
Setelah kurang lebih lima belas hari melewati masa perawatan lukanya, sebagian muka dan badan Nelly sudah semakin membaik. Ia sudah bisa beraktivitas dan berani keluar rumah kembali.
Sedangkan Bu Aida sudah kembali pulang ke rumahnya sendiri diantar oleh Nelly, menantu kebangganggan dan kesayangannya yang sudah mampu memberikan limpahan materi kepada sosok ibu yang sudah berusia hampir enam puluh tahunan itu.
Sedangkan Vito sedang di tempat bimbel diantar oleh Mbak pengasuhnya.
"Nelly, Ibu minta kamu harus berusaha untuk bisa merebut hati Hariz kembali. Buat istri pertamanya itu perlahan menyingkir dari kehidupan Hariz dengan sendirinya," pesan Bu Aida ketika Nelly akan berpamitan setelah ia mengantar ibu mertuanya itu.
Mendengar saran dari sang ibu mertua Nelly hanya tersenyum ke arah Bu Aida. Karena hatinya tak yakin jika ia bisa melakukan hal seperti itu. Karena wanita berkulit putih itu ia merasa hubungannya dengan Dhena, kakak madunya itu baik-baik saja. Tanpa ada masalah yang membuat mereka saling menyakiti secara langsung.
"Jangan lupa juga, kamu harus sering main ke sini nengokin Ibu dua Minggu sekali, ya. Kalau lama-lama kita gak bertemu, Ibu suka kangen," sambung Bu Aida.
"Beda kalau Ibu sudah bertemu Dhena. Baru lihat mukanya saja hati Ibu sudah kerasa seneb aja," pungkasnya sembari mengendikkan kedua pundaknya seperti sedang melihat hal yang membuatnya geli.
Sebelum Nelly mengantar Bu Aida ke rumahnya, wanita itu mengajak mertuanya singgah terlebih dahulu di sebuah swalayan yang terletak di tepi jalan yang dilalui saat hendak ke rumah Bu Aida. Bola mata Bu Aida seketika berbinar melihat sang menantu idamannya itu memarkirkan kendaraan roda empatnya persis di halaman gedung berlantai dua yang sudah mulai dipadati oleh pengunjung.
'Tahu saja, nih, si Nelly, cara untuk membahagiakan aku, sebagai ibu mertuanya,' Perempuan setengah baya itu bersorak dalam hati kecilnya.
Kedua sepasang menantu dan mertua itu berjalan bersisian memasuki pintu utama swalayan. Tangan kanan Nelly meraih satu keranjang yang terbuat dari pelastik berwarna biru yang dibiarkan menumpuk persis di depan rak belanjaan yang berjejer rapi memanjang lurus.
Seperti biasa Nelly mulai memasukkan beberapa sembako ke dalam keranjang yang dibawanya.
"Nel, rice cooker di rumah Ibu sekarang kayaknya sudah konselt, deh, masa Ibu cuman masak nasi hampir dua jam baru mateng, kan, Ibu keburu kelaparan," tutur Bu Aida tanpa sungkan kepada menantu tajirnya itu.
__ADS_1
"Owh ya, masa, sih, Bu. Biasanya kan, setengah jam atsu paling lama satu jam doang, kan, sudah matang." Nelly menanggapi.
"Iya, kalau yang masih normal. Lha, wong itu belinya juga sudah lama sekali, Nel, jadi wajar kalai kalau sekarang sudah eror," jawab Bu Aida.
"Yaudah, Ibu gak usah khawatir nanti Nelly belikan lagi, ya," ujar Nelly tersenyum, meyakinkan sang Ibu mertua. Kemudian wanita dengan tinggi seratus enam puluh lima itu pun melenggang ke tempat khusus barang-barang elektronik. Sedangkan Bu Aida mengekor di belakangnya sambil menyunggingkan senyum kemenangan.
'Kamu itu memang tipe menantu idaman seluruh ibu mertua di Indonesia ini, Nelly. Selain cantik, tajir, gak pelit lagi,' batin wanita setengah baya itu memuji Nelly.
Nelly mengambil benda penanak nasi yang bermerk mahal dan membawanya mendekat ke arah sang ibu mertua yang sedang memandangi beberapa barang yang dipajang berjejer di rak yang menempel pada dinding tembok.
"Yang ini Ibu suka?" tanyanya memastikan. Khawatir Ibu mertuanya itu merasa kecewa jika barang yang diinginkannya tak sesuai dengan harapan.
"Wash ... Itu, kan, yang bermerek mahal Nel, yakin kamu mau belikan buat Ibu yang itu? Ibu nyari yang biasa aja lah, Nel." Bu Aida berbasa-basi.
"Iya, iya, Ibu suka banget yang ini. Makasih, ya, Nak. Semoga rezekimu tambah banyak dan berkah." Bu Aida menggenggam jemari Nelly mengungkapkan kegirangannya.
Bu Aida merasa menang banyak setelah Hariz, anak laki-lakinya itu menikah dengan Nelly. Kehidupannya menjadi berubah drastis. Gaya hidupnya pun otomatis berubah mengikuti trend seperti gaya ibu-ibu pejabat dan ibu-ibu sosialita yang perekonomiannya menengah ke atas. Wanita yang dulu rajin pergi ke tempat kajian itu kini lebih menyukai dan betah berlama-lama main di tempat pusat perbelanjaan dibanding mendengarkan siraman rohani atau tausiyah dari para ustaz dan kiai di tempat tinggalnya yang sudah rutin dilaksanakan setiap seminggu sekali.
Memasuki usia sepuhnya itu Bu Aida jadi semakin berambisi untuk bisa menikmati kemewahan dan materi berlimpah yang sudah tanpa disadari telah menyeretnya ke jurang pemisah antara dirinya dengan agama. Mata hati Bu Aida seakan sudah tertutup untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga ia mengabaikan perasaan hati Dhena sebagai menantu pertamanya dengan menghadirkan Nelly kembali dalam kehidupan Hariz di tengah keluarga kecilnya.
"Bu Aida? Belanja di sini juga, kah? sapa seseorang dari arah samping ketika melihat Bu Aida sedang menimang-nimang barang yang akan dibelikan oleh menantunya.
"Eh, Bu Sofi, iya jeng. Ini tadi aku diajak mampir ke sini tuh sama istrinya Hariz. Menantuku yang satu ini, tuh, wah luar biasa deh, pokoke. Gak salah Hariz menjadikannya sebagai istrinya." Tanpa diminta Bu Aida terus nyerocos sendiri tanpa jeda.
__ADS_1
Bu Shofi memicingkan matanya ke arah wanita tinggi yang berdiri beberapa meter di belakang Bu Aida.
"Wanita itu menantu Bu Aida?" tanyanya ragu. Jari telunjuknya mengarah ke arah Nelly.
Bu Aida menganggukkan kepalanya cepat. Meyakinkan pertanyaan dari temannya itu.
"Sebentar-sebentar, bukannya istrinya Hariz itu Dhena, ya? Itu, kan, orang lain bukan Dhena," sangkal Bu Shofi dengan wajah yang diliputi tanda tanya.
"Iya, serius, kok, jeng Sofi, dia tuh, namanya Nelly istri Hariz yang sekarang."
"Waah, ganti menantu lama dengan menantu tajir nih, kelihatannya, ya?" sindir Bu Shofi sambil tertawa cekikikan.
"Ilmu saya selama ini berhasil meracuni pikiran Bu Aida ya, ternyata." Bu Shofi masih tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan satu tangan sambil terus meledek Bu Aida yang malah ikut cekikikan bareng di sana.
"Eh, ngomong-ngomong, Bu Shofi ke sini bareng siapa?" tanya Bu Aida penasaran. Matanya melirik liar ke semua arah memastikan ada seseorang yang ikut bersama Bu Shofi.
"Ada deh, rahasia dong," jawab Bu Shofi yang sudah berumur lima puluh tahun tapi gaya dan sifatnya seperti anak-anak perempuan ABG.
"Lah, pake main rahasia-rahasiaan segala macam kaya sama siapa saja. Atau jangan-jangan Bu Shofi sudah ganti gandengan lagi, tho?" selidik Bu Aida kemudian.
Obrolan ibu-ibu setengah tua itu pun terjeda ketika Nelly mengajak mertuanya untuk segera ke meja kasir dan membayar semua barang yang tadi sudah diambilnya.
"Awas, hati-hati, lho, Mbak. Jangan sampai mau diporotin terus sama Bu Aida," ledek Bu Shofi kepada Nelly yang sedang tersenyum ramah ke arahnya.
__ADS_1
Bu Aida mendelikkan bola mata cekungnya ke arah Bu Shofi sambil berlalu pergi.