
"Berarti yang tidak boleh dijatuhkan talak itu wanita yang sedang haid dan nifas ya, Ustaz. Bukan wanita yang sedang hamil," tanya Hariz memastikan.
"Soalnya selama ini saya mengira istri yang sedang hamil itu tidak bisa dicerai," sambung Hariz melanjutkan.
"Iya Pak Hariz, kurang lebih seperti itu. Sebagaimana yang sudah saya uraikan barusan dalam hadits tadi," jawab ustaz Hasan meyakinkan.
"Terima kasih banyak, nggih, Pak Ustaz, atas ilmu yang telah Pak ustaz sampaikan kepada saya. Sekarang saya jadi bisa lebih paham lagi mengenai hukum tentang menceraikan wanita yang sedang hamil."
Setelah dirasa keperluannya sudah selesai Hariz pun berpamitan kepada tuan rumah lalu mengajak Dhena dan buah hatinya untuk segera pulang ke rumah mereka.
Kini Hariz bisa bernapas lega. Ia yakin rumah tangganya kini tak bisa diganggu dan diusik lagi oleh Nelly. Karena ia tak harus kembali rujuk lagi dengan Nelly walaupun keadaan Nelly saat ini sedang mengandung.
***
"Mas, kok, rasa mual aku gak ilang-ilang," keluh Dhena kepada sang suami.
"Obat mualnya sudah diminum belum?"
"Sudah, Mas. Tapi tetap saja gak ngaruh. Gak ada perubahan sama sekali."
Memasuki usia kehamilannya yang ke enam Minggu membuat Dhena merasa semakin banyak keluhan. Karena kini ia tak mau makan nasi. Jangankan untuk memakannya, baru sekadar mencium baunya yang menguar membuat Dhena seketika menjadi mual dan langsung muntah-muntah.
"Mas, aku gak bisa makan nasi. Baru nyium baunya saja aku udah gak tahan," ujar Dhena memberitahukan kondisinya.
"Terus mau makan apa?" tanya Hariz pelan.
"Biar nanti kalau buat makan mas sama Fathan, Mas yang masak nasi sendiri," sambungnya agar sang istri tidak merasa terbebani jika ia harus masak nasi ketika kondisinya seperti itu.
__ADS_1
"Makasih banyak, ya, Mas. Sudah mau mengerti dengan keadaanku." Dhena tersenyum senang ka arah Hariz. Wanita itu merasakan jika suaminya itu kini sudah bisa bersikap lembut dan perhatian seperti saat ia mengenalnya pertama kali.
"Gak usah mengucapkan terima kasih juga, kali. Kamu, kan, istrinya Mas. Jadi memang sudah kewajiban Mas bisa ngertiin istrinya sendiri," ucap Hariz sembari mengacak kepala Dhena.
"Sekarang mau makan apa?" Hariz kembali mengulangi pertanyaannya.
"Kupat tahu aja kali, Mas. Mudah-mudahan aku gak merasa mual lagi saat memakannya."
"Yaudah, tunggu sebentar, ya, nanti Mas cariin."
Melihat Hariz mengganti celana kolor dengan menggunakan celana panjang, Fathan yang sedang asik bermain lego kemudian menghentikan aksinya. Kemudian menatap sang ayah dengan raut muka penuh tanya.
"Ayah, Ayah mau kemana?" tanyanya antusias. Karena bocah itu sudah sangat paham. Jika ayahnya yang tadi memakai celana kolor atau celana pendek kemudian ganti dengan celana panjang ayahnya itu pasti akan ke luar rumah.
"Ayah mau keluar. Nyari makanan buat Mama," jawab Hariz.
"Tapi, Yah, kenapa Ayah setiap kali mau pergi keluar rumah, Ayah selalu ganti celana?" tanyanya polos.
"Iya, Sayang. Karena Ayah tadi, kan, pakai celana kolor pendek, jadi Ayah kalau ke luar rumah harus ganti dengan celana yang panjang."
"Kenapa harus ganti?" Bola mata beningnya memancarkan rasa penasaran yang tinggi.
"Karena kalau Ayah pake celana pendek. Lutut Ayah bisa kelihatan sama orang lain, nanti, kan, di luar rumah kita bisa bertemu dengan banyak orang," jawab sang ayah.
"Memang kalau lutut Ayah kelihatan sama orang lain kenapa gitu?" cecar Fathan.
"Itu auraot yang tidak boleh sampai terlihat oleh orang lain. Karena batas aurot laki-laki itu mulai dari pusar hingga lutut. Harus tertutup rapat jangan sampai kelihatan orang lain," papar Hariz berusaha memberikan jawaban kepada putranya yang selalu merasa penasaran dan banyak bertanya itu.
__ADS_1
"Emang kalau bagian pusar dan lututnya Ayah kelihatan orang lain kenapa, Ayah?" Fathan masih diliputi rasa penasaran.
"Nanti Ayah berdosa. Karena menutup aurot itu hukumnya wajib baik bagi perempuan ataupun laki-laki."
"Terus aurot itu apa?" Pertanyaan Fathan terus berlanjut.
"Aurot itu bagian tubuh orang dewasa yang tidak boleh kelihatan sama orang lain. Kalau laki-laki mulai dari pusar dan lututnya itu gak boleh terlihat. Kalau perempuan seluruh badan. Kecuali muka dan telapak tangannya."
"Untuk sekarang Fathan udah pake celana panjang. Jadi bisa langsung ikut Ayah. Ayu, Yah, kita berangkat," ajaknya setelah semua jawabannya yang tanpa jeda itu dijawab satu persatu oleh ayahnya.
Dhena hanya tersenyum senang mendengarkan semua celotehan putranya itu. Ia juga merasa bangga karena mempunyai suami seperti Hariz yang bisa mengajarkan tentang hukum agama kepada buah hati mereka sejak dini.
Kurang lebih lima belas menit Hariz dan Fathan kembali ke rumah dengan jinjingan keresek berisi dua bungkus kupat tahu pesanan Dhena.
Bagi Dhena sendiri kupat tahu itu merupakan makanan favoritnya semenjak ia kecil dulu. Makanan yang terdiri dari beberapa potongan tahu dan kupat serta beberapa irisan sayuran kol, dan toge dengan bumbu kacang sebagai pelengkap itu juga punya kenangan tersendiri dalam kehidupan Dhena.
Waktu Dhena berumur sekitar lima-hingga tujuh tahun ia sering ditinggal bekerja oleh sang ibu di tempat perkotaan di daerahnya sebagai asisten rumah tangga. Untuk menutupi kebutuhan dan biaya hidup mereka. Karena Dhena tidak pernah mengenal sosok sang ayah semenjak bayi. Ibunya Dhena bertahan menjadi single parent hingga Dhena duduk di bangku SD. Untuk menyenangkan hatinya Dhena itulah ibunya selalu berkata, "Ibu berangkat kerja dulu, ya, Dhen, nanti pulangnya Ibu akan bawain makanan enak buat Dhena dan Kakak Kahfi. Ibu pulangnya bawain kalian es campur sama kupat tahu," ujar Bu Aminah kala itu.
Bisa memakan makanan jenis kupat tahu itu pun bagi Dhena sudah menjadi makanan yang paling enak yang pernah mampir di lidahnya. Karena dalam keterbatasan ekonomi Dhena jarang sekali bertemu dengan jenis makanan enak lainnya. Karena sang ibu seringnya menyuguhkan anak-anaknya sarapan pagi berupa nasi hangat dicampur dengan pisang mentah yang dibakar ditaburi sedikit garam. Jadi sangat wajar ketika Dhena dibelikan dan dibawakan kupat tahu oleh ibunya ia merasa bahagia karena bisa bertemu makanan yang enak.
"Ini kupat tahunya mau dimakan sekarang, gak?" tanya Hariz membuyarkan lamunan Dhena yang sedang bernostalgia ke zaman kecilnya dulu.
"Iya, Mas, mau," jawab Dhena sembari menerima piring beling berwarna putih yang sudah terisi kupat tahu.
"Ini, kan, ada nasinya juga, kok, mau makan? Katanya gak mau makan nasi?" tanya Hariz yang merasa aneh dengan permintaan Dhena yang gak mau makan nasi tapi kalau kupat yang bahan bakunya dari nasi Dhena bisa memakannya.
"Yang aku gak mau kan, nasi, Mas. Kalau ini, kan, bukan nasi, ini kupat tahu."
__ADS_1
"Sakarepmu, ngono," ujar Hariz sambil menghampiri Fathan yang sedang bermain sepeda di luar rumah.