
Memasuki masa kehamilan Dhena yang hampir ke enam bulan membuatnya merasa sangat berat selama menjalaninya. Hari ini ia berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan sinusitis yang kembali menyerangnya. Rasa sakit di bagian wajah terutama bagian alis mata membuatnya tak bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Setelah menitipkan Fathan kepada Ningsih, Dhena menyetop angkot yang membawanya ke rumah sakit.
Turun dari angkot langkah kaki Dhena menuju bagian administrasi untuk mendaftarkan diri ke poli yang akan ditujunya.Hampir satu jam ia duduk mengantri di bagian pendaftaran menunggu namanya dipanggil.
Pemandangan di sekelilingnya sungguh membuat hatinya berdesir perih. Bagaimana tidak. Hampir semua yang sedang duduk di bangku antrian mereka semua duduk dengan pasangannya masing-masing. Hanya Dhena seorang diri yang duduk menyendiri tanpa ada sosok suami menemaninya. Karena Hariz masih harus menunggu istri keduanya dalam masa pemulihan pasca tindakan kuret.
Ingatan Dhena kembali mengembara ke masa-masa ketika ia hidup begitu harmonis dengan Hariz walaupun dihadapkan dengan keadaan ekonomi yang sang sangat susah. Jauh sebelum Hariz berkenalan dan sering mendapatkan bantuan materi dari Nelly.
Flash Back.
Tidur lelap Dhena terusik karena tetesan air yang mengenai sebagian kakinya. Ia terlonjak langsung mengambil posisi duduk di atas tempat tidur. Wanita itu meraba sebagian seprai yang sudah basah kuyup menembus kasur kapuk yang berada di dalamnya.
Dhena memandangi wajah polos anak balitanya yang sedang tertidur pulas tanpa terganggu walaupun sebagian anggota badannya sudah basah kuyup terkena tetesan air dari atap kamar yang bocor merata.
Sedangkan suara hujan di luar sana masih terdengar mengguyur deras atap rumah dibarengi dengan deru angin kencang.
"Mas, bangun dulu, Mas .... !" Dhena berkata pelan sembari menepuk tangan suami.
"Ada apa, tho, Dek?" Sang suami memicingkan matanya menahan kantuk.
"Bocor, Mas, gimana ini aku gak bisa tidur, Fathan juga sebagian badannya sudah basah." Dhena meluahkan rasa gundahnya.
"Ya, mau gimana lagi, pindah ke luar kamar juga sama aja suda pada bocor semua, kan?" jawab Hariz karena sudah tahu yang dipakai sebagai ruang tengah juga sudah bocor karena mungkin bambu penahan asbes yang digunakan sebagai atap sudah pada lapuk dan rapuh hingga paku pengunci asbesnya copot satu persatu mengakibatkan asbes melorot ke bawah sehingga atapnya terbuka dan air hujan bisa langsung masuk dengan bebasnya ke dalam rumah.
Rumah yang mereka tempati saat itu adalah rumah tua milik saudaranya Hariz yang dibiarkan kosong selama tiga tahun sebelum mereka menghuninya.
__ADS_1
Dhena sangat merasa bersyukur dan berterima kasih sekali sudah diizinkan menempati rumah itu selama hampir beberapa tahun tanpa harus membayar kontrakan. Mengingat penghasilan sang suami yang hanya mengandalkan gaji honornya dari sekolahan swasta yang angkanya di bawah nominal satu juta.
"Sudah, tidur aja dulu, ini, kan, masih malam." Hariz berusaha mengalihkan pikiran Dhena yang tidak nyaman dengan keadaan rumahnya karena kebocoran.
"Tapi, Mas, aku gak bisa tidur lagi, dalam kondisi basah begini."
"Tutupin aja bagian yang pas kebocorannya pakai selimut, biar gak langsung basah mengenai kulit," saran Hariz kemudian.
Dhena berusaha melakukan apa yang tadi disarankan oleh sang suami. Ia mulai menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut tebal. Begitupun juga dengan anak balitanya hanya ditutupin kain yang masih kering guna menutupi badannya agar tetesan air hujan tidak mengenai badan Fathan secara langsung.
Walaupun mata Dhena terasa berat menahan kantuk, tapi ia belum juga bisa memejamkan matanya kembali karena setiap kali hendak terlelap masih terasa tetesan air yang membuatnya terjaga kembali.
Entah di jam berapa akhirnya Dhena bisa tertidur kembali. Dan dibangunkan sang suami yang sudah rapi dengan sarung, baju koko, dan peci hitam di atas kepala mengajaknya untuk salat Subuh berjama'ah.
Namun, baru saja Dhena hendak turun dari tempat tidur dan menjejakkan telapak kaki di atas lantai kamar, ia terhenyak menyaksikan genangan air yang sudah memenuhi ruang kamar.
"Mas, kita salat di mana, ini?" tanyanya bingung saat hendak menghamparkan sejadah namun semua lantai dalam kondisi digenangi air.
"Di sini, udah dapet ngepel tadi. Mas juga udah salat duluan karena tempatnya gak bisa untuk berdua." Hariz menunjukan tempat di arah pojok ruang tengah yang kelihatan rada kering dan sudah tidak tergenang air.
Usai salat Subuh dengan mukena yang masih melekat dalam badannya Dhena mulai terisak. Tak mampu lagi membendung rasa nelangsa di dadanya.
"Lho, kok, nangis kenapa?" tanya Hariz terkejut saat melihat sang istri berurai air mata.
"Aku sedih, Mas, nelangsa rasanya melihat keadaan rumah yang kita tempatin seperti ini," ucap Dhena mulai tersedu.
__ADS_1
"Merasa sedih, nelangsa, sih, boleh-boleh saja, itu manusiawi. Tapi jangan sampai rasa sedih kita dengan keadaan seperti ini malah melupakan nikmat-mikmat Allah yang lainnya." Hariz berusaha menanggapi perasaan Dhena dengan begitu bijaksana.
"Waktu Mas berkunjung ke Jakarta, di sana Mas melihat ada orang sekeluarga yang menjadikan gerobak sebagai tempat tinggalnya, anak-anaknya tidur berhimpitan di dalam gerobak sempit itu, sedangkan orang tuanya tidur beralaskan kardus di atas trotoar. Kita jauh lebih beruntung dibanding mereka, di sini kita ada kamar, ada ruang tengah, dapur, kamar mandi. Sedangkan orang lain ada yang tinggalnya di kolong jembatan pinggir sungai yang beratapkan beton tanpa dinding tembok, karena tidak punya tempat tinggal yang tetap," imbuh Hariz panjang lebar.
"Tapi, tetap sedih, Mas, apalagi nanti kalau anak kita sudah bangun. Bagaimana? Gak bisa turun ke lantai karena licin, apalagi Fathan baru belajar jalan," sanggah Dhena di sela isaknya.
"Dari pada larut dengan perasaan sedih, mending kita berdoa meminta kepada yang Maha Pengatur supaya ke depannya keluarga kita diberikan rezeki yang cukup dan berkah. Apalagi sekarang sedang turun hujan termasuk ke dalam waktu mustajabnya doa," ajak Hariz kemudian.
Dhena pun mengiakan, seraya berdoa dalam hati, ' Allahumma soyiban nafi'an.' Berharap suatu hari nanti diberi jalan kemudahan untuk mendapatkan rezeki yang cukup dan berkah.
Namun, cairan bening yang dari tadi sudah mengalir di pelupuk mata Dhena menjadi semakin tumpah.
"Kenapa lagi, kok, nangis lagi?" Hariz bertanya heran.
"Aku takut, Mas."
"Takut apa?"
"Takut ... jika suatu saat nanti setelah kita diberi kesempatan hidup berkecukupan, Mas jadi lupa denganku dan anak kita."
"Astaghfirullahaladziim ... kenapa sampai mempunyai pikiran buruk seperti itu?" Sorot mata sang suami menatap tajam ke arah Dhena.
"Iya, Mas, aku takut terjadi seperti yang di cerita 'Layangan Putus' yang dulu pernah viral itu," jawab Dhena tambah sesenggukkan tak mampu menahan tangisnya.
"Istighfar, tidak baik mempunyai pemikiran jelek seperti itu, kita jalani saja kehidupan ini dengan berpersangka baik kepada Sang Maha Pengatur Takdir." Hariz mengingatkan sang istri yang saat itu terlalu terbawa perasaannya.
__ADS_1
"Ibu Dhena Kohirunnisa, poli THT."
Panggilan dari alat pengeras suara dari meja bagian administrasi membuyarkan lamunan Dhena yang sedang bernostalgia ke zaman saat ia dengan begitu sabar membersamai Hariz, suaminya beberapa tahun silam.