
Ada kelegaan tersendiri bagi Al Ghazali yang tidak buru-buru dalam bertindak, segala tindakan semua akan dimintai pertanggungjawaban kelak dihadapan Allah. Al Ghazali tidak mau menutup mata dengan sekitarnya, hidupnya harus bermanfaat buat banyak orang.
Selepas Isya semua keluarga berkumpul diruang keluarga sambil menikmati cemilan buatan Emak.
"Mak, nikmat banget. Lamanya nggak makanan tradisional buatan Emak," ucap Aini.
"Nih buat Mbak semua saja, aku lagi bosan makan beginian," ucap Lina sambil menyodorkan piring berisi kue yang terbuat dari parutan singkong di bungkus daun pisang.
"Lin, tiga bulan saja kamu jauh dari makanan ini bakalan kangen. Belum pernah jadi anak rantau, jadi belum tau rasanya. Jangan merengek besok-besok kalau kamu kangen masakan Mama kamu," balas Aini.
" Nggak akan Mbak, aku pintar masak," ucapnya bangga.
"Buktikan saja, palingan pintarnya masak air sama mie instan," Aini mencibir dan mengundang tawa semua.
"Haha ... memang keluarga kita parah semua ya Gyo, kalau ketemu kaya kucing. Sukanya bertengkar," ucap Budhe Surti.
"Biar saja lah Mbak, yang penting mereka senang," jawab Bapak loyo.
"Pak, kalau sudah capek istirahat. Jangan pikirkan sapi dan kambing yang dirumah. Semua sudah ada yang mengurus jadi aman," ucap Al. Dia sangat paham dengan Bapaknya. Pasti lagi memikirkan sapi dan kambing yang dirumah.
"Al, tau saja yang dipikirkan Bapak,"
"Iya lah, Pak. Padahal Bapak mau lama disini, jangan sampai Bapak yang kurus disini. Kambing dan sapi dirumah nggak bakalan kekurangan makan," ejek Al.
"Asli budhe jadi merindukan anak-anak budhe. Mereka kalau berkumpul nggak seperti ini. Sibuk dengan Hp masing-masing, jadi sedih budhe Al,"
"Budhe, ada kok caranya. Nanti Aini kasih tips agar tak pegang hp terus saat ngobrol dengan keluarga," semua mata tertuju pada Aini.
"Gitu banget ngelihatnya Lin, penasaran pakai banget ya Lin?"
"Mbak, kasih tau Mbak?"
"Ini tips buat Budhe kok kamu yang nggak sabar, budhe saja baik-baik saja. Iya kan, Budhe?" ucapan Aini membuat Lina makin kesal.
"Mbak!"
"Iya, iya. Caranya hp dikumpulin alias disita dulu, mungkin cara ini kejam tapi mengingat pertemuan dengan keluarga tidak setiap saat kan, karena tinggalnya jauh. Tapi cukup di jam malam, selepas Isya sampai pukul 21.00, kalau jam siang mungkin ada kaitannya dengan kepentingan pekerjaan, jadi jangan jam siang" ucap Aini serius. Kadang anak juga butuh ketegasan orang tua. Meski sudah berumah tangga tapi ketika bersama orang tuanya kita masih seperti anak kecilnya.
__ADS_1
"Ide cemerlang ini, pas anak-anak pulang besok-besok Budhe pakai cara itu. Mereka nggak akan marah InsyaAllah,"
"Lin, tadi sudah kenalan dengan teman kerja Mas Al?"
"Sudah Mas Al, seru cerita sama mereka. Apalagi Bang Izal, .... Ups," keceplosan sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Cie ... ada yang lagi merasakan kesan pertemuan pertama," goda Aini.
"Tante, itu Abangnya adek!" protes Alia.
"Duh ... anak kecil yang satu ini selalu heboh kalau sudah merasa cocok," protes Al.
"Ayah, Bang Izal itu Abang aku. Tante Lina itu Tanteku," Alia berusaha menjelaskan dengan celoteh lucunya.
"Iya ... iya. Jadi cocok ya Dek?"
"Kalau itu Mas sangat setuju Ai, kayaknya bentar lagi kita bakalan mantu, Sayang," membuat Lina semakin malu.
"Bapak juga setuju, mumpung Pakde masih disini bisa jadi walinya,"
"Si Bapak, Lina masih ada orang tua kandung. Ngawur bapak, main serobot tugas orang," ucap Emak.
"Pakdhe, omongan Mbak sama Mas jangan terlalu didengerin," protes Lina.
"Kalian tidak lihat apa, mukanya sudah seperti tomat. Jangan diledek terus, kasihan mama papanya jauh," ucap Pakdhe Karto. Lina tersenyum mendengar pembelaan dari Pakdhenya.
"Kita berteman ya, Pakdhe? Aku mau dekat-dekat sama Pakdhe Karto saja yang nggak suka mengejek,"
"Nggak boleh Tante, deketnya sama aku!"
"Iya, Sayang. Comelnya Tante, tidur yuk. Tante ngantuk dan capek. Kita sikat gigi dulu," Lina menggandeng Aini untuk bersih-bersih.
"Alia bobo dulu ya, Kakek, Nenek, Ayah dan Bunda,"
"Iya, Sayang," jawab mereka serempak.
"Budhe juga mau istirahat, ayo Pak," Surti pamit dan mengajak suaminya menuju kamar diruangan depan.
__ADS_1
Al sangat paham, budhe memberi ruang kepada kami untuk bersama Bapak Emak ngobrol.
"Ai, terimakasih kamu sudah mendampingi Al sampai detik ini dengan tulus," ucap Emak tulus. Aini mengangguk dengan senyum tulusnya.
"Iya Ai, tidak semua wanita akan tahan dengan ujian ketika suaminya jatuh miskin dan sakit. Semoga rumah tangga kalian semakin kokoh," ucapan disertai doa Bapak.
"Aamiin," mereka mengaminkan sama-sama.
"Al, biasanya laki-laki semakin sukses maka semakin banyak ujian. Disinilah peran kamu, awas kalau sampai Bapak mendengar kamu mengecewakan Aini, Aini sudah mendampingi dimasa sulit kamu!" ancam Bapak.
"Doakan kami selalu Pak, kami butuh doa orang tua. Aku akan berusaha menjaga hati ini, meminta sama Allah kepada sang pemilik hati ini, aku akan terus didampingi Aini sampai maut memisahkan InsyaAllah,"
"Ucapan kamu ambigu Al Ghazali, kamu mau macam-macam!"
"Bukan Pak, Al sangat mencintai Aini. InsyaAllah aku akan selalu mencintai dia"
"Bapak hanya butuh bukti, bukan sekedar ucapan," ucap Bapak tegas.
"Aku selalu meminta kepada Allah Pak, kita harus bergantung dengan pertolongan Allah. Bukan karena Al ragu dengan hati ini, tapi kenyataannya kita harus selalu bergantung kepada Allah,"
"Iya Al, Emak paham,"
"Bagaimana dengan usaha kalian? Bapak senang kalian punya karyawan yang baik-baik,"
"Alhamdulillah lancar Pak, Allah selalu memberi pertolongan kepada kami, sehingga kendala bisa cepat diatasi, seperti yang sedang kami alami saat ini," ucap Al penuh syukur.
"Alhamdulillah, Bapak senang mendengarnya. Sekarang ini?" tanya Bapak penasaran.
Al menceritakan kepada keluarga intinya tentang Indri dari awal Indri berbuat ulah sampai hari ini dia menyambangi rumah suaminya Indri semua diceritakan. Aini juga terbengong tidak percaya apa yang menimpa Indri.
"Alhamdulillah, kamu dikasih petunjuk melalui Izal untuk berfikir sampai kesitu. Jadi tidak salah langkah. Bapak bangga sama kamu, dalam bertindak mempertimbangkan banyak hal. Izal anak yang baik, Bapak sangat setuju jika nantinya jadi suami Lina,"
"Haha ... Bapak, kita lihat nanti lah Pak, semoga semua yang terbaik untuk mereka. Al juga sangat setuju," ucap Al.
"Emak yang ketinggalan info ini, belum berbincang dengan Izal. Tadi baru dekat dengan Mak Dang saja,"
"Tenang Mak, masih banyak waktu," ucap Aini menenangkan.
__ADS_1
"Tadi Izal sudah tanya-tanya ke Ai kok Mas, tantang Lina. Nampaknya dia juga tertarik pada pertemuan pertama," ucap Aini serius.
"Yang penting kita jangan ambil kesimpulan terburu-buru, Sayang," ucap Al kepada istrinya. Karena Aini yang paling semangat menjodohkan mereka sedari Lina belum datang.