
Sudah beberapa puluh kali Nelly berusaha terus untuk menghubungi Hariz, tapi hasilnya nihil. Tak satu kali pun panggilan darinya diangkat oleh suaminya itu. Padahal keadaan ponsel Hariz sedang aktif dan langsung tersambung.
Dengan terpaksa Nelly pun menghubungi keluarganya sendiri untuk sekalian menitipkan Vito, ia belum sempat mengabari pengasuh anaknya itu. Karena harus menunggu dan menjaga mamanya. Beberapa kerabatnya langsung datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bu Mutia dengan membawakan berbagai macam jenis makanan dan beberapa minuman botol.
Hati Nelly sedikit lega setelah ada beberapa keluarga dari mananya itu yang datang menjenguk Bu Mutia. Setidaknya ia ada teman mengobrol selama menjagai mamanya.
Nelly kembali mencoba menghubungi Hariz, berharap ada jawaban dari sang suami.
"Mas, Mama sekarang dirawat di rumah sakit. Kamu cepat ke sini ya, aku butuh kamu," tutur Nelly kepada Hariz, ketika panggilan telepon yang kesekian kalinya baru tersambung dan diangkat oleh Hariz.
"Iya, nanti Mas ke sana," jawab Hariz pendek.
Hariz mengajak Dhena dan Fathan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bu Mutia.
Di ruang inap Bu Mutia sudah terlihat siuman. Ia sedang disuapi bubur oleh Nelly yang duduk di kursi persis di samping ranjang tempat Bu Mutia terbaring lemah.
Sambil mengucap salam tangan Hariz mendorong pelan pintu kamar. Ia berjalan masuk diikuti oleh Dhena dan Fathan dalam gendongan.
Bola mata Bu Mutia hampir melonjak keluar saat ia melihat Fathan sudah ada dalam gendongan Dhena. Tapi, ia berusaha bersikap tenang menutupi ketegangan hatinya.
Bu Mutia tak menyangka jika rencana jahatnya itu bisa tercium oleh pihak yang berwajib dalam waktu dekat. Ambisinya untuk bisa memberikan kebahagiaan kepada Nelly begitu besar hingga perempuan setengah baya itu tak lagi bisa menggunakan akal sehatnya lagi.
Niatnya memisahkan Fathan dari Dhena agar Hariz meninggalkan istri pertamanya dan Hariz bisa dimiliki oleh Nelly seutuhnya. Menjalani rumah tangga yang layak tanpa harus berbagi waktu dengan wanita lain. Tapi, ternyata kenyataan yang kini Bu Mutia dapatkan tak sesuai dengan ekspektasinya yang terlalu tinggi dan serakah. Mengambil paksa hak orang lain walaupun dengan cara yang menyalahi aturan dan menyalahi semua pernormaan.
__ADS_1
"Mas, kamu sudah datang," ucap Nelly seraya berdiri dan menyimpan mangkuk bubur yang sudah habis di meja samping tempat tidur. Ia kemudian membantu mamanya memberikan minum.
Hariz kemudian mendekat ke samping tempat tidur Bu Mutia. Sedangkan Dhena mendudukkan Fathan di kursi yang sudah disiapkan untuk pengunjung yang sedang menjenguk pasien. Sudah ada beberapa orang yang duduk di sana.
"Sebelumnya saya mohon ma'af jika keputusan saya ini akan membuat Mama dan Nelly kecewa. Tapi, ini semua sudah saya pertimbangkan dengan matang." Hariz mulai membuka pembicaraan yang terlihat sangat serius.
"Mulai hari ini, detik ini, saya mengembalikan dan mentalak anak Bu Mutia yaitu Nelly Purwaningsih binti Bapak Aminnudin dengan disaksikan oleh istri saya sendiri, Dhena Khoirunnisa dan semua orang yang berada di sini."
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Nelly tak percaya.
"Maaf, Nel, saya tidak bisa hidup bersama orang dan keluarga yang bisa mengancam keselamatan dan nyawa anak saya sendiri. Saya gak menyangka hilangnya Fathan beberapa waktu yang lalu ternyata ada andil mama kamu di belakangnya," jelas Hariz yang sudah mengetahui sandiwara Bu Mutia.
Menurut Hariz jika ia tak langsung mengambil keputusan yang tegas dan membiarkan dirinya terus berada dalam bagian keluarga Nelly, tidak menutup kemungkinan bila suatu waktu nanti ia akan kembali kehilangan Fathan atau Dhena sekaligus. Hariz tak sanggup membayangkan jika kekhawatirannya itu sampai terjadi. Untuk menjaga hal buruk itu bisa terjadi sampai kedua kalinya Hariz harus meninggalkan Nelly walaupun ia tahu wanita yang pernah dinikahinya itu akan kecewa dan hancur dengan keputusan yang ia ambil secara sepihak itu.
"Ma'af Bu Mutia, ucapan saya yang tadi sudah tidak bisa ditarik kembali. Tekad saya sudah bulat saat ini untuk mentalak Nely, anak njenengan," tandas Hariz menegaskan.
Nelly tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Ia berusaha menguasai hatinya yang sedang menahan luka.
Sedangkan Dhena hanya membisu ketika menyaksikan sikap sang suami yang di luar dugaan. Ternyata alasan Hariz mengajaknya ke sini sengaja agar dirinya melihat langsung ketika suaminya mentalak adik madunya.
Ada rasa lega menyelimuti hati Dhena saat melihat ketegasan Hariz tadi. Impian dan harapan untuk memperbaiki dan membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah kembali terlintas dalam benak Dhena. Walaupun rumah tangganya sempat retak, tapi, tak apa ia berpikir untuk mengambil hikmah dari semua perjalanan hidup yang ia alami. Karena setiap manusia pasti tak luput dari kesalahan dan khilaf yang diperbuatnya.
Begitu pula Hariz, suaminya.
__ADS_1
Dalam hati kecilnya Dhena, terlintas rasa iba ketika melihat Nelly dan Bu Mutia sedang menangisi kepiluan mereka. Dhena bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Nelly saat ini. Ketika mamanya terbaring sakit dalam waktu yang bersamaan pula laki-laki yang sangat dicintai mencampakkannya karena ulah busuk ibu kandungnya sendiri.
Hariz mengajak Dhena untuk segera meninggalkan ruangan itu. Karena niatnya datang ke rumah sakit hanya untuk menyerahkan Nelly kembali kepada mamanya.
"Sabar, Nelly. Ambil pelajarannya saja dari kejadian yang kini sedang menimpa kamu. Lain kali kamu jangan sampai mengulangi kedua kalinya tersesat ke dalam rumah tangga orang lain," ucap seorang ibu mengelus punggung Dhena lembut.
Mendengar perkataan dari ibu itu Dhena tersenyum geli sambil ekor matanya melirik sekilas ke arah Nelly.
Setelah berpamitan dan menyalami semua orang yang berada dalam ruangan langkah kaki Dhena bergegas menyusul Hariz yang sudah keluar terlebih dulu sambil menggendong Fathan.
Hariz yang sudah menunggu Dhena di luar pintu langsung menghampiri sang istri lalu menggandengnya berjalan bersisian menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat lengang. Hanya ada satu dua orang berseragam putih-putih yang melintas dan berpapasan dengan mereka.
"Mas, kamu serius tadi menceraikan Nelly?" tanya Dhena memastikan.
Hariz menganggukkan kepalanya. Pertanda mengiakan pertanyaan sang istri.
"Mas sengaja tadi sekalian ngajak kamu ke sini. Biar kamu bisa yakin dan percaya kalau Mas sekarang hanya memiliki satu istri." Hariz berusaha meyakinkan hati wanitanya yang pernah ia kecewakan itu.
Pipi Dhena seketika menghangat dan bersemu merah mendengar jawaban dari sang suami yang tak bisa dipungkiri jika hatinya saat ini merasa berbunga-bunga. Ya, selemah itulah hati Dhena. Semua rasa lukanya seketika menguap begitu saja jika sikap Hariz sudah kembali menunjukkan kehangatan kepadanya.
I Love you forever, Mas Hariz ....
Bersambung ....
__ADS_1