
***
Sebagaimana pahit dan getirnya setiap kehidupan yang dialami oleh manusia. Tapi waktu akan terus berjalan dan berputar. Begitu pun yang dialami oleh Dhena. Ia berusaha menjalani hari-harinya seperti air mengalir. Mengikuti setiap alur hidup yang sudah digariskan oleh Sang Maha Pengatur Segalanya.
Sudah beberapa hari ini Dhena merasa gelisah. Hatinya was-was ketika menunggu tamu bulanan yang biasanya datang secara teratur. Tapi, kini sudah sebulan lebih siklus menstruasinya agak sedikit telat.
Padahal, biasanya Dhena mendapatkan haid setiap dua Minggu sekali dengan lama waktu hingga lima belas hari. Setelah melewati masa suci yang jumlahnya sama-sama lima belas hari juga Dhena akan langsung mendapatkan haid berikutnya. Dan itu terjadi terus menerus setiap bulannya.
[Mas, nanti kalau pulang kerja tolong mampir ke apotek dulu, ya!]
Dhena mengirim pesan kepada Hariz yang masih di tempat kerja.
[Mau apa?]
Balasan chat dari Hariz.
[Tolong belikan aku tespack, ya, Mas]
[Buat apa?]
[Buat aku, lah, Mas, masa iya, buat kamu]
Dhena tertawa geli.
[Iya, nanti]
Dhena sudah terbiasa meminta tolong suaminya itu untuk membelikan barang-barang sensitif khusus milik perempuan. Seperti pembalut atau yang lainnya. Hariz pun tak masalah melakukannya.
***
Bangun tidur. Sebelum melangkah ke kamar mandi tangan Dhena meraih benda persegi panjang yang ia letakkan di meja kamar. Yung sudah dibelikan oleh suaminya kemarin siang.
Degup jantung Dhena berdebar menunggu hasil yang akan dilihatnya di benda pengecek kehamilan itu. Matanya membulat ketika garis dua terpampang pada tespack yang kini sedang ia pegang.
__ADS_1
Dhena segera menyelesaikan aktivitasnya di dalam kamar mandi. Usai menggosok gigi dan cuci muka ia mengambil air wudhu untuk menunaikan salat Subuh. Dhena keluar dari kamar mandi dengan mata sembab.
Selama ia melaksanakan kewajiban salat Subuh pun sambil diiringi oleh air matanya yang terus mengalir. Dhena merasa nelangsa dengan kenyataan yang kini sedang ia hadapi.
Seharusnya ia bahagia ketika diberi kepercayaan untuk bisa hamil yang kedua. Apalagi anak pertamanya hingga kini belum diketahui keberadaannya oleh Dhena dan Hariz.
Tapi tetap saja Dhena merasa belum siap jika dalam waktu dekat ini ia diberi kepercayaan berupa janin di dalam rahimnya. Ia belum siap jika harus memiliki buah hati kembali dari Hariz yang kini tidak bisa dimilikinya lagi secara utuh.
Buktinya, kemarin siang pun setelah mengantarkan pesanan sang istri Hariz langsung pergi kembali meninggalkan Dhena. Dengan alasan hari ini waktunya Hariz untuk menemani Nelly di rumahnya. Dhena melewati malam yang dingin tanpa suami di sisinya. Hatinya dituntut untuk ikhlas menerima kenyataan harus rela berbagi waktu dengan adik madunya.
Namun, hati Dhena sendiri lebih memilih untuk tetap berada di posisi seperti ini. Dari pada ia harus memilih menjauh dan melepaskan Hariz. Besarnya rasa cinta Dhena kepada sang suami mampu mengalahkan semua luka yang harus ia tebus dan dilalui setiap harinya. Itulah kekuatan cinta ia rela disakiti asal tetap bisa bersama dengan orang yang ia cinta.
Dhena kembali menghalau rasa sedihnya dengan menulis sebuah tulisan di salah satu situs yang menyediakan kolom curhat.
♥ Ketika Pasangan tak Seindah yang Dibayangkan ♥
Di kala masih sendiri berteman sepi. Tiada pasangan hidup yang menemani. Kita sering mengharapkan kapankah keindahan itu menghampiri diri? Sehingga dalam mengarungi hidup tak lagi sendiri, karena ada pujaan hati yang setia menemani.
Berbagai literatur tentang pernikahan kita pelajari. Sehingga sosok suami/ istri sholeh sholehah terpatri di relung hati. Bilakah waktu itu, kan, tiba? Ingin rasanya kita memberikan yang terbaik untuk pasangan.
Tatkala Sang Maha Pemberi Segalanya mentakdirkan kita mendapatkan jodoh yang sesuai dengan harapan. Kita pun melangkah ke mahligai pernikahan tanpa ragu. Kini ketika telah menjalani kehidupan rumah tangga banyak hal yang kita temui ternyata tak seindah apa yang kita bayangkan.
Sifat, karakter, selera, perbedaan pola asuh dan latar belakang keluarga yang berbeda yang semula mudah dijembatani oleh kesamaan iman, cita- cita dan cinta ternyata lambat laun menjadi pemicu perselisihan. Taman bunga yang semula nampak indah ternyata hanya singkat saja kita bisa nyaman singgah di dalamnya.
Sesungguhnya Allah telah memberikan modal dasar cinta dan kasih sayang terhadap pasangan kita namun kita sendirilah yang harus memupuknya agar cinta pasangan suami istri tumbuh dan bersemi selalu. Salah satu yang membuat menurunnya cinta dan kasih sayang terhadap pasangan adalah: BERHARAP KESEMPURNAAN DARI PASANGAN.
Padahal di awal pernikahan, pasangan kita sesungguhnya memang tidak sempurna. Pasangan kita bukanlah sosok yang bisa memenuhi semua kriteria yang kita dambakan. Dalam hal ini ada baiknya kita renungkan nasehat bijak dari Imam Syafi'i.
Jika kita membayangkan pasangan yang sempurna tetapi menikah dengan pasangan yang tak sempurna dan tetap berharap kesempurnaan, maka pilihannya ada dua :
Hapus bayangan kesempurnaan itu, dan terimalah pasangan kita sebagaimana adanya.
Atau?
__ADS_1
Campakkan pasangan kita, dan menikahlah dengan bayangan kesempurnaan yang kita damba.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Manusia itu seperti unta. Di antara 100 ekor unta, sangat sulit menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya."( HR. Bukhari Muslim).
Bagi istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang kaya raya bergelimang harta, gagah perkasa, mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan amarah, mudah memaafkan dan romantis.
Demikian pula bagi suami, hampir tidak mungkin memiliki istri yang cantik, pandai menyenangkan suami, cekatan, pandai memasak, pintar mengelola keuangan, rajin ibadah dan sifat baik lainnya.
Rasulullah SAW, menasehati kita berkenaan dengan kekurangan pasangan kita.
"Hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan mukminah. Kalau dia membenci suatu perangai pada diri istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain."
Pesan ini senada dengan firman Allah.
"Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, ( maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."( QS. An-Nisa : 19).
Ada sebuah ungkapan, "Cinta itu indah bukan mainan. Cinta tulus bukan paksaan. Karena cinta bukan hanya ungkapan. Tapi cinta juga butuh pengorbanan. Cinta sejati mendengar apa yang dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan karena cinta datang dari hati yang dalam."
Kata-kata tersebut biasanya dipakai oleh orang yang masih dalam proses ta'aruf.
Namun bila sudah melangkah dalam gerbang pernikahan, masihkah ada kelembutan dan kesopanan? Masihkah ada cinta, kasih sayang dan rindu yang menggebu?
Sebagai bumbu perekat keharmonisan rumah tangga salah satunya adalah kita harus memiliki keimanan dan kesabaran. Dengan keimanan kita yakin bahwa jodoh yang diberikan itu adalah yang terbaik menurut Allah.
Dengan kesabaran kita berusaha untuk ikhlas menerima keadaan pasangan kita untuk bersama-sama saling berbenah diri menuju pribadi yang lebih baik sehingga bisa menjalankan roda kehidupan berumah tangga dengan tentram dan damai.
Dalam memaklumi kekurangan pasangan, bukan berarti membiarkan beberapa kesalahan itu. Kita hendaklah berupaya saling menasehati dengan lembut dan bijak agar bisa bersama-sama berpegang teguh pada kebaikan dan kebenaran. Dan mencapai tujuan mencipta rumah tangga yang berkah dan bahagia.
Dhena kembali membaca ulang isi tulisannya dengan penuh penghayatan. Berharap ia bisa menutup luka hatinya dan bisa menerima kekurangan yang melekat pada diri suaminya yang hingga kini belum mampu memberikan kebahagiaan kepadanya.
Bersambung ....
__ADS_1