
"Nggak tau, Yah. Makanya aku nggak mau ikut, Alia nggak kenal," ucap dia polos sambil mulutnya terus mengunyah jajan.
"Good joob, Sayang. Anak ayah pintar, betul begitu jika kamu tidak kenal maka tidak boleh ikut. Sekarang tambah lagi, kalaupun kamu kenal tapi bukan Ayah, Bunda, Om Izal, Om Soleh, dan Tante Lina maka kamu nggak boleh sembarang ikut orang. Hanya kami yang menjemput kamu. Paham kan, Sayang?"
"Tentu, Ayah. Aku anak pintar," menunjuk dirinya dengan bangga.
Rasanya mereka cukup lega, Alia tidak kenapa-kenapa. Masih ada pertanyaan siapa wanita yang mencoba menjemput Alia? Wanita yang pernah berurusan dengan mereka adalah Virna, tapi tidak mungkin jika Virna.
Sampai rumah juga akhirnya, setelah berganti baju Alia ikut berbaur ke belakang. Lina dan Izal juga sudah bergabung juga dengan karyawan Al.
Drrtttttt ... drrtttttt, Al mengangkat ponselnya dengan segera setelah melihat siapa si penelpon. Al menuju ruangan yang sepi untuk menerima telpon.
"Assalamualaikum, Al,"
"Wa'alaikumussallam, Mak. Apa kabarnya?"
Sejak pernikahan Lina Bapak dan Emak tidak ikut Al lagi.
"Alhamdulillah baik, Al. Ada yang mau Emak tanyakan. Apa benar Zaki mengganggu kalian? Sarno dan Sari bagaimana?"
"Maksudnya, Sari ikut? Paman Sarno membuntuti Aini dan Lina membuat mereka sangat panik, Mak. Sementara Zaki berusaha menjemput Alia dan bikin keributan di rumah. Jadi Pak RT melaporkan Zaki ke pihak berwajib, saat ini mereka masih di Polres untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,"
"Astaghfirullah, kenapa mereka nekat, tidak memikirkan perbuatannya akan merugikan orang lain. Apakah Sari juga ikut di tangkap?"
"Kami tidak melihat Sari, Mak," Al terdiam beberapa saat memikirkan rentetan kejadian hari ini.
"Iya, Mak. Aku paham sekarang, Zaki cerita kalau habis jemput Alia tidak berhasil. Aku menyuruh Izal menjemput Alia tapi sama gurunya tidak di ijinkan karena beberapa saat sebelum Lina dan Izal datang ke sekolah ada seorang wanita yang mengaku bernama Lina. Mak, terimakasih sudah menelpon Al, sekarang sudah tau siapa biangnya yang berusaha menjemput paksa Alia,"
"Al, Emak sangat mengkhawatirkannya kalian,"
"Mak, kami tidak apa-apa. Sebelumnya juga kami baik-baik saja. Orang-orang sini baik-baik semua InsyaAllah. Zaki sudah ditangkap meski hukumannya tidak berat tapi mudah-mudahan membuat mereka jera termasuk Paman Sarno yang hanya ikut-ikutan. Mobil Zaki juga sudah di bawa untuk barang bukti, sempat merekam CCTV di beberapa tempat dengan tingkah mencurigakan,"
"Terus, Sari sekarang dimana?"
"Tidak tau, Mak. Zaki dan Paman Sarno tidak cerita kalau mereka kesini bareng Sari, rasanya konyol meladeni mereka,"
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa, Al. Emak sangat khawatir, orang kalau sudah buta hatinya bisa berbuat nekat,"
"Senekat apapun jika kita serahkan sama Allah urusannya, maka insyaallah Allah akan menolong kita dengan berbagai cara. Allah tak akan kekurangan cara bukan? Allah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung, bantu kami dengan doa ya, Mak,"
"Tentu saja. Sekarang cucu emak dimana?"
Emak merasa lega setelah mendengar dari cerita Al, jika di sekolah aturan sekolah sangat ketat terkait penjemputan. Sementara di rumah sekarang juga ada petugas keamanan yang di tugaskan menjaga keamanan. Berasal dari anak buah Pak Danu, meskipun awalnya tidak mau mengingat untuk apa ada petugas keamanan, sementara semua karyawan dianggap sudah bisa menjaga keamanan mereka masing-masing. Pak Danu yang sudah terjun di dunia bisnis lebih lama, tentu lebih paham dengan dunia bisnis dan memaksa Al untuk menerima Pak Arif.
Al mengakhiri telpon setelah memastikan Emak tak lagi khawatir.
Selesai telpon ternyata Aini dan Lina sedang mengamati Al.
"Astaghfirullah, sejak kapan kalian disini?"
"Sejak tadi, Mas. Saking seriusnya tak menyadari kedatangan kita ya, Mba,"
"Lagi kangen-kangenan sama Emak, jadi maklum lah, Lin,"
"Hei ... kenapa nadanya seperti orang yang sedang cemburu?"
"Oh, jadi kamu cemburu karena aku menyebut tentang Sari? Sari ikut datang ke kota ini bareng Zaki dan bapaknya. Aku mengartikannya kalau yang pura-pura menjadi Lina adalah Sari. Bukankah itu masuk akal? Zaki dan Sarno di kantor polisi, sementara Sari keberadaan tidak tau dimana jadi bukannya masuk akal jika Sari yang melakukan?"
"Tau darimana, Mas?"
"Emak yang bilang, Sayang,"
"Terus, sekarang Sari dimana?"
"Mana mas tau, Lin,"
"Nggak usah sewot, Mas. Awalnya aku mengira Virna,"
"Sama, Lin. Akupun iya,"
"Aku juga seperti kalian, awalnya menyangka kalau yang mengaku Lina itu Virna. Kasihan menjadi sasaran,"
__ADS_1
"Kalau Sari belum ketemu berarti Alia masih belum aman, Mas. Gimana ini?" ucap Aini panik.
"Sayang, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Sari disini pendatang. Belum ada yang kenal, mas justru nggak yakin dia bisa bertahan berapa lama di dunia bebas ini. Dia terpisah dari Zaki dan Bapaknya. Sementara yang mas tau dia anaknya hanya bisa bersikap sok ketika di kampung, aku sangat yakin disini dia bakalan kebingungan, nggak usah dipikir. Kita sebagai manusia tetap ikhtiar menjaga anak kita, tapi terlepas dari itu kita serahkan sama Allah, biar hati kita mendapat keterangan,"
"Mas, tapi ...,"
"Sudahlah, Sayang. Tentunya Bapaknya akan lebih khawatir dengan Sari anaknya kan? Jika Mas ke kantor polisi dia akan merengek minta bantuan mas buat cari Sari. Kita lihat saja,"
"Terus kalau itu terjadi mas mau apa? Mencarinya?"
"Sayang, kamu nggak perlu cemburu. Kamu sama sekali tidak cocok jika dibandingkan dengan Sari. Kamu terlalu berharga, jangan sampai cemburu buta mengalahkan akal sehat. Jika kamu mengira aku tertarik sama Sari itu artinya menganggap suamimu ini seleranya sangat rendah,"
"Meleleh hatiku, Bang. Mendengar kalimatmu," ucap Lina terbahak sambil berlari meninggalkan mereka berdua.
Aini senyum-senyum sendiri mendengar candaan Lina. Hatinya berbunga-bunga mendapat pengakuan dari suaminya. Tak menyangka kalimat yang keluar dari mulut suaminya sangat manis. Melihat reaksi Aini yang senyum sendiri dan menunduk malu Al langsung bereaksi.
CUP ... ciuman mendarat di bibir Aini.
"Mas! Bagaimana kalau mereka melihatnya,"
"Biar nggak dilihat mereka ke kamar yuk!" ucap Al jail. Paling suka dengan tingkah istrinya yang malu-malu kucing. Awalnya malu, berakhir ganas. Inilah yang menjadi penguat rasa bagi Al. Aini merupakan candu baginya, sosoknya sangat istimewa. Al membawa Aini menuju kamarnya, menggandengnya dengan erat.
"Hem, ... mau kemana?" Lina sudah muncul kembali di hadapan mereka.
"Jam segini mau apa, siap-siap sholat asar bukan?"
"Yakin, ... aku lihat bukan itu?"
"Adikku sekarang pintar ya, tak salah aku merestuimu menikah sama Izal. Ketularan cerdasnya, lebih tepatnya ketularan mesyumnya, otakmu pasti sudah traveling kemana-mana kan?"
"Mas, aku tunggu ke Masjidnya ya?"
"Siap, Zal,"
...****************...
__ADS_1