
Kesokan harinya di sekolah.
"Yang bener Bu, mau merekrut karyawan. Nggak salah kan? Usaha suamimu baru jalan 2 Minggu sudah butuh karyawan?"
"Sebenarnya usaha belum besar Bu, lagi merintis hanya saja pikiran suami biar membuka lapangan pekerjaan. Kalau Bu Yuni ada orang/kenalan minta tolong untuk menghubungi kami ya Bu"
"Maaf ya Bu, bukan maksud saya meragukan. Hanya memastikan"
"Saya ngerti kok Bu, nggak apa-apa" senyum tulus Aini mengembang.
"Ayuk kita masuk kelas Bu, bentar lagi bel"
"Mari Bu" Aini membawa buku pelajaran dan beberapa kertas untuk praktek.
Kelaspun berjalan dengan hikmat, anak-anak asyik dengan percobaan percampuran warna.
"Bu.....Ridho berkelahi dengan Toriq" Aisyah teriak membawa Aini yg sedang berada di kelompok 1.
"Astaghfirullah, Toriq, Ridho.....bisa ceritakan ke ibu" ucap Aini tegas membuat kedua anak itu menunduk merasa bersalah. Dilihatnya bawah mata Ridho memerah kena pukul Toriq.
"Ridho merebut kertas percobaanku Bu"
"Toriq yang jail merobek kertasku Bu" Aini mendengarkan penjelasan keduanya dengan seksama.
"Ada lagi yang perlu kalian jelaskan?" Tanya Aini lembut. Mereka menjawab dengan gelengan.
"Lihat ibu sekarang, tatap ibu" ucap Aini tegas
"Yang lain ibu minta tolong kalian lanjutkan sesuai dengan petunjuk yang ibu berikan. Kembali ke kelompok masing-masing", "Baik Bu." jawab mereka serempak.
"Toriq, Ridho....lihat ibu sekarang. Toriq kamu menganggap memukul Ridho karena membela diri, kira-kira menurutmu kamu melakukan itu sudah benar apa belum. Dibolehkan apa tidak?" dijawab dengan gelengan kepala oleh Toriq.
"Ridho, menurutmu menyobek kertas hasil kerja temanmu benar apa belum?"
"Sekarang coba bayangkan Toriq, bagaimana jika kamu yang kena pukul. Marah apa tidak. Nggak perlu dijawab cukup dibayangkan."
"Tadi Ridho membalas, coba bayangkan Ridho jika kamu membalas, Toriq balik membalas apakah tidak sakit. Tidak perlu dijawab", "Bu....maaf Toriq salah", "Minta maaflah sama Ridho"
__ADS_1
"Bu Ridho juga salah. Toriq maaf ya"
"Maaf juga ya Dho. Besok kita main bareng lagi ya"
"Nah memang seharusnya sikap kita seperti itu sama teman. Ibu bangga sama kalian" dengan senyum mengembang dan acungan jempol.
Bel tanda pulang pun berbunyi, masih ada PR yaitu menjelaskan kepada orang tua Ridho.
"Ridho sebelum pulang nanti ke kantor untuk diobati ya"
"Ya Bu...."
Tanpa disadari Aini ternyata Ridho tidak ke kantor karena sudah dijemput sama saudaranya. Dan Aini belum menjelaskan kejadian disekolah.
"Bu Yuni, Rumahnya Ridho dimana?" dengan wajah panik.
"Memang kenapa bu, ada apa?"
"Tadi Ridho kena pukul Toriq, sebenarnya sudah diselesaikan di kelas mereka sudah asyik main lagi. Tapi bagian bawah mata Ridho membiru, belum sempat diobati sudah dijemput. Dan saya belum ketemu dengan orang tuanya"
"Astaghfirullah, iya Bu segera diselesaikan"
"Iya Bu, paham. Rumahnya dengan dengan Ramayana, depannya ada kedai dari kayu itu rumahnya. Ibu belum cerita dengan kepala sekolah?"
"Belum bu, yang penting menemui orang tua dulu, aku mau jalan sekarang. Mau ajak suami buat nemenin kesananya"
"Jangan panik Bu, bismillah InsyaAllah baik-baik saja"
"Doakan ya Bu" Aini panik membayangkan kejadian menimpa anaknya, dan tidak ada penjelasan dari sekolah jelas marah.
Aini menelpon suaminya.
"Mas tolong antar Ai menemui wali murid. Segera ya mas, penting banget" ucap Aini gugup. "Iya Ai, tunggu mas ya. Mas segera kesana" Aini jalan ke gerbang, dia belum akan tenang jika belum ketemu orang tua Ridho. Melihat suaminya Aini langsung mendekat.
"Rumahnya depan Ramayana mas, kedai kayu itu", "Iya Ai, mas tau tempatnya"
"Alia mana mas?"
__ADS_1
"Tadi lagi main sama Fara, diajak nggak mau. Jadi dititipin sama ibunya Fara"
"Mas itu rumahnya. Mas mau ikut masuk apa nunggu disini? kalau ikut jangan bingung dengan yang kami bicarakan nanti, karena Ai belum cerita sama mas"
Rumah Ridho perjalanan hanya 5 menit naik motor, jadi belum sempat cerita kejadian diskolah sudah sampai duluan.
"Iya Ai, mas mau nunggu disini saja. Jika nanti ada yang perlu mas bantu kamu panggil mas" Aini mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussallam Bu Aini"
"Siapa Mah?" orang bertubuh kekar dan bertato memberi kesan seram mendekati Aini.
"Gurunya Ridho Pah, Bu Aini" mamah Ridho memperkenalkan Aini
"Siapa gurunya Ridho, guru macam apa muridnya sampai babak belur begitu" wanita tua memakai Aini. Bisa dipastikan itu neneknya Ridho. Mendengar makian Neneknya Aini diam tak bersuara, Aini menarik nafas untuk menetralkan kegugupannya. Baru 3 pekan di kota ini mendapat kasus yang luar biasa. Aini menyemangati dirinya sendiri "Semua yang terjadi atas kehendak Allah, Allahlah skenarionya. Yakinlah semua sudah sesuai garis ketentuan Allah. Semangat Aini semua baik-baik saja"
"Silahkan duduk Bu." ucap mamah Ridho meski terlihat kesal namun sopan.
"Baik Bu, terimakasih"
"Begini Bapak Ibu, Nenek....tujuan saya kesini untuk silaturahmi, yang kedua saya mau menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi disekolah tadi. Saya sangat paham dengan sikap penyambutan keluarga ini. Yang pertama bapak ibu rasakan pastinya marah, bingung, kecewa dengan kondisi Ridho" Aini menarik nafas panjang. Dan mereka mendengarkan penjelasan Aini tanpa menyela.
"Saya sangat maklum nek, jika nenek menyalahkan saya selalu guru yg berada dikelas saat itu. Saya pribadi mohon maaf kepada keluarga ibu atas keteledoran saya, saya memiliki banyak keterbatasan seperti mata hanya 2 yg tak mampu melihat keberadaan anak-anak secara bersamaan, tangan dan kaki terbatas tak bisa memperhatikan anak 20 dalam satu waktu. Bukan maksud membela diri, tapi kenyataannya seperti itu. Mohon maaf atas keterbatasan saya. Dan untuk yang tadi antara Ridho sama Toriq sudah kembali baikan, dan sudah ceria lagi"
"Begini Bu, terus terang saya sangat marah melihat anak pulang dalam kondisi memar, orang tua mana yang tidak marah. Namun saya sadar bisa jadi anak saya juga bersalah dalam hal ini. Saya berniat memindahkan anakku ke SDIT di desa sebelah Bu. Besok saya mau ke sekolah meminta surat pindah."
"Ibu sangat salah, cucu saya diperlakukan semena-mena" sementara mamahnya Ridho tidak ikut komentar hanya menyimak pembicaraan kami.
"Sekarang begini pak, dengan bapak memindahkan Ridho apakah menjamin semua teman disekolah yang baru itu semuanya akan baik sama Ridho, apakah bapak bisa menjamin kejadian seperti sekarang tidak akan terjadi? Ridho akan ketemu teman baru, penyesuaian lagi, dan dimanapun kita sekolah pasti ada saja yang suka sama kita, ada juga yang tidak suka sama kita. Ada yang jail, ada yang baik, ada yang iseng. Hal itu tidak akan bisa kita hindari itu merupakan fakta. Dan kita tidak bisa memaksa anak orang lain untuk selalu baik, selalau berteman dengan anak kita. Biar anak menjadi kuat mentalnya tau bagaimana menghadapi berbagai macam karakter. Sebenarnya saya tidak akan memaksa agar Ridho tetap sekolah disini. Hanya mungkin itu bisa jadi pertimbangan"
"Terimakasih Bu Aini, meski awal tadi saya marah tapi saya berterima kasih dengan kedatangan ibu kesini. Kami selaku orang tua merasa dihargai dengan kedatangan Bu Aini kesini. Bapak mana yang rela anaknya ditonjok orang lain. Tujuan saya menyekolahkan Ridho disana agar menjadi anak yang soleh, dan perubahannya sudah sangat terasa Ridho jauh lebih baik dari sebelumnya. Jadi biar Ridho tetap sekolah disana"
"Mana bisa begitu. Kau ini ayah macam apa, anaknya dibiarkan begitu"
"Ayolah Mak, mak jangan macam itu" ucap ayah Ridho kepada emaknya.
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...