Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Surara dentuman yang memekakan telinga terdengar begitu keras membuat orang di sekitar reflek menghambur ke arah tempat kejadian. Untuk sekadar melihat dan memberikan pertolongan sebisa dan semampunya.


Sebagian orang berusaha menolong Nelly yang terjepit dan terperangkap di bagian jok depan di belakang kemudi. Sedangkan bagian depan mobilnya ringsek hingga sudah tak berbentuk lagi. Darah segar yang terus mengalir dari bagian kepala dan wajahnya membasahi semua pakaian yang ia kenakan. Menguarkan bau amis menyengat menusuk indera penciuman setiap orang yang mendekat ke arahnya.


Salah satu bapak-bapak kemudian mengecek keberadaan Nelly untuk memastikan jika korban sudah meninggal atau masih ada sisa napasnya, dengan menempelkan dua ruas jarinya di bagian leher Nelly dan sedikit menekan urat nadi yang berada di pergelangan tangan.


"Masih bernapas," lirih bapak itu dan meminta untuk menggotong tubuh Nelly ke mobil ambulan yang sudah datang dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Sedangkan beberapa anggota kepolisian sudah mulai memasang garis polisi di tempat kejadian perkara. Juga sekaligus mengamankan sopir truk kontainer yang tadi melajukan kendaraannya dengan ugal-ugalan dan kecepatan tinggi hingga menimbulkan terjadinya kecelakaan lalu lintas dan memakan satu korban dengan luka berat.


***


Sedangkan Hariz yang sedang menyaksikan televisi begitu tercengang ketika pembawa berita menyampaikan telah terjadi kecelakaan di jalan raya yang tak jauh dari sana dengan korban satu orang wanita berinisial N. Dengan plat nomor yang sudah dihapal oleh Hariz.


"Kenapa, Mas? Ada apa?" tanya Dhena penasaran ketika melihat sang suami memasang ekspresi wajah yang diliputi rasa terkejut.


"Ada korban kecelakaan." Hariz menjawab dengan bola mata masih terus menatap ke arah layar televisi.


"Tiap hari juga sudah biasa sering ada berita kecelakaan, pembunuhan, dan berita kriminal lainnya bikin miris sang ngeri," ujar Dhena menanggapi ucapan suaminya.


"Tapi, ini plat nomor mobilnya sama persis dengan yang tadi dikendarai oleh Nelly."

__ADS_1


"Serius, Mas?" Dhena mulai penasaran. Ia pun mendekat ke arah Hariz dan ikut menyaksikan acara berita pada sore hari itu.


Belum hilang rasa penasaran pasangan suami istri itu, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh dering ponsel milik Hariz yang diletakan di meja. Hariz menekan tombol jawab dengan tangan gemetar.


"Assalamualaikum. Ma'af, apa benar ini dengan Pak Hariz? Istri Anda tadi mengalami kecelakaan dan saat ini sudah dibawa ke rumah sakit Permata. Diharap kedatangan keluarganya sekarang juga." Suara dari seseorang dari seberang telepon sana seketika membuat Hariz terpaku.


"Kenapa, Mas?" Selidik Dhena tak sabar.


"Nelly barusan kecelakaan."


"Innalilahiwainnailahirrojiun."


"Ayo, Mas, kita ke sana sekarang," ajak Dhena kemudian.


Hariz dan Dhena mulai bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dengan sepeda motornya Hariz mulai melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang terlihat sudah semakin ramai.


Tiba di rumah sakit kedua pasangan suami istri itu hanya bisa melihat Nelly terbaring lemah di ruangan ICU dengan seluruh bagian anggota tubuhnya dibalut perban putih yang sebagian sudah mulai berlumur darah yang mungkin masih terus mengalir dari bagian lukanya.


Seluruh bagian badan Dhena gemetar menyaksikan pemandangan seperti itu. Rasa sakit yang dulu pernah ditorehkan karena kehadiran Nelly dalam rumah tangganya menguap begitu saja beganti rasa iba yang cukup mendalam saat melihat wanita itu terkapar lemah tak berdaya di ranjang pesakitan.


"Mas, kasihan Nelly," lirih Dhena kepada Hariz, sang suami.

__ADS_1


Hariz bergeming. Tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Tak lama pria itu terlihat menghubungi seseorang via telepon untuk meminta agar bisa menjaga dan menunggui Nelly selama di rumah sakit kepada salah seorang anggota keluarga wanita yang sedang terbaring lemah itu. Karena antara Hariz dan Nelly sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


***


"Mbak, aku mau sama Bunda. Aku kangen Bunda," ucap Vito kepada Mbak Nina sebagai pengasuhnya.


"Vito yang sabar, ya, do'akan saja biar bunda baik-baik saja dan cepat bisa kembali ke rumah bisa main bareng lagi sama Vito," jawab Mbak Nina yang sudah mengetahui kabar musibah itu dari budenya Nelly yang tadi dikabari oleh Hariz.


"Memang Bunda aku kenapa? Sekarang Bunda lagi di mana?" Pertanyaan beruntun yang diucapkan okeh anak laki-laki berusia enam tahun itu membuat sang pengasuhnya kebingungan bagaiman cara memberikan penjelasan yang pas untuk bisa diterima oleh anak itu.


"Aku mau ikut Bude ke rumah sakit ketemu Bunda." Vito bersikeras untuk ikut masuk ke dalam mobil budenya. Karena khawatir dengan keadaan Vito yang mulai mengeluarkan jurus nangisnya akhirnya bude Warni menyuruh Mbak Nina untuk turut serta mendampingi Vito ikut ke rumah sakit.


Tak sampai tiga puluh menit kendaraan roda empat yang dikendarai oleh bude Warni kemudian terparkir di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit swasta itu. Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang ICU tempat Nelly masih terbaring lemah tak sadarkan diri.


Vito berlari kecil ketika bola mata beningnya menangkap ada sosok Hariz yang sedang duduk gelisah di samping Dhena di tempat duduk khusus yang disediakan untuk para pengunjung. Vito langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Hariz. Meluapkan rasa rindunya kepada laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai ayah kandungnya sendiri itu.


"Ayah Hariz, kemana saja, kok, jarang pulang ke rumah Bunda? Aku, kan, kangen pengen main bareng sama Ayah," celoteh polosnya membuat hati Dhena terenyuh saat mendengar langsung ungkapan hati dari bocah laki-laki itu.


Tak sadar Dhena mengelus kepala dan rambut Vito yang kini sedang berada dalam pelukan suaminya. Hati nuraninya sebagai seorang ibu ikut merasakan bagaimana rasanya jika anak-anak nya sendiri harus mengalami nasib yang sama dengan Vito, yang sedari kecil belum pernah merasakan kasih sayang yang tulus dan utuh dari sosok ayah kandungnya. Dan, saat ini sang bunda satu-satunya orang yang selalu ada di sampingnya, yang selalu menenani hari-harinya harus terbaring dengan kondisi masih tak sadarkan diri.


"Kamu yang sabar, ya, Sayang," ucap Dhena lirih ke arah Vito.

__ADS_1


"Mas, aku kasihan sama anak kecil ini, apa kita ajak ke rumah saja sekalian biar bisa bermain bareng Fathan di rumah," ungkap Dhena kepada sang suami.


"Gak usah, Mbak. Ada Mbak Nina yang bertugas buat jagain Vito selama di rumah. Lagipula Vito harus bimbel dan TPQ juga yang gak bisa ditinggalkan," cegah bude Warni yang tak sengaja mendengar ucapan Dhena barusan.


__ADS_2