangat tidak nyaman di bagian sensitif.
Baru beberapa detik terasa normal kembali, ternyata masih ada satu proses lagi yaitu pemasangan selang kateter untuk mengeluarkan urine secara otomatis pasca operasi cesar nanti tanpa harus ke toilet.
"Suami saya lagi pulang dulu, Bu, ngambil peralatan bayi. Keluarga yang lain juga gak, ada, Bu."
"Owh, yaudah, gak, apa-apa Mbak, nanti bisa diantar dan ditemani oleh suster yang ada di sini, kok."
Setelah dipastikan semuanya beres, Tubuh Dhena yang tadinya terbaring di tempat tidur ruang rawat inap mulai dipindah ke tempat tidur roda. Ada sekitar empat orang suster dan perawat yang ikut membantu dan mengantar ke ruang operasi.
Untuk pertama kali memasuki ruang operasi kandungan bagi Dhena sangat membuat perasaannya campur aduk. Antara takut, tegang, juga sedih karena tidak ada satu pun keluarga yang hadir menemani sekedar memberikan dukungan moril.
Dhena mengamati ruangan operasi, terlihat banyak peralatan seperti gunting dan benda tajam lainnya dengan beragam jenis ukuran membuat nyalinya seketika menciut.
Tindakan operasi belum dimulai, tapi entah kenapa tiba-tiba rasa dingin menyergap hingga menggigil menembus tulang mengakibatkan badannya gemetar hebat.
__ADS_1
Dhena mendadak dejavu teringat empat tahun lalu ketika lahiran normal Fathan saat menahan mulas yang sakitnya luar biasa menyebabkan anggota badan jadi menggigil semua.
"Bu, kok, badan saya mendadak terasa menggigil begini kenapa, Bu?" tanyanya kepada salah satu suster yang mulai menyiapkan peralatan.
"Mungkin hanya kedinginan karena AC, Mbak, " jawab suster.
"Bukan, Bu, ini dinginnya bukan dingin biasa," sangkalnya dengan lutut gemetar yang semakin tidak terkontrol.
"Mbaknya harus santai, tenang, jangan sampai tegang, biar gak menggigil," saran suster kemudian.
Dhena pun mulai menenangkan hati, berusaha rileks dan pasrah. Sedikit demi sedikit rasa menggigil yang tadi ia rasa mulai berangsur menghilang.
"Sudah siap belum, Mbak?" tanya suster memastikan.
"In sya Allah, saya siap, Bu."
"Kalau begitu, sekarang kita mulai memberi suntikan anestesi di bagian punggung, ya, untuk memberikan bius separuh badan dari mulai perut sampai ujung kaki." Suster menjabarkan.
"Sakit gak, Bu?"
"Biar gak terlalu sakit, Mbaknya harus tenang, rileks jangan tegang."
'Ya Allah ... dalam situasi seperti ini disuruh santai gak sampai tegang rasanya, kok, susah amat, ya?' Dhena membatin.
"Iya, Bu, saya siap dan akan berusaha rileks" jawabnya.
"Oke, Mbak, mohon kerjasamanya, ya, supaya bisa cepat dimulai," ujar suster bersiap dengan jarum suntik di tangannya.
"Mbak, ototnya dilemaskan aja jangan sampai tegang, kalau Mbaknya seperti ini nanti jarumnya bisa patah." Ucapan suster mengejutkan Dhena.
__ADS_1
"Iya, Bu, saya coba lagi," sahutnya mencoba melenturkan urat-urat yang tadi menegang. Dhena berusaha pasrah dan merafalkan doa sebisa mungkin berharap bisa lebih tenang meminta diberi kemudahan dan kelancaran kepada Yang Maha Kuasa.
Dengan hati yang pasrah serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang Maha pengatur membuat badan terasa lebih tenang, semua otot terasa jadi melemas dengan sendirinya.