Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Berhasil Menjalin Kerjasama


__ADS_3

Sesuai permintaan Lina laju kendaraan berjalan lebih pelan, Izal ikut mengamati namun tak mendapati sesuatu.


"Ada apa, kenapa mesti pelan. Nggak sampai-sampai nanti, Sayang,"


"Kamu nggak paham, Bang. Mas Al, lihatlah yg di depan toko kue itu, wanita yang pakai baju merah. Mba Ai ... itu lihat," sambil menunjuk dengan semangatnya. Al dan Aini mengamati ke arah dimana Lina menunjuk.


"Sari!" seru Aini.


"Aku nggak salah lihat, kan? Lihatlah meskipun sudah tidak begitu aku kenali namun masih cukup jelas bukan?"


"Iya, Lin. Aku sangat mengenali, ya Allah baru kemarin pisah sama Zaki dan Paman Sarno ya. Kalau lihat kayak gitu jadi kasihan,"


"Mba Ai, gimana kita sekarang, mau nyamper dia?"


"Nggak!" ucap kompak Aini dan Lina.


"Ya!" ucap Al bareng dengan Aini dan Lina.


Aini dan Lina saling pandang, menandakan kekecewaan kepada Al yang begitu peduli dengan Sari. Sudah jelas-jelas perusak malah mau menemui.


"Jangan salah paham, Sayang. Mas hanya ingin mempertemukan Sari dengan Bapaknya," ucap Al menyadari kesalahannya. Aini dan Lina tidak menyahut sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada niat menjawab ataupun memberikan saran.


"Gimana ini, sudah mau jauh. Masa jalan kaya siput?" ucap Izal.


Masih nggak ada jawaban, dan Al juga ikutan diam merasa bersalah dengan yang dia ucapkan. Izal yang paling bingung diantara mereka karena harus menentukan sikap sendiri, jika menuruti kata Al tentu akan mendapat masalah dari istrinya pasalnya lebih memilih pendapat Al. Namun ada benarnya juga Sari ikut mendapat pelajaran kan perbuatannya jika dipertemukan dengan Pak Sarno. Alah sudahlah palingan tidak akan jauh perginya Sari, biar menjadi urusan nanti yang terpenting sekarang Izal tak kehilangan jatah malam bersama istrinya, dan bisa menyenangkan keponakan tersayang.


"Om, kenapa lambat sekali jalannya. Kapan sampainya kalau kayak begini," Alia menggerutu.


"Lin, Abang harus bagaimana? Pleace?"


"Sesuai tujuan awal kita, Bang. Membuat keponakan kita bahagia," ucap Lina.


"Siap, tuan putri. Kenapa jadi begini?"


Izal bingung suasana mobil mendadak hening tidak seperti tadi. Tadinya sangat heboh dengan candaan yang tak ada habisnya, sekarang hanya celotehan Alia yang memecah keheningan, kini kecepatan kendaraan sudah di tambah kembali normal. Al tidak berani berbicara lagi menunggu suasana hati istrinya membaik, baru saja berdamai ternyata sudah kembali muncul jurang pemisah diantara keduanya hanya dengan satu kata.

__ADS_1


"Dek, kita sudah sampai. Apa mau terdiam terus ini, tujuan awal kita ngajak jalan Alia kan? Mas Al dan Mba Aini mau ngapain kesini? Pulang saja kalau mau diam seperti itu terus?" ucap Izal tidak tahan dengan situasi. Izal memarkan mobilnya dengan lincahnya.


"Sayang, bawa Alia turun. Biarkan Mas Al dan Mba Ai seperti itu. Yuk turun ... ," ucap Izal lagi. Hari ini pembicaraan di dominasi sama Izal, Lina mengangguk dan turun dengan sigap lalu menggendong keponakannya untuk turun.


"Hap, ... kita mau kemana dulu sayang,"


"Timezone , Tan. Om Izal tungguin!"


"Gondong apa jalan sendiri, Sayang?"


"Jalan dong, Om. Tapi, ayah bunda ketinggalan, mereka belum turun,"


"Biarkan saja, bukannya kamu tujuannya mau jalan-jalan sama Om dan Tante?"


Sampai di Timezone Alia sudah asyik dengan mainannya, dengan lincah. Pandangan keduanya tidak lepas dari keponakan mengingat begitu banyak anak kecil takut tersesat.


......................


Mood Aini seketika hilang, tak ada semangat dalam dirinya. Pertahanan dia runtuh, air matanya perlahan turun tanpa permisi. Tak tau mengapa akhir-akhir ini sangat sensitif. Emosinya naik turun, terkadang dia sendiri sampai heran dengan kelakuannya sendiri.


"Maaf, Sayang. Mas tidak ada maksud mengkhawatirkan Sari. Mas hanya spontan,"


"Mas, justru yang spontan itu keluar dari hati sesungguhnya. Itu yang ada dalam alam bawah sadar. Sudahlah aku malas berdebat, aku mau turun menyusul mereka,"


"Ai, maafkan suamimu,"


"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Hanya mungkin aku yang terlalu sensitif," Aini mengurai pelukan suaminya dia mengambil tisu dan mengelapnya. Dia turun dari mobil disusul suaminya. Al mengandeng tangan istrinya dengan erat untuk menguatkan dan mengatakan bahwa dia sangat menyesal dengan ucapannya. Al sembari membawa perlengkapan untuk penawaran sebuah kerjasama, yaitu katalog yang berisi gambar produk, deskripsi, serta dilengkapi dengan perijinan baik Depkes ataupun BPOM.


Pemahaman bahasa antara laki-laki dan perempuan memang terkadang memiliki perbedaan dalam memahami sesuatu, perempuan lebih dominan menggunakan perasaan seperti yang dikatakan Aini yaitu terlalu sensitif.


"Sayang, mau menyusul anak kita apa mau ikut mas menawarkan kepada stand supermarket?"


"Ikut kamu saja, Mas. Aku nggak mau merusak suasana hati anak kita,"


"Baiklah, aku tau kamu akan berfikir yang terbaik untuk anak kita,"

__ADS_1


Al berhasil menemui bagian pemasaran, bagian pemasaran sangat tertarik dengan tawaran Al mengingat itu adalah produk lokal namun sudah memiliki perijinan yang mantap, presentasi Al juga sangat meyakinkan sehingga bagian pemasaran membawa Al untuk menemui pimpinan saat itu guna persetujuan menjalin kerjasama. Orang akan lebih suka beli produk yang sudah jelas teruji di Depkes dan BPOM. Al juga menyediakan brosur buat dibagikan kepada pengunjung nantinya. Susu kedelai menjadi alternatif bagi yang alergi terhadap susu sapi, minuman ini kaya akan manfaat baik untuk anak-anak maupun dewasa.


[Kamu dimana, Lin?] Aini mengirim pesan pada Lina.


[Anakmu masih betah disini, Mba. Di Timezone] balasan dari Lina.


[Ya sudah, aku menyusul kesitu]


[Oke, aku tunggu. Sudah lapar juga]


[Makan terus, nanti jadi bundar bagaimana]


[Biar nggak memalukan suami lah, Mba. Kalau kurus nanti dikira sering makan ati]


[Kamu lagi menyindir]


[Mana ada, Mba Sayang. Mba Aini itu bukan kurus tapi langsing. Makan apapun badan tetap ideal]


[Sudahlah, pujianmu tak akan berpengaruh apapun terhadap moodku saat ini]


[Hei ... jadi Mba masih marah?]


[Nggak marah, tapi kesal. Siapa si yang nggak kesal coba, baru saja berdamai malah dia bikin ulah]


[Tapi masih tetap cinta kan? Tidak rela jika dia melirik wanita lain? Marahnya sudah mba, nanti malah buat celah orang lain masuk dalam hati Mas Al justru bahaya kan? Jangan kelamaan]


Aku terpaku pada kata-kata Lina, ada benarnya juga kalimat Lina.


"Mas, aku ke toilet dulu ya,"


"Biar Mas temani,"


"Nggak perlu Mas, tunggu saja disitu. Mas bisa duduk santai sejenak. Aku nggak akan lama kok,"


Al menunggu di tempat duduk yang disarankan Aini dengan memainkan ponselnya. Ada seseorang wanita yang duduk disampingnya namun Al tidak menyadarinya. Dia sudah senyum-senyum sendiri disamping Al, bahkan air mineral Al sudah diambil dan diminumnya.

__ADS_1


__ADS_2